Jonatan Christie dkk diminta untuk menambah porsi latihan setelah tak ada juara All England 2019 di tunggal putra. (Images via Reuters)
Pemerintah Vietnam mengambil langkah drastis dengan memberlakukan kebijakan darurat berupa penghapusan pajak lingkungan untuk berbagai jenis Bahan Bakar Minyak (BBM). Keputusan ini, yang resmi diumumkan pada Jumat, 27 Maret 2026, merupakan respons langsung terhadap lonjakan harga BBM yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Eskalasi ini telah mengganggu rantai distribusi energi global dan menimbulkan ancaman signifikan terhadap stabilitas ekonomi domestik Vietnam.
Penghapusan pajak hingga mencapai nol persen ini mencakup bensin, diesel, dan bahan bakar pesawat. Kebijakan sementara ini akan berlaku efektif mulai akhir Maret hingga pertengahan April 2026. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga daya beli masyarakat yang tertekan akibat kenaikan harga, sekaligus memastikan kelancaran operasional sektor industri yang sangat bergantung pada pasokan energi yang stabil di tengah situasi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, telah secara resmi menandatangani Keputusan Nomor 482/QD-TTg pada Kamis, 26 Maret 2026. Dokumen ini secara eksplisit menghapus pajak lingkungan menjadi 0 per liter untuk bensin, solar, dan bahan bakar pesawat.
Selain itu, kebijakan ini juga menetapkan Pajak Konsumsi Khusus sebesar 0 persen. Untuk lebih memperlancar arus logistik dan mempercepat proses impor, pemerintah juga memberikan pembebasan kewajiban deklarasi Pajak Pertambahan Nilai di pelabuhan-pelabuhan impor. Fasilitas ini dapat diakses melalui penggunaan kode pabean khusus yang telah ditentukan, yaitu VK240.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk respons cepat dan adaptif terhadap kondisi global yang bergejolak. Pernyataan kementerian menegaskan bahwa langkah ini adalah solusi mendesak yang dirancang untuk menstabilkan pasar energi dan menjamin pasokan energi nasional. Hal ini menjadi krusial terutama di tengah situasi konflik yang terjadi di Selat Hormuz, yang telah menyebabkan kemacetan distribusi energi terbesar dalam sejarah.
Keputusan penghapusan pajak ini berlaku mulai tanggal 26 Maret 2026 hingga 15 April 2026. Selama periode tersebut, pemerintah akan terus memantau secara seksama perkembangan situasi pasar internasional untuk menentukan langkah selanjutnya.
Langkah darurat yang diambil oleh Vietnam ini merupakan konsekuensi langsung dari krisis energi global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 telah memberikan pukulan telak terhadap distribusi energi global. Perdagangan sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang setara dengan seperlima dari total konsumsi dunia, terhambat secara signifikan.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan drastis, menembus angka 100 dolar AS per barel. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kenaikan harga bahan bakar secara umum, tetapi juga memicu kelangkaan pasokan diesel dan bahan bakar pesawat di pasar Asia, termasuk Vietnam.
Dampak krisis energi ini dirasakan sangat kuat di ibu kota, Hanoi. Kondisi yang memburuk bahkan mendorong kementerian terkait untuk mengeluarkan imbauan kepada para pelaku usaha agar menerapkan sistem kerja dari rumah (WFH) secara lebih luas. Tujuannya adalah untuk menghemat cadangan bahan bakar nasional yang dilaporkan semakin menipis, demi memastikan pasokan tetap tersedia untuk kebutuhan yang lebih prioritas.
Kebijakan penghapusan pajak BBM ini telah menunjukkan efektivitasnya dalam menurunkan harga eceran. Harga bensin RON 95 tercatat turun menjadi 24.330 dong Vietnam per liter, sementara bensin E5 RON 92 menjadi 23.320 dong Vietnam per liter. Meskipun kebijakan ini berhasil meredam laju inflasi, negara diperkirakan akan mengalami kehilangan pendapatan yang cukup besar. Estimasi awal menunjukkan kerugian pendapatan sekitar 7,2 triliun dong Vietnam per bulan selama periode penerapan kebijakan ini.
Perdana Menteri Pham Minh Chinh menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah memastikan tidak ada kekurangan energi atau bahan bakar dalam kondisi apa pun. Hal ini penting untuk meminimalkan dampak negatif dari krisis global terhadap manajemen ekonomi makro negara.
Sebagai bentuk dukungan tambahan dan untuk memperkuat ketahanan pasokan energi, pemerintah telah mengesahkan dana talangan sebesar 8 triliun dong Vietnam. Dana ini akan dialokasikan untuk memperkuat Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar. Tujuannya adalah untuk menjamin ketersediaan stok bahan bakar di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seluruh negeri, serta untuk mencegah praktik penyelundupan bahan bakar di wilayah-wilayah perbatasan yang rentan.
Langkah-langkah ini mencerminkan keseriusan pemerintah Vietnam dalam menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks akibat gejolak geopolitik global.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…