Stade Brestois 29, yang akrab disapa Brest, berhasil mengukir kemenangan impresif dengan skor 2-0 atas Olympique de Marseille dalam lanjutan Ligue 1 Prancis. Pertandingan yang digelar di kandang Brest, Stade Francis-Le Ble, pada Sabtu (21/2) ini menjadi momen penting bagi kedua tim. Khusus bagi kubu Marseille, kekalahan ini menandai debut yang kurang memuaskan bagi pelatih baru mereka, Habib Beye.
Sejak awal laga, Brest telah menunjukkan ambisi mereka untuk meraih poin penuh. Tekanan langsung dilancarkan oleh tim tuan rumah. Pada menit keenam, Kamory Doumbia mencoba menguji ketangguhan kiper Marseille, Geronimo Rulli, dengan sebuah tembakan jarak jauh. Meski masih mampu diamankan, percobaan tersebut menjadi sinyal peringatan bagi tim tamu.
Upaya keras Brest akhirnya berbuah manis pada menit ke-10. Sang penyerang, Ludovic Ajorque, berhasil memecah kebuntuan. Melalui sundulan terarah dari tengah kotak penalti, Ajorque mengirimkan bola ke pojok kiri atas gawang, tak terjangkau oleh Rulli. Gol tersebut membawa Brest unggul 1-0 dan membangkitkan semangat para pendukung tuan rumah.
Marseille mencoba merespons ketertinggalan tersebut. Beberapa peluang sempat tercipta, termasuk tendangan bebas yang dieksekusi oleh Mason Greenwood di menit kedelapan. Namun, bola tendangan Greenwood masih melambung tipis di atas mistar gawang. Sayangnya, alih-alih menyamakan kedudukan, Marseille justru kembali tertinggal pada menit ke-29.
Gol kedua Brest kembali dicetak oleh Ludovic Ajorque, yang membuktikan ketajamannya di lini depan. Kali ini, Ajorque memanfaatkan situasi bola mati. Umpan silang dari Hugo Magnetti disambut dengan sundulan mematikan yang mengarah ke sudut bawah gawang. Geronimo Rulli kembali tak berdaya menahan laju bola. Skor 2-0 untuk keunggulan Brest bertahan hingga babak pertama usai.
Memasuki paruh kedua, Marseille bertekad untuk bangkit dan mengubah jalannya pertandingan. Intensitas serangan mereka meningkat. Berbagai peluang coba diciptakan, salah satunya melalui sundulan Amine Gouiri pada menit ke-62 yang sayangnya masih melebar tipis dari sasaran. Untuk menambah daya gedor, pelatih Marseille, Habib Beye, memutuskan untuk memasukkan Pierre-Emerick Aubameyang di awal babak kedua.
Marseille mendapatkan peluang emas untuk memperkecil ketertinggalan pada menit ke-82. Sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh pemain Brest terhadap Mason Greenwood di dalam kotak penalti berbuah hadiah tendangan penalti. Greenwood sendiri yang maju sebagai algojo, namun sayangnya, tendangannya ke arah kiri bawah gawang berhasil ditepis dengan gemilang oleh kiper Brest, Coudert. Kegagalan ini semakin menambah frustrasi kubu Marseille.
Tidak hanya menggagalkan tendangan penalti, kiper Brest, Coudert, juga menunjukkan performa impresif dengan melakukan beberapa penyelamatan penting lainnya. Salah satunya adalah ketika ia berhasil menepis sundulan berbahaya dari Hamed Traore di masa-tahun tambahan waktu. Marseille terus berupaya keras untuk mencetak gol hiburan hingga peluit panjang dibunyikan, namun pertahanan kokoh Brest berhasil mempertahankan keunggulan mereka.
Skor akhir 2-0 untuk kemenangan Brest tidak berubah. Meskipun demikian, hasil ini tidak serta-merta mengubah posisi Marseille di klasemen sementara Ligue 1. Mereka masih menempati peringkat keempat dengan koleksi 40 poin dari 23 pertandingan, terpaut 12 poin dari pemuncak klasemen, Lens. Sementara itu, Brest berhasil mengamankan 30 poin dan kini berada di posisi ke-11.
Dalam wawancara usai pertandingan, Habib Beye, yang baru saja resmi menjabat sebagai pelatih utama Marseille sejak 19 Februari, mengakui bahwa timnya tengah berada dalam periode yang sulit. Namun, ia menolak untuk larut dalam tren negatif tersebut.
“Lapangan selalu membawa Anda kembali dan menghubungkan Anda lagi dengan sepak bola. Jadi tentu saja, dalam dinamika negatif seperti sekarang ini, situasinya sulit bagi tim. Namun, saya meminta mereka untuk tetap positif,” ujar Beye.
Beye menekankan bahwa proses membangun hubungan dan keterikatan dengan para pemain masih terus berjalan. Ia bertekad untuk menularkan keyakinan dan semangat juang kepada para pemainnya agar tim dapat segera bangkit dan keluar dari rangkaian hasil buruk yang dialami.
“Kami baru mulai bekerja bersama, kami masih saling mengenal. Ada energi positif di dalam klub dan ke arah itulah kami harus melangkah. Tetapi ya, ketika Anda berada dalam tren negatif, sulit untuk menerima kekalahan lagi dalam situasi seperti ini,” tambahnya.
Pernyataan Beye menunjukkan komitmennya untuk membawa Marseille bangkit kembali, meskipun tantangan di awal kepemimpinannya terbilang berat. Perjalanan masih panjang, dan bagaimana ia mampu mentransformasi tim akan menjadi sorotan utama dalam beberapa pertandingan mendatang.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…