Blunder Menlu AS: Serang Iran Demi Israel?

Pernyataan Menteri Luar Negeri AS Picu Kontroversi Serangan ke Iran

Pemerintahan Amerika Serikat tengah dilanda gelombang kritik tajam menyusul pernyataan mengejutkan dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio terkait keputusan waktu serangan ke Iran. Pernyataan yang dilontarkan pada Senin, 2 Maret 2026, tersebut mengindikasikan bahwa serangan AS ke Iran tidak murni didorong oleh ancaman keamanan nasional, melainkan dipicu oleh rencana serangan Israel terhadap Teheran.

Rubio secara gamblang menyebutkan bahwa Amerika Serikat memutuskan untuk bertindak lebih dulu setelah pihaknya “mencium” rencana Israel untuk menggempur Iran. Ia berdalih bahwa jika AS tidak segera mengambil langkah bersama Israel, pasukan Amerika yang berada di Timur Tengah akan menjadi sasaran empuk serangan balasan dari Iran.

Bacaan Lainnya

“Kami tahu Israel akan bertindak. Kami juga tahu tindakan itu bakal memicu serangan balasan terhadap pasukan kami,” ujar Rubio dalam keterangannya di Capitol Hill. “Jika kami tidak bergerak duluan, korban di pihak kami akan jauh lebih besar.”

Pernyataan ini sontak memicu kegaduhan dan menuai berbagai kecaman dari berbagai kalangan.

Analisis dan Kecaman Publik

Para analis politik menilai pengakuan Rubio sebagai bukti nyata bahwa Amerika Serikat telah “terjebak” dalam agenda politik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai prioritas dan otonomi kebijakan luar negeri AS.

  • Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan kekecewaan mereka. “Ini adalah pengakuan yang mencengangkan. Amerika Serikat ternyata tidak menyerang Iran karena adanya ancaman langsung terhadap kedaulatan kita, melainkan karena tekanan dan kepentingan Israel,” bunyi pernyataan tersebut.

Kritik tidak hanya datang dari kubu oposisi. Kalangan pendukung Presiden Donald Trump dari gerakan Make America Great Again (MAGA) juga menyuarakan ketidaksenangan mereka.

  • Influencer pro-Trump, HodgeTwins, melalui media sosial, menegaskan bahwa para pemilih Trump tidak pernah memberikan suara agar tentara Amerika Serikat harus mengorbankan nyawa demi mendukung perang Israel. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran di kalangan pendukung garis keras Trump yang menginginkan fokus kebijakan luar negeri AS lebih pada kepentingan domestik dan keamanan nasional AS secara langsung.

Menyadari dampak negatif yang ditimbulkan oleh pernyataan bawahannya, Presiden Donald Trump berusaha memberikan narasi yang berbeda. Dalam konferensi pers pada Selasa, 3 Maret 2026, Trump berkilah bahwa serangan tersebut dilakukan murni demi keamanan nasional Amerika Serikat.

“Mereka (Iran) bersiap menyerang Israel dan pihak lainnya,” ujar Trump. “Saya tidak mau kita hanya duduk diam menunggu diserang.”

Namun, hingga berita ini diturunkan, pemerintah AS belum mampu menyajikan bukti intelijen yang solid mengenai adanya ancaman serangan langsung dari Iran terhadap aset-aset Amerika Serikat dalam waktu dekat. Ketiadaan bukti yang kuat ini semakin memperkuat keraguan publik dan para kritikus terhadap justifikasi serangan tersebut.

Panggilan Telepon Trump-Netanyahu yang Mengubah Lanskap Timur Tengah

Di balik kontroversi pernyataan Marco Rubio, terungkap adanya koordinasi intensif antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelum serangan dilancarkan. Panggilan telepon kunci terjadi pada Senin, 23 Februari 2026, hanya beberapa hari sebelum serangan mematikan di Iran.

Dalam percakapan telepon tersebut, Netanyahu menginformasikan kepada Trump mengenai jadwal pertemuan penting Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta para penasihat utamanya. Pertemuan ini dijadwalkan akan berlangsung di satu lokasi di Teheran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026.

Percakapan telepon pada 23 Februari ini, yang dilakukan dari Ruang Situasi Gedung Putih dan baru terungkap sekarang, menjadi momen krusial yang memicu keputusan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Informasi ini menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh banyak pihak, termasuk anggota parlemen, skeptis dari kalangan MAGA, dan para pemimpin dunia: mengapa serangan dilakukan pada saat itu?

Jawaban yang muncul adalah bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan lingkaran dalamnya merupakan target yang sangat menggiurkan, yang tidak ingin dilewatkan oleh Trump maupun Netanyahu.

Menurut laporan dari media Axios, Presiden Trump sudah memiliki kecenderungan untuk menyerang Iran bahkan sebelum menerima informasi intelijen baru mengenai Khamenei. Panggilan telepon pada 23 Februari itu merupakan bagian dari koordinasi yang lebih luas dan intensif selama berbulan-bulan antara kedua pemimpin negara tersebut.

Amerika Serikat dan Israel telah mempertimbangkan untuk melancarkan serangan seminggu sebelum hari Sabtu tersebut, namun urung dilakukan karena berbagai pertimbangan intelijen dan operasional, termasuk kondisi cuaca yang buruk.

Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh CIA, atas arahan langsung dari Presiden Trump, berhasil mengkonfirmasi informasi mengenai keberadaan Khamenei yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh intelijen militer Israel. Persiapan serangan kemudian dipercepat ketika Trump memberi tahu Netanyahu bahwa ia akan mempertimbangkan untuk melanjutkan rencana tersebut. Namun, ada jeda sebelum keputusan akhir diambil, yaitu pidato kenegaraan presiden yang dijadwalkan pada malam berikutnya.

Para pejabat AS menjelaskan bahwa Trump membuat “keputusan yang disengaja” untuk tidak terlalu menyoroti isu Iran menjelang pidato tersebut. Tujuannya adalah agar tidak menimbulkan kecurigaan dan membuat Khamenei bersembunyi sebelum serangan dapat dilaksanakan.

“Jika Anda memutuskan ingin melakukan diplomasi, kami akan mendorong dan berjuang untuk mendapatkan kesepakatan,” kata seorang pejabat AS yang mengetahui secara langsung isi percakapan telepon tersebut. “Tetapi orang-orang ini menunjukkan kepada kami bahwa mereka tidak bersedia membuat kesepakatan yang akan memuaskan Anda.” Pernyataan ini mengindikasikan adanya pandangan bahwa Iran tidak menunjukkan niat baik untuk bernegosiasi secara substantif.

Pos terkait