Sabtu, 21 Februari 2026, menandai hari Sabtu dalam masa usai Rabu Abu. Hari ini Gereja memperingati Santo Petrus Damianus, seorang Uskup dan Pujangga Gereja, serta Santa Irene, seorang Pengaku Iman. Liturgi hari ini menggunakan warna ungu, melambangkan masa pertobatan dan persiapan. Umat Katolik diajak merenungkan bacaan suci yang mendalam, yang puncaknya adalah perjumpaan Yesus dengan Lewi, seorang pemungut cukai, sebagaimana tercatat dalam Injil Lukas.
Bacaan pertama hari ini diambil dari Kitab Yesaya 58:9b-14, yang menggarisbawahi pentingnya belas kasih dan keadilan sosial. Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan yang berjanji akan memberkati mereka yang menunjukkan kepedulian terhadap sesama, terutama yang membutuhkan.
“Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu, dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah; apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”
Pesan ini menekankan bahwa tindakan kebaikan dan kemurahan hati bukan hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membawa berkat dan pencerahan bagi diri sendiri. Tuhan berjanji akan senantiasa menuntun, memuaskan hati di tanah yang tandus, dan membaharui kekuatan. Mereka yang hidup dalam kebenaran dan keadilan akan disebut sebagai pemulih dan pembawa kedamaian. Lebih lanjut, firman Tuhan mengingatkan pentingnya menghormati hari Sabat, menjadikannya hari kenikmatan dan kemuliaan Tuhan, bukan hari untuk urusan pribadi atau omong kosong. Ketaatan pada perintah ini akan membawa sukacita dan berkat yang berlimpah dari Tuhan.
Tuhan akan memberi makan dari pusaka nenek moyang kita, Yakub, sebab mulut Tuhan sendirilah yang menjanjikannya.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 86:1-2, 3-4, 5-6
Refrain: “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.”
Mazmur ini adalah seruan doa yang memohon bimbingan Tuhan dalam menghadapi kesulitan hidup. Pemazmur mengakui kerapuhan dan ketergantungannya pada Tuhan, memohon belas kasihan dan keselamatan. Dengan hati yang berseru sepanjang hari, ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan, mengakui kebaikan dan pengampunan-Nya yang berlimpah bagi semua yang berseru kepada-Nya.
Bait pengantar Injil hari ini berasal dari Yehezkiel 33:11, yang menegaskan belas kasih Tuhan terhadap orang berdosa.
Refrain: “Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.”
“Aku tidak berkenan akan kematian orang fasik, melainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.”
Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak menghendaki kebinasaan orang berdosa, melainkan keselamatan mereka melalui pertobatan.
Bacaan Injil hari ini, Lukas 5:27-32, menceritakan momen krusial ketika Yesus memanggil Lewi, seorang pemungut cukai, untuk menjadi murid-Nya. Profesi pemungut cukai pada zaman itu identik dengan dosa, keserakahan, dan pengkhianatan terhadap bangsa. Namun, Yesus melihat melampaui label sosial tersebut.
“Sekali peristiwa Yesus melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, ‘Ikutlah Aku!’ Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.”
Panggilan Yesus yang singkat namun penuh kuasa ini mengubah hidup Lewi secara radikal. Ia segera bangkit, meninggalkan pekerjaannya yang menguntungkan, dan seluruh identitas lamanya untuk mengikuti Sang Guru.
Setelah itu, Lewi mengadakan sebuah perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya. Perjamuan ini dihadiri oleh banyak pemungut cukai dan orang-orang lain yang makan bersama Yesus. Tindakan ini menimbulkan reaksi negatif dari kalangan Farisi dan ahli Taurat. Mereka menggerutu kepada murid-murid Yesus, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Menanggapi kritik tersebut, Yesus memberikan jawaban yang mendalam dan tegas:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Jawaban Yesus ini menjadi inti dari pemahaman kita tentang belas kasih Allah dan hakikat pertobatan. Ia datang bukan untuk orang yang merasa suci dan tidak membutuhkan pengampunan, melainkan untuk mereka yang menyadari kerapuhan dan dosanya, serta rindu akan penyembuhan.
Renungan hari ini berfokus pada tema “Yesus Memanggil Orang Berdosa: Rahmat yang Mengubah Hidup”, berdasarkan bacaan Injil Lukas 5:27-32.
Setiap manusia memiliki masa lalu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seringkali, kita ingin memperbaiki atau bahkan menyembunyikan bagian-bagian hidup kita yang kelam. Namun, Injil hari ini memberikan penghiburan dan tantangan: Yesus tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk memanggil kita.
Yesus memanggil Lewi, seorang pemungut cukai yang dianggap hina oleh masyarakat. Panggilan ini mengguncang pandangan religius yang kaku. Lewi tidak “layak” di mata manusia, namun justru di situlah rahmat Allah bekerja. Panggilan pertobatan Katolik bukanlah tentang masa lalu yang bersih, melainkan hati yang mau dibaharui.
Hal pertama yang perlu direnungkan adalah cara Yesus memandang Lewi. Masyarakat melihatnya sebagai simbol ketidakadilan dan keserakahan. Namun, Yesus melihat lebih dalam, melihat hati yang mampu berubah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung menilai orang dari label dan reputasi. Kita bahkan sering menilai diri sendiri dengan cara yang sama, merasa tidak pantas atau terlalu jauh dari Tuhan.
Yesus memanggil Lewi “apa adanya”, bukan setelah ia bertobat, tetapi agar ia bertobat. Rahmat Allah selalu mendahului pertobatan.
Panggilan Yesus kepada Lewi, “Ikutlah Aku,” singkat namun penuh kuasa. Tanpa syarat yang rumit, hanya sebuah undangan yang mengubah hidup. Respons Lewi pun radikal: ia meninggalkan segalanya.
Pertanyaan reflektif muncul bagi kita: Apa “meja cukai” dalam hidup kita? Apa yang menahan kita untuk mengikuti Tuhan dengan sungguh? Yesus tidak selalu menuntut kita meninggalkan pekerjaan secara harfiah, tetapi Ia memanggil kita meninggalkan mentalitas lama, kebiasaan dosa, dan cara hidup yang tidak sesuai dengan Injil.
Setelah mengikuti Yesus, Lewi mengadakan perjamuan besar. Ini menjadi simbol sukacita pertobatan. Yesus hadir di tengah orang berdosa, berbagi hidup dengan mereka. Inilah wajah Gereja yang sejati: tempat penyembuhan, bukan penghakiman. Pertobatan adalah perjumpaan yang melahirkan sukacita baru, bukan sekadar rasa bersalah.
Reaksi orang Farisi menunjukkan bahaya merasa diri benar hingga lupa mengasihi. Mereka taat hukum, tetapi kehilangan hati Allah. Yesus menolak sikap eksklusif yang menutup pintu rahmat. Sabda-Nya, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit,” adalah kritik tajam terhadap iman yang hanya mementingkan penampilan lahiriah.
Pertanyaan reflektif: Apakah kita lebih sering menjadi tabib atau hakim? Apakah komunitas iman kita menjadi tempat penyembuhan atau penghakiman?
Yesus menegaskan misi-Nya: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Ini adalah inti dari Yesus sebagai sahabat orang berdosa. Pertobatan bukan syarat untuk datang kepada Tuhan, melainkan hasil dari datang kepada-Nya apa adanya untuk disembuhkan.
Di era modern, banyak orang merasa jauh dari Gereja karena merasa tidak layak. Namun, Injil hari ini menegaskan bahwa Gereja adalah rumah bagi mereka yang terluka, gagal, dan mencari arah.
Di tengah dunia digital yang penuh tekanan, banyak orang terjebak dalam dosa modern: keserakahan, kecanduan, kebencian, kepalsuan identitas, dan kehilangan makna hidup. Injil Lukas 5:27-32 sangat relevan karena mengingatkan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar dari rahmat Allah.
Yesus terus memanggil kita: di tengah rutinitas kerja, di balik layar ponsel, dalam kelelahan rohani, dan dalam rasa bersalah yang tersimpan lama. Panggilan-Nya tetap sama: “Ikutlah Aku.”
Lewi tidak langsung menjadi sempurna setelah mengikuti Yesus. Ia memulai perjalanan baru, sebuah proses panjang menjadi murid Kristus. Demikian pula dengan kita. Dalam spiritualitas Katolik, pertobatan adalah jalan seumur hidup. Kita jatuh, bangkit, belajar, dan bertumbuh. Yang terpenting adalah terus berjalan bersama Yesus. Renungan ini mengajak kita untuk tidak menyerah pada kegagalan, melainkan mempercayakan hidup pada Tabib sejati.
Panggilan Lewi mengingatkan kita bahwa setiap orang dipanggil, setiap luka bisa disembuhkan, dan setiap hidup memiliki tujuan dalam rencana Allah. Yesus tidak mencari orang yang tampak suci, tetapi hati yang mau diubah. Ia memanggil kita bukan untuk tinggal dalam dosa, melainkan untuk bangkit dan mengikuti-Nya. Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk berani meninggalkan “meja cukai” kita masing-masing dan melangkah bersama Kristus dalam jalan pertobatan yang penuh rahmat.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…