Memaknai Ramadhan di Tengah Kelelahan: Sebuah Refleksi dari Masjid HM Takdir Hasan Saleh
Makassar – Suasana Subuh di Masjid HM Takdir Hasan Saleh pada Sabtu pagi, 21 Februari 2026, telah diisi oleh kehadiran beberapa jamaah. Di teras masjid, Ammank Abdurrahman dari Gading Tata Asri tampak bangkit berdiri. Di dalam, seorang jamaah lainnya khusyuk dalam posisi iftirasy, menunggu waktu iqamah yang tersisa beberapa menit lagi. Jam digital di dekat mimbar menunjukkan pukul 01.15 menuju seruan kedua salat berjemaah.
Ardi, dengan semangat yang tak sabar, telah beranjak ke depan mimbar untuk melantunkan lafadz iqamah. Tak lama kemudian, Ustad Suardi Palasa maju ke mihrab, siap memimpin salat. Di belakangnya, tampak M Basri Gaffar, Ketua Pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh, diikuti oleh HM Ilyas dan Dedi Karyadi, yang semuanya berasal dari tiga kompleks perumahan bertetangga di Jalan Daeng Tata IV, Parangtambung, Tamalate, Makassar: Gading Tata Asri, Griya Tata Asri, dan Villa Tata Asri. Ketiga kompleks ini, meskipun berdekatan, dihuni oleh ratusan kepala keluarga, belum termasuk warga di sekitar jalan dan lorong.
Salat Subuh dua rakaat pun dimulai. Ustad Suardi Palasa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, mengawali rakaat pertama dengan enam ayat awal Surat Al-Anfal, dilanjutkan dengan bacaan dari surah di juz 30 pada rakaat kedua. Setelah salat, saat Ustad Suardi Palasa berjalan menuju pintu keluar, ia memanggil, “Mana Pak Jaya!”. Yang dipanggil adalah Andi Arwijaya, Sekretaris Pengurus Masjid HM Takdir Hasan Saleh.
Percakapan singkat pun terjadi. Suardi Palasa berpamitan untuk menuju Jeneponto karena ada keluarga yang meninggal. Muhammad Yusuf yang mendengar percakapan tersebut, terkekeh mendengar ungkapan khas Suardi Palasa. Sementara itu, beberapa jamaah lainnya memilih untuk tetap berada di masjid, berdzikir dan mengaji hingga pukul 06.00 Wita. Di bagian belakang, anak-anak sekolah dasar terlihat asyik bermain gawai.
Prediksi yang Meleset: Kebiasaan Jamaah di Bulan Ramadhan
Malam sebelumnya, Jumat (20/2/2026), Ustad H Syahrir Rajab SPd dalam ceramah tarawihnya di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, menyampaikan sebuah prediksi mengenai pola kehadiran jamaah di bulan Ramadhan. Ia mengamati bahwa jumlah jamaah salat Magrib dan Isya biasanya lebih banyak daripada Subuh. Begitu pula, jamaah Isya lebih banyak dari Jumat, dan jamaah Tarawih di awal Ramadhan seringkali memenuhi shaf masjid, namun semakin menyusut menjelang akhir bulan.
“Ke mana semua jamaah itu menjelang akhir Ramadhan?” tanyanya retoris, menggarisbawahi fenomena yang seringkali terjadi.
Ustad Syahrir Rajab, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Daerah Muhammadiyah Gowa dan Ketua Umum Pengurus Wilayah Hizbul Wathan Sulsel, menguraikan kebiasaan (habitus) jamaah salat berjamaah, terutama di bulan suci ini. Ia juga mengingatkan jamaah untuk tidak terlalu memperdebatkan perbedaan awal Ramadhan.
“Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan melaksanakan ibadah pada malam ketiga Ramadhan, atau keempat bagi yang memulai pada tanggal 18, ini. Meski kondisi hujan, hingga halaman masjid kita ini seperti sedang pameran payung,” ujarnya, menggambarkan kondisi saat itu.
Ia melanjutkan, “Ramadhan kali ini kita berbeda di awal lagi. Lalu siapa yang benar, apakah yang lebih awal atau yang lebih akhir? Jawabannya yang salah adalah yang tidak berpuasa.”
Dalam ceramahnya yang berlangsung hingga pukul 20.36 Wita, Syahrir Rajab mengajak jamaah untuk menjaga konsistensi salat berjamaah, mengingatkan kembali tentang kecenderungan jamaah yang membeludak di awal Ramadhan namun perlahan menghilang seiring waktu.
Sebelum ceramah tarawih, Faika Nurhusnah, mahasiswi semester pertama UIN Alauddin Makassar, mengumumkan laporan kotak amal malam sebelumnya dan daftar pembawa takjil buka puasa untuk Sabtu petang. Ia juga memperkenalkan penceramah tarawih dan mempersilakannya naik ke mimbar.
Ramadhan dan Burnout yang Tak Disadari
Kekhawatiran Ustad Syahrir Rajab bukanlah tanpa dasar. Konsistensi dalam beribadah, berbuat baik, dan bersikap ramah sebagai makhluk sosial memang masih menjadi tantangan besar. Fenomena di Masjid HM Takdir Hasan Saleh, baik pada jamaah tarawih maupun Subuh, bukanlah kesalehan heroik yang dipicu oleh motivasi eksternal seperti poster atau slogan. Sebaliknya, hal ini lebih mencerminkan kebiasaan, atau dalam istilah sosiologi disebut habitus.
Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, mendefinisikan habitus sebagai tindakan yang dilakukan tanpa perlu dipikirkan ulang karena telah menjadi bagian dari tubuh sosial. Warga dari Gading Tata Asri, Griya Tata Asri, dan Villa Tata Asri tidak perlu lagi menegosiasikan ulang soal salat Subuh berjamaah; Jalan Daeng Tata IV menjadi semacam koridor sunyi tempat mereka bergerak menuju masjid dengan kesadaran yang mendalam. Habitus tidak lahir dari ceramah, melainkan dari pengulangan.
Prediksi Ustad Syahrir Rajab tentang pola jamaah yang semakin berkurang menjelang akhir Ramadhan kembali terbukti. Memasuki pertengahan bulan, shaf mulai berjarak, meskipun jamaah masih banyak. Wajah-wajah yang sama terlihat, namun tidak selengkap di pekan pertama. Pada fase ini, salat Tarawih berubah watak, dari ajang kehadiran massal menjadi semacam seleksi alam yang sunyi. Siapa yang bertahan, akan terus hadir; siapa yang gugur, akan menghilang tanpa jejak. Tidak ada pengumuman, tidak ada absensi, dan tidak ada rasa bersalah yang diumumkan. Masjid tetap membuka pintu, tidak bertanya ke mana mereka yang absen. Tarawih pada tahap ini menjadi kebiasaan individual dalam ruang kolektif, bukan lagi pesta sosial.
Keikhlasan: Obat Mujarab untuk Kelelahan yang Tak Terucap
Ustad Syahrir Rajab tidak sedang menghakimi, melainkan membaca grafik sosial yang polanya selalu berulang setiap tahun. Ia kembali menyinggung perbedaan awal Ramadhan, dan ketika jamaah menunggu jawaban atas pertanyaan “siapa yang benar?”, ia memberikan penegasan yang melegakan: “yang salah adalah yang tidak berpuasa.” Senyum pecah di antara jamaah, beban polemik seketika luruh, membebaskan Ramadhan dari pertengkaran administratif.
Pada titik inilah Ramadhan kembali berperan dalam proyek besar yang sering terlewatkan: menyuburkan masyarakat yang kelelahan (burnout society). Masyarakat kita lelah, namun seringkali tidak memiliki waktu atau cara untuk mengakuinya. Siang hari disibukkan dengan target pekerjaan, malam hari dengan Tarawih yang menjaga ritme sosial, dan dini hari memaksa bangun untuk sahur. Energi spiritual di awal Ramadhan terasa melimpah, masjid penuh, suara tadarus nyaring, dan wajah-wajah penuh antusiasme. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh mulai menagih haknya; yang berkurang bukan niat, melainkan daya tahan. Hasrat untuk ke masjid berubah menjadi hasrat untuk berbelanja.
Menghadapi realitas ini, Syahrir Rajab tidak menawarkan solusi manajerial atau efisiensi ibadah. Ia menawarkan sesuatu yang dalam dunia modern terdengar abstrak: keikhlasan. “Memang sangat melelahkan,” katanya terus terang, “Tapi kita semua melakukannya dengan ikhlas karena adanya pahala yang dilipatgandakan.”
Bertahan Melalui Keikhlasan: Mengubah Makna Kelelahan
Dalam logika masyarakat modern, kelelahan biasanya diatasi dengan istirahat atau pengurangan beban. Namun, Ramadhan justru sebaliknya: menambah ritme, memperketat jadwal, dan memperpanjang jam kesadaran. Di sinilah keikhlasan berperan, bukan sebagai motivasi, melainkan sebagai mekanisme bertahan.
“Jika amalan biasa dilipatgandakan ganjarannya hingga 70 kali,” ujar Syahrir Rajab, “puasa berlipat ganda lebih dari 70 kali, sesuai janji Allah SWT.” Dari perspektif sosiologis, keikhlasan bukan sekadar menerima keadaan dengan pasrah. Ia adalah cara mengalihkan fokus dari kelelahan fisik ke makna spiritual. Ia bukan menghapus lelah, melainkan membuat lelah itu bisa ditanggung. Keikhlasan bukanlah analgesik instan, melainkan sebuah reframing: mengubah cara tubuh dan jiwa membaca rasa letih, menjadikannya bermakna.
Antara Burnout dan Makna
Burnout terjadi bukan semata karena beban kerja yang berlebihan, tetapi karena kerja kehilangan makna. Ramadhan, melalui narasi pahala dan keikhlasan, berusaha mengembalikan makna tersebut, meskipun dengan bahasa yang sederhana. Salat Tarawih yang melelahkan menjadi masuk akal karena terhubung dengan keutamaan pahala. Sahur yang membuat mengantuk terasa pantas karena terhubung dengan janji Allah. Puasa yang panjang menjadi mungkin karena tidak dihitung dengan logika hari kerja biasa.
Keikhlasan bukanlah solusi ajaib yang menyembuhkan burnout secara struktural. Namun, ia memberikan ruang napas agar masyarakat dapat bertahan melewati ritme padat sebulan penuh tanpa runtuh sepenuhnya. Apa yang ditawarkan Syahrir Rajab bukanlah resep modern atau terapi populer, melainkan bahasa lama untuk masalah baru: kelelahan massal yang tak sempat dinamai. Di tengah masyarakat yang terlalu sibuk untuk mengeluh, bahasa lama ini mungkin masih bekerja, bukan untuk menghapus lelah, tetapi untuk membuatnya bermakna.
Yang menyusut bukanlah iman, melainkan tenaga. Sepinya jamaah Tarawih menjelang akhir Ramadhan bukan hanya gejala menurunnya semangat ibadah, tetapi juga cerminan masyarakat yang hidup dalam ritme kerja panjang, target ekonomi, dan tekanan domestik. Masjid menjadi ruang negosiasi antara ideal dan kemampuan.
Napas Masjid di Tengah Generasi Cemas
Anak-anak Parangtambung yang rebah di belakang shaf sambil memainkan gawai adalah potret generasi cemas (anxious generation) yang tumbuh di antara layar dan tuntutan prestasi. Mereka hadir di masjid, meskipun dengan cara yang berbeda: tidak selalu khusyuk, tidak selalu tertib, namun tetap hadir. Masjid HM Takdir Hasan Saleh tidak mengusir mereka, tidak memberikan teguran keras, atau melarang gawai. Yang ada adalah toleransi diam-diam. Di sana, masjid berfungsi bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi sebagai ruang aman bagi generasi yang lelah oleh dunia digital untuk bersandar, meski hanya sebentar.
Habitus Ramadhan bukanlah tentang siapa yang paling rajin, paling awal, atau paling penuh shaf-nya. Ia adalah tentang siapa yang bertahan: bertahan datang ke masjid meski hujan, bertahan berjamaah meski tubuh lelah, bertahan tidak memperdebatkan perbedaan awal Ramadhan, dan bertahan memberi ruang bagi anak-anak, bagi yang datang terlambat, maupun bagi yang pulang lebih cepat. Di Jalan Daeng Tata IV, Ramadhan tidak dirayakan dengan gegap gempita, melainkan dijalani. Dan mungkin, justru ketika Ramadhan dijalani, bukan dipamerkan, ia bekerja paling efektif.







