Mudik Viral: Pedagang Siomay Berjalan Kaki dari Cilacap ke Pemalang

Perjalanan Naluri dan Keberanian Seorang Pedagang Siomay

Seorang pedagang siomay asal Pemalang, Edi Rasidi, memilih untuk mudik dengan cara yang tidak biasa. Ia nekat melakukan perjalanan jalan kaki sambil mendorong gerobak jualannya dari Cilacap ke Pemalang. Jarak antara dua kota tersebut mencapai lebih dari 130 kilometer. Dengan target perjalanan selama lima hari lima malam, Edi ingin menunaikan nazar yang ia ikrarkan setelah mengalami kecelakaan pada kakinya.

Awal Perjalanan dan Tujuan

Edi Rasidi (50), seorang pedagang siomay dari Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memutuskan untuk menjalani perjalanan ini sebagai bentuk pengabdian. Ia merantau ke Cilacap dan harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk bisa sampai ke kampung halamannya di Pemalang. Aksi unik ini dilakukan semata-mata untuk menunaikan nazarnya setelah dirinya pernah mengalami kecelakaan pada kakinya.

Bacaan Lainnya

Perjalanan dimulai pada Senin (16/3/2026) sekira pukul 06.00. Edi berjalan kaki sambil mendorong gerobak siomay miliknya. Di gerobak itu tertulis tulisan “Aja Ngeluh Ora Due Duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara Makmur Go Kasab Angel Temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap – Pemalang.”

Perjalanan yang Penuh Tantangan

Kecelakaan yang dialami Edi terjadi saat ia terjatuh dari motor. Saat itu, satu kakinya tidak bisa berjalan. Dalam kondisi tersebut, Edi sempat bernazar bahwa jika ia bisa sembuh dan bisa kembali berjalan, ia akan pulang kampung dengan jalan kaki. Kini, setelah kakinya pulih, nazar itu benar-benar ia jalankan.

Perjalanan ini bukan hanya sekadar pulang kampung, tetapi juga menjadi bagian dari rencana hidupnya ke depan. Gerobak siomay yang didorongnya bukan sekadar alat berdagang, tetapi juga bagian dari rencana untuk membawanya kembali ke kampung halaman agar bisa menjual siomay di sana.

Selama perjalanan, Edy membawa bekal yang sangat sederhana, yaitu tekad. Ia bahkan hanya membawa uang saku Rp 40 ribu saat memulai perjalanan. Di sepanjang perjalanan, dia sesekali mendapat bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan. Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekira satu sampai tiga orang yang langsung membantu.

Pengalaman Merantau dan Motivasi

Edy baru enam bulan merantau di Sampang Cilacap. Ia tinggal sendiri di sana dengan menyewa kamar kos. Keputusan merantau itu diambil karena ingin mencoba pengalaman baru. Sebelum merantau ke Sampang, Edy sebenarnya sudah lama berjualan siomay di kampung halamannya di Pemalang. Ia membuat sendiri semua bahan siomay yang dijualnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penghasilan dari berjualan siomay tidak menentu.

Meski begitu, menurutnya hasil tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Perjalanan mudik ini juga menjadi momen penting baginya untuk kembali berkumpul dengan keluarga. Di rumah, masih ada orangtua, istri, dan anak yang menunggu kepulangannya.

Jalur dan Tantangan yang Dihadapi

Selama perjalanan, Edy memilih jalur utama agar lebih mudah dilalui gerobaknya. Ia memperhitungkan tantangan-tantangan yang akan dihadapi, seperti tanjakan di jalur menuju Pemalang, terutama di Purbalingga. Total ada enam tanjakan, yang paling ekstrem ada empat, terutama di Bayeman dan Karangreja. Itu panjang dan cukup berat.

Dalam perjalanan, Edy biasanya beristirahat dan bermalam di masjid. Sejauh ini dia sudah singgah di beberapa tempat. Untuk malam-malam berikutnya, dia juga berencana kembali beristirahat di masjid. Meski sedang menjalani perjalanan panjang, Edy tetap berusaha menjalankan ibadah puasa.

Harapan dan Keberhasilan

Edi menjalani perjalanan ini dengan harapan sederhana, yaitu sampai di kampung halaman, menunaikan nazar, dan kembali berkumpul bersama keluarga pada momentum Lebaran. Ia berjalan menggunakan sandal dan tidak terbiasa menggunakan sepatu. Ia juga tidak membawa dagangan selama perjalanan karena menilai akan menyulitkan.

Sebelum memulai perjalanan, ia masih sempat berjualan. Terakhir jualan malam Senin, sebelum berangkat pagi. Kini, dengan gerobak siomay yang terus ia dorong perlahan, Edi menjalani perjalanan panjang itu dengan semangat dan harapan besar.

Pos terkait