Kasus penembakan yang menewaskan Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun, di Minneapolis, Amerika Serikat, pada tanggal 24 Januari 2026, masih menjadi sorotan publik. Insiden ini memunculkan berbagai pertanyaan, terutama terkait dengan senjata api yang dibawa oleh Pretti saat kejadian berlangsung.
Perhatian utama tertuju pada pistol Sig Sauer P320 kaliber 9 mm yang dipegang oleh Pretti. Diketahui bahwa Pretti aktif dalam berbagai aksi protes terhadap keberadaan Badan Imigrasi dan Federal (ICE) di Minneapolis. Ia juga dikenal sebagai penentang kebijakan imigrasi yang diterapkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Pada saat kejadian, Pretti diduga berupaya menghentikan agen federal yang sedang menangkap seorang wanita di jalan, dan saat itulah ia membawa pistol tersebut.
Menurut keterangan kepolisian, Pretti memiliki izin resmi untuk membawa senjata api secara legal. Sebuah rekaman video dari lokasi kejadian memperlihatkan seorang agen federal berteriak “pistol” sebelum merebut senjata dari tangan Pretti. Setelah berhasil merebut senjata, agen tersebut tampak berjalan menjauh. Namun, tiba-tiba, agen lain muncul dan melepaskan beberapa tembakan yang langsung menewaskan Pretti di tempat kejadian.
Rob Doar, seorang pengacara dari Minnesota Gun Owners Caucus, memberikan pandangannya terkait insiden ini. Ia menduga bahwa ada kemungkinan pistol Pretti meletus secara tidak sengaja setelah direbut oleh agen federal. “Saya percaya bahwa senjata Pretti meletus setelah agen itu mengambilnya, yang kemudian mendorong agen lain untuk membuka tembakan,” ujarnya.
Pistol Sig Sauer P320 memang dikenal luas dan digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari warga sipil bersenjata hingga aparat penegak hukum di Amerika Serikat, termasuk ICE. Namun, model senjata ini juga memiliki catatan kontroversial. Lebih dari 100 tuduhan terkait cacat produksi telah dialamatkan kepada Sig Sauer P320. Cacat produksi ini diduga memungkinkan senjata untuk menembak tanpa adanya interaksi langsung dari pengguna.
Setelah insiden penembakan, pihak berwenang merilis foto pistol Pretti. Foto tersebut menunjukkan bahwa magasin senjata dalam kondisi terisi penuh. Senjata yang digunakan Pretti diduga merupakan varian kustom kelas atas, yaitu P320 AXG Combat. Varian ini dilengkapi dengan tiga magasin berkapasitas 21 peluru dan dijual dengan harga yang cukup tinggi, berkisar antara 1.100 hingga 1.300 dollar AS.
Mantan Presiden AS, Donald Trump, turut memberikan komentarnya terkait insiden ini. Ia mengunggah foto pistol Pretti di platform media sosial miliknya, Truth Social. Dalam unggahannya, Trump mempertanyakan alasan Pretti membawa senjata api yang sudah terisi peluru saat menghadiri demonstrasi.
“Ini adalah senjata milik penembak, dalam kondisi terisi (dengan dua magasin tambahan yang juga penuh), dan siap digunakan. Apa maksudnya semua ini? Di mana polisi setempat? Mengapa mereka tidak diizinkan melindungi petugas ICE? Wali kota dan gubernur memerintahkan mereka mundur?” tulis Trump dalam unggahannya.
Trump bahkan berspekulasi bahwa aparat kepolisian setempat sengaja ditarik dari lokasi kejadian oleh pejabat dari Partai Demokrat, termasuk Gubernur Minnesota, Tim Walz, dan Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey.
Meskipun Pretti memiliki izin untuk membawa senjata api, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan bahwa membawa senjata api dalam aksi demonstrasi atau pengamatan publik dianggap sebagai tindakan yang melanggar hukum.
Kasus dugaan tembakan tidak disengaja pada pistol Sig Sauer P320 bukanlah hal baru. Sebelumnya, kasus serupa juga pernah muncul dalam proses hukum. Pada bulan November 2021, juri di Philadelphia memutuskan untuk memberikan kompensasi sebesar 11 juta dollar AS kepada seorang veteran Angkatan Darat AS bernama George Abrahams. Kompensasi ini diberikan setelah pistol milik Abrahams, yang tersarung, meletus saat ia menuruni tangga. Akibat kejadian tersebut, Abrahams mengalami cedera permanen pada kaki.
Pengacara penggugat, Robert W Zimmerman, menyatakan bahwa pihaknya telah meminta Sig Sauer selama lebih dari tiga tahun untuk menarik kembali senjata tersebut, memperbaikinya, dan menggunakan sistem pengaman yang sama seperti yang digunakan oleh produsen lain.
Sig Sauer, sebagai produsen senjata yang berbasis di New Hampshire, membela produk P320 mereka. Dalam pernyataan di situs resminya, Sig Sauer menyebut P320 sebagai salah satu pistol yang paling banyak diuji, paling terbukti, dan paling sukses dalam sejarah terkini.
Pada bulan April 2025, seorang eksekutif Sig Sauer, Bobby Cox, berhasil melobi parlemen negara bagian New Hampshire untuk mengesahkan undang-undang yang melindungi perusahaan senjata dari gugatan tanggung jawab hukum terkait pistol P320. Gubernur dari Partai Republik, Kelly Ayotte, menandatangani aturan tersebut pada bulan Mei 2025. Namun, aturan ini menuai keberatan dari sejumlah anggota Partai Demokrat yang berpendapat bahwa Sig Sauer seharusnya tetap diuji melalui pengadilan.
Sig Sauer menyatakan bahwa masalah teknis pada P320 telah diperbaiki dan menegaskan bahwa insiden tembakan tidak disengaja sangat jarang terjadi jika dibandingkan dengan jutaan unit pistol yang telah diproduksi.
Berita Terpopuler di Jambi: Sumur Kering hingga Tragedi Sungai Berikut adalah rangkuman berita terpopuler di…
Persib Bandung, yang saat ini berada di puncak klasemen Super League 2025/2026 dengan 64 poin,…
Pemerintah Kaji Skema Pembiayaan Tambahan untuk Penerbangan Haji 1447 Hijriah Pemerintah melalui Kementerian Haji dan…
PKB Beri Ruang Luas untuk Kader Muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menunjukkan komitmen kuatnya dalam…
Antusiasme Peserta dan Komentar dari Berbagai Kalangan Gelaran Kemala Run 2026 mendapatkan respons yang sangat…
Kementerian Keuangan Dorong Pemanfaatan Insentif PPh Pasal 21 DTP Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan perhatian khusus…