Emas Antam: Lonjakan Harga Buyback 15,84% Jelang Senin

Jakarta – Harga jual kembali (buyback) emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) terus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Hingga Senin, 9 Februari 2026, tercatat lonjakan sebesar 15,48% untuk periode berjalan tahun ini.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Logam Mulia pada hari yang sama, harga buyback emas Antam mengalami kenaikan sebesar Rp28.000, mencapai angka Rp2.734.000 per gram. Meskipun demikian, posisi ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) yang pernah dicapai pada Januari 2026, yaitu sebesar Rp2.989.000 per gram.

Bacaan Lainnya

Memahami Konsep Buyback Emas

Transaksi buyback emas merujuk pada proses menjual kembali emas, baik dalam bentuk batangan logam mulia maupun perhiasan, kepada pihak penjual awal. Umumnya, harga yang ditawarkan dalam transaksi buyback cenderung lebih rendah dibandingkan dengan harga jual emas pada saat transaksi dilakukan. Namun, peluang keuntungan tetap terbuka lebar jika terdapat selisih harga yang cukup besar antara harga jual awal dan harga buyback.

Aturan Pajak dalam Transaksi Buyback

Penting untuk dicatat bahwa penjualan kembali emas batangan kepada Antam memiliki implikasi pajak. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas dengan nilai transaksi melebihi Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Besaran pajaknya adalah 1,5% bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3% bagi yang tidak memiliki NPWP. PPh Pasal 22 ini akan dipotong secara langsung dari total nilai transaksi buyback.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Emas

Harga buyback emas Antam tidak bergerak dalam ruang hampa. Nilainya sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga logam mulia di pasar global. Pada awal perdagangan Senin, 9 Februari 2026, harga emas di pasar spot sempat menunjukkan penguatan hingga 1,6%. Sekitar pukul 07.57 WIB, harga emas terpantau naik 1,17% dan diperdagangkan di level US$5.022,58 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas berjangka di Comex AS juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,18%, atau setara dengan 58,7 poin, mencapai level US$5.038,70 per troy ounce.

Sentimen Politik dan Ekonomi Global

Penguatan harga emas pada pagi itu turut mendapatkan dorongan dari faktor politik global. Kemenangan telak Perdana Menteri petahana Jepang, Sanae Takaichi, dalam pemilihan umum memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan fiskal yang lebih longgar. Hal ini juga memberikan tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar yen Jepang, yang secara umum menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga emas.

Meskipun pada penutupan perdagangan Jumat lalu harga emas masih berada sekitar 11% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada 29 Januari, logam mulia ini tetap berhasil mencatatkan kenaikan impresif sekitar 15% sejak awal tahun.

Selain faktor politik, para pelaku pasar juga tengah menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data-data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh Federal Reserve (The Fed). Laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Januari, yang dijadwalkan rilis pada Rabu, diperkirakan akan menunjukkan tanda-tanda stabilisasi di pasar tenaga kerja. Selanjutnya, data inflasi AS yang akan menyusul pada hari Jumat juga menjadi sorotan utama.

Potensi Keuntungan dan Pertimbangan Investasi

Meskipun harga emas Antam masih belum mencapai rekor tertingginya, tren kenaikan yang terus berlanjut memberikan sinyal positif bagi para investor. Kenaikan harga buyback sebesar 15,48% dalam periode singkat menunjukkan potensi keuntungan yang menarik, terutama bagi mereka yang memiliki emas dan berencana untuk menjualnya kembali.

Namun, penting bagi investor untuk selalu memantau pergerakan harga emas global dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Memahami aturan perpajakan terkait transaksi buyback juga krusial untuk menghitung potensi keuntungan secara akurat.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Melihat dinamika pasar saat ini, para analis memperkirakan bahwa harga emas akan terus menunjukkan volatilitas yang menarik. Sentimen politik global yang belum sepenuhnya stabil, ditambah dengan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia, berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Oleh karena itu, bagi para investor yang memiliki strategi jangka panjang, emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang patut dipertimbangkan. Namun, diversifikasi portofolio dan manajemen risiko yang baik tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian pasar.

Pos terkait