Masjid Lautze: Oase Dakwah Islam di Jantung Pecinan Jakarta
Di tengah hiruk pikuk kawasan Pecinan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, berdiri sebuah mercusuar syiar Islam yang unik dan konsisten. Yayasan Haji Karim Oie, melalui Masjid Lautze, telah menjadi garda terdepan dalam menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang inklusif dan merangkul. Di antara deretan pertokoan yang ramai, sebuah bangunan dengan arsitektur khas Tiongkok, berhiaskan warna merah dan kuning yang mencolok, menjadi saksi bisu perjalanan dakwah yang tak pernah padam selama tiga dekade terakhir.
Masjid Lautze, yang beralamat di Jalan Lautze Nomor 87-89, bukanlah masjid pada umumnya. Sejak didirikan pada tahun 1991, bangunan ini telah memancarkan aura berbeda. Tidak ada kubah megah yang menjadi ciri khas masjid pada umumnya. Sebaliknya, arsitekturnya yang kental dengan nuansa Tionghoa justru menjadi daya tarik tersendiri. Operasionalnya pun menyesuaikan ritme kehidupan kawasan pecinan di sekitarnya, menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi yang luar biasa.
Semangat Pembauran dalam Ajaran Islam
Keunikan Masjid Lautze tidak hanya terletak pada fisiknya, tetapi juga pada misi dakwah yang diemban sejak awal pendiriannya. Pendirinya, almarhum Haji Karim Oie, menanamkan nilai pembauran sebagai inti dari ajaran Islam. Masjid ini senantiasa menyuarakan bahwa dalam Islam, tidak ada istilah pribumi atau non-pribumi. Semua manusia adalah setara di hadapan Allah SWT, asalkan memiliki keimanan yang teguh. Semangat inklusivitas inilah yang terus dijaga dan diperjuangkan oleh pengurus masjid.
Kunjungan pada Sabtu sore (21/2) menjelang waktu salat Ashar memperlihatkan suasana khidmat. Para jamaah mulai berdatangan, menjalankan ritual wudhu, dan duduk bersila dengan tenang menanti panggilan adzan. Salat Ashar berjamaah pun segera dilaksanakan, dipimpin oleh seorang imam yang akrab disapa Ustaz Naga.
Yusman Iriansyah, salah seorang pengurus takmir masjid yang telah lama mengabdi, berbagi kisah tentang Masjid Lautze. Ia bukan hanya sekadar pengurus, melainkan juga seorang pembimbing bagi banyak jamaah yang memutuskan untuk memeluk Islam. Berdasarkan catatan Yayasan Haji Karim Oie, lebih dari dua ribu orang telah mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Lautze, mayoritas di antaranya adalah keturunan Tionghoa.
“Baik yang ada di sekitar sini maupun orang-orang Tiongkok dari negeri Tiongkok datang ke sini,” ujar Yusman, menyoroti jangkauan dakwah masjid ini.
Ramadhan Penuh Makna di Masjid Lautze
Bahkan di bulan Ramadhan tahun ini, tercatat empat orang yang bertekad menjadi mualaf dengan bimbingan dari pengurus Masjid Lautze. Yusman menekankan bahwa setiap keputusan untuk memeluk Islam dilakukan atas dasar kesadaran penuh, tanpa adanya paksaan sedikit pun. Mereka datang dengan kerendahan hati, meminta untuk dibimbing mempelajari ajaran Islam, dan bersama-sama berusaha menjadi seorang muslim yang baik.
“Memang kehadiran kami sengaja di lingkungan pecinan, lingkungan orang-orang keturunan Tionghoa memang dalam rangka memudahkan saudara kita dari kalangan kalangan Tionghoa yang ingin mengenal Islam, berdiskusi tentang Islam, tanya-tanya tentang Islam,” jelas Yusman lebih lanjut mengenai strategi dakwah mereka.
Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Lautze tidak hanya menyelenggarakan salat Jumat, tetapi juga menggelar acara buka puasa bersama dan salat Tarawih. Namun, tradisi Tarawih di sini memiliki kekhasan tersendiri. Berbeda dengan kebanyakan masjid yang melaksanakannya setiap malam, di Masjid Lautze, salat Tarawih hanya dilaksanakan seminggu sekali, yaitu setiap Sabtu malam atau malam Minggu.
Tarawih Estafet dan Imam Mualaf
Keunikan lain dari salat Tarawih di Masjid Lautze adalah sistem imamnya yang bergantian setiap dua rakaat. Sistem ini dikenal sebagai “imam estafet”. Yang lebih menarik lagi, para imam Tarawih ini adalah para mualaf yang baru saja belajar dan menghafal surat-surat pendek.
“Tarawih di Masjid Lautze itu khasnya ya imam tarawihnya estafet begitu. Estafetnya dua rakaat ganti imam, dua rakaat ganti imam. Imamnya itu mualaf-mualaf semua. Mualaf-mualaf yang baru kami ajarkan hafalan surat-surat pendek,” ungkap Yusman dengan bangga.
Setiap pelaksanaan Tarawih, lima orang imam disiapkan untuk memimpin delapan rakaat salat Tarawih dan tiga rakaat salat Witir. Selain kegiatan Tarawih mingguan, Masjid Lautze juga membuka pintunya lebar-lebar selama sepuluh hari terakhir Ramadhan bagi jamaah yang ingin melaksanakan i’tikaf dan memperdalam ibadah mereka.
Kini, jejak dakwah Masjid Lautze tidak hanya terbatas di Jakarta. Terdapat dua masjid serupa yang telah berdiri di Cirebon dan Bandung, membawa semangat dan misi yang sama. Dengan segala keunikan dan kekhasannya, Masjid Lautze telah menjelma menjadi oase spiritual bagi keturunan Tionghoa yang haus akan pengetahuan tentang Islam. Ia juga menjadi rumah yang hangat bagi mereka yang telah mantap membulatkan tekad untuk memeluk agama Islam. Semua Masjid Lautze, di mana pun lokasinya, terus membawa syiar dan jalan dakwah yang sama: merangkul keberagaman melalui pembauran.







