Categories: Opini

Pers & Dahlan Dahi: Imajinasi, Perilaku, dan Kekuatan Informasi

Kekuatan Informasi dalam Membentuk Bangsa dan Tantangan Industri Media di Era Digital

Informasi memegang peranan krusial dalam membentuk cara pandang, sikap, bahkan menentukan arah masa depan sebuah bangsa. Lebih dari sekadar alat komunikasi, informasi adalah kekuatan dahsyat yang membentuk imajinasi kolektif masyarakat, yang pada akhirnya memengaruhi perilaku sosial dan politik secara mendalam.

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi, menekankan bahwa informasi secara langsung mempengaruhi apa yang terlintas di benak kita. Hal ini disampaikannya dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional (HPN) 2026, yang disiarkan melalui kanal YouTube Direktorat Jenderal Komunikasi dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Dahlan, yang juga menjabat sebagai CEO Tribun Network, menjelaskan bahwa kemampuan masyarakat untuk bersatu, berkolaborasi, dan mengambil keputusan bersama sangat bergantung pada informasi yang mereka terima dan percayai. “Informasi tidak hanya membentuk imajinasi kita, tapi mempengaruhi behavior, tentang pilihan-pilihan kita,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa informasi secara langsung memengaruhi pilihan-pilihan konkret masyarakat, mulai dari keputusan konsumsi hingga pilihan politik. “Kita mendukung atau kita menolak. Dia mempengaruhi tindakan kita,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dahlan mengajak para peserta konvensi untuk merenungkan konsep negara sebagai sebuah konstruksi imajinatif yang terus hidup berkat reproduksi informasi yang berkelanjutan. Menurutnya, eksistensi negara bukanlah sesuatu yang bersifat fisik seperti benda mati, melainkan terus dihidupkan melalui simbol, ritual, dan institusi. “Bhinneka Tunggal Ika itu juga imajinasi, bahwa berbeda itu baik. Tapi kita bisa lupa,” katanya mengingatkan.

“Jadi yang saya mau bilang adalah bahwa kalau informasi kita berubah, kolektif imajinasi kita berubah, maka nasionalisme kita juga bisa berubah. Dan mungkin generasi setelah kita tidak akan menyaksikan Indonesia seperti yang kita saksikan hari ini,” tandasnya di hadapan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dan Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat.

Disrupsi Ganda Industri Media Massa

Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti kondisi industri media massa yang tengah menghadapi tantangan besar. Ia menyatakan bahwa industri ini telah mengalami dua kali disrupsi atau perubahan besar yang membuatnya berada dalam posisi yang goyah.

“Pertama internet, yang membuat media tradisional bermigrasi ke digital. Lalu kedua teknologi baru seperti artificial intelligence (AI). Dalam dua disrupsi ini industri media goyang, sempoyongan, dan mencoba mencari bentuk yang baru,” paparnya.

Strategi Kelangsungan Hidup Industri Media

Menghadapi gelombang disrupsi ini, Nezar memberikan pandangannya mengenai strategi agar industri media tetap eksis dan relevan. Ia menekankan pentingnya fokus pada “non-replicable journalism” atau jurnalisme yang tidak dapat direplikasi.

“Saya kira kita harus fokus pada non-replicable journalism. Jadi jurnalisme yang enggak bisa direplikasi. Jurnalisme saat ini kalau kita lihat di platform-platform baik search engine atau media sosial, semua konten nyaris seragam,” ungkapnya.

Nezar mengingatkan bahwa jika media massa hanya memproduksi pemberitaan yang bersifat generik atau biasa-biasa saja, mesin AI akan dengan mudah mengolah seluruh data tersebut dan merangkumnya. “Sehingga hampir tidak ada kekhasan apa pun, yang kita baca bukan jurnalistik, namun hanya ringkasan. Itu beda,” tegasnya.

Ia melanjutkan, “Kalau kita baca karya jurnalisme, kita menemukan ada banyak sisi, kita menemukan disiplin klarifikasi, kita menemukan wajah-wajah manusia yang diberitakan.”

Lebih lanjut, Nezar mengapresiasi perkembangan pesat dalam dunia jurnalisme, terutama dalam hal keterampilan jurnalis dalam membangun narasi atau story telling yang mampu membangkitkan sisi human interest dalam sebuah informasi. Kemampuan ini menjadi salah satu pembeda krusial antara konten jurnalistik otentik dan ringkasan otomatis yang dihasilkan oleh AI.

Implikasi Informasi dalam Pembentukan Identitas Nasional

Konsep negara, seperti yang disampaikan oleh Dahlan Dahi, pada dasarnya adalah sebuah konstruksi imajinatif yang hidup dan bernapas melalui aliran informasi. Keberadaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari batas geografis atau infrastruktur fisik semata, melainkan juga dari kesepakatan kolektif tentang nilai-nilai, simbol, dan cita-cita bersama. Simbol-simbol nasional seperti bendera, lagu kebangsaan, dan moto negara, serta ritual-ritual kenegaraan dan institusi yang ada, semuanya berfungsi sebagai perekat imajinatif yang menjaga kohesi sosial.

Pernyataan Dahlan mengenai “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai sebuah imajinasi yang menekankan kebaikan dalam perbedaan, juga menggarisbawahi betapa rapuhnya fondasi imajinatif ini jika tidak terus-menerus dipelihara dan diperkuat melalui informasi yang tepat. Potensi untuk “lupa” atau abai terhadap nilai-nilai fundamental ini selalu ada, terutama di era di mana arus informasi begitu deras dan beragam.

Perubahan dalam kualitas dan kuantitas informasi yang diterima oleh masyarakat dapat secara langsung memengaruhi cara mereka memandang identitas nasional mereka. Jika informasi yang beredar cenderung memecah belah, mengikis rasa persatuan, atau menyajikan narasi yang menyimpang dari sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa, maka tidak mengherankan jika rasa nasionalisme pun dapat terkikis. Hal ini menjadi peringatan serius bagi generasi saat ini, karena keputusan dan tindakan mereka dalam mengelola informasi akan sangat menentukan nasib dan wajah Indonesia di masa depan yang akan disaksikan oleh generasi penerus.

Menjawab Tantangan AI: Jurnalisme yang Mendalam dan Berkarakter

Munculnya kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap penyebaran informasi secara drastis. Kemampuannya untuk memproses dan merangkum data dalam skala besar memang mengagumkan, namun juga membawa ancaman bagi keberlangsungan jurnalisme yang otentik. Ketika sebagian besar media hanya mengandalkan penyampaian berita yang dangkal dan mudah direplikasi, AI akan dengan mudah mengonsumsi dan menyajikannya kembali dalam bentuk ringkasan yang nyaris tanpa perbedaan.

Oleh karena itu, fokus pada “non-replicable journalism” menjadi kunci. Ini berarti jurnalisme yang tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga menggali lebih dalam, melakukan verifikasi mendalam, menyajikan konteks, dan memberikan perspektif yang unik. Jurnalisme semacam ini melibatkan:

  • Investigasi Mendalam: Mengungkap isu-isu yang kompleks dan tersembunyi yang tidak dapat dijangkau oleh mesin pencari atau AI.
  • Analisis Kritis: Memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang suatu peristiwa, bukan sekadar melaporkan kejadian.
  • Kisah Manusia (Human Interest): Menampilkan sisi kemanusiaan dari setiap berita, dengan menyoroti dampak peristiwa pada individu dan komunitas. Ini melibatkan wawancara mendalam, penggambaran emosi, dan cerita yang menyentuh hati.
  • Disiplin Klarifikasi: Proses verifikasi fakta yang ketat dan upaya untuk mendapatkan konfirmasi dari berbagai pihak, sebuah tahapan yang seringkali terlewatkan oleh algoritma AI.
  • Perspektif Unik: Menyajikan sudut pandang yang berbeda, interpretasi yang cerdas, dan opini yang berdasar dari para ahli atau jurnalis yang berpengalaman.

Perkembangan keterampilan jurnalis dalam seni bercerita (story telling) menjadi semakin penting. Kemampuan untuk merangkai fakta menjadi narasi yang menarik, emosional, dan informatif adalah aset yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Jurnalisme yang baik tidak hanya memberitahu, tetapi juga membuat pembaca merasakan, berpikir, dan terhubung secara emosional dengan subjek berita. Dengan demikian, industri media dapat terus relevan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital dan kemajuan AI.

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Astaga, lahan KAI untuk rusun Tanah Abang diserobot pihak lain

Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…

1 hari ago

Denada & Ressa: Haru Bertemu dalam Tangis

Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…

1 hari ago

Ben Kasyafani Pilih Jadi Sahabat untuk Sienna Saat Putuskan Lepas Hijab, Ini Alasannya

Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…

1 hari ago

Mengapa Lulusan RPL Jadi Incaran di Dunia Teknologi?

JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…

1 hari ago

Veda Sadar Diri, Juara Red Bull Rookies Cup Tampil Gesit di COTA

Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…

1 hari ago

5 Fakta Mencengangkan Persib Bandung Kalahkan Semen Padang: 2 Rekor Tak Terduga, Bintang Persija Terpengaruh

Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…

1 hari ago