Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, baru-baru ini memicu gelombang kecaman dari berbagai negara Arab setelah pernyataannya yang menyiratkan hak historis Israel atas sebagian besar wilayah Timur Tengah berdasarkan tafsir Alkitab. Pernyataan ini muncul dalam sebuah wawancara dengan jurnalis AS, Tucker Carlson, yang kemudian memicu diskusi luas dan reaksi keras dari komunitas internasional, terutama dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Huckabee, yang sebelumnya dikenal sebagai pendeta Baptis dan pendukung kuat Israel, dilantik sebagai Duta Besar AS untuk Israel pada April 2025. Dalam wawancara tersebut, Carlson mengorek lebih dalam makna sebuah ayat Alkitab yang sering ditafsirkan sebagai klaim Israel atas tanah membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Suriah dan Irak. Ketika didesak mengenai hal ini, Huckabee menjawab, “Tidak apa-apa jika mereka mengambil semuanya.” Meskipun ia kemudian mencoba melunakkan pernyataannya dengan menyebutnya sebagai “pernyataan yang agak hiperbolis” dan bahwa Israel “tidak meminta untuk mengambil semuanya,” dampak dari ucapan awalnya sudah terlanjur menyebar dan menimbulkan kegelisahan.
Negara-negara Arab secara kolektif mengutuk keras pernyataan diplomat Amerika tersebut.
Kecaman tidak hanya datang dari negara-negara individual, tetapi juga dari organisasi regional dan internasional yang memiliki perhatian besar terhadap stabilitas Timur Tengah.
Ahmed Aboul Gheit, Sekretaris Jenderal Liga Arab, secara terpisah mengutuk klaim Huckabee, menyebutnya bertentangan dengan prinsip dan norma diplomasi yang paling mendasar. Ia menyatakan di X bahwa pernyataan tersebut tidak sejalan dengan kebijakan dan posisi resmi Amerika Serikat, dan tampaknya bertujuan untuk menarik perhatian kelompok sayap kanan di Israel.
Aboul Gheit memperingatkan bahwa pernyataan ekstremis semacam itu, yang tidak memiliki dasar hukum atau politik, dapat “mengobarkan sentimen keagamaan dan nasional” pada saat negara-negara sedang berupaya untuk menerapkan perjanjian perdamaian Gaza dan meluncurkan kembali proses politik yang serius.
Menanggapi kontroversi yang timbul, Huckabee menerbitkan dua unggahan di X pada hari Sabtu. Namun, unggahan tersebut lebih berfokus pada klarifikasi posisinya mengenai topik lain yang dibahas dalam wawancara, dan tidak secara langsung membahas pernyataannya mengenai ayat Alkitab.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Israel, Amir Ohana, justru memuji Huckabee di X atas sikap pro-Israelnya secara umum dalam wawancara tersebut. Ohana bahkan menuduh Tucker Carlson melakukan “kebohongan dan manipulasi.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri pernah menyatakan pada Agustus lalu kepada saluran berita i24 bahwa ia merasa “sangat terikat” pada visi Israel Raya. Ia menggambarkan dirinya “berada dalam misi historis dan spiritual,” yang mencakup generasi Yahudi yang bermimpi datang ke Tanah Suci dan generasi mendatang.
Istilah “Israel Raya” dalam konteks politik Israel merujuk pada perluasan wilayah yang mencakup Tepi Barat, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan Suriah. Beberapa interpretasi bahkan meluas hingga mencakup Semenanjung Sinai di Mesir dan sebagian wilayah Yordania, sebuah konsep yang terus menjadi sumber ketegangan dan perdebatan di kawasan tersebut. Pernyataan Huckabee ini tampaknya menyentuh kembali isu sensitif yang berakar pada klaim historis dan aspirasi politik di Timur Tengah.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…