Harga emas mencetak rekor baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, menembus angka US$5.000 per ons. Kenaikan signifikan ini didorong oleh kombinasi faktor, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang dipicu oleh kebijakan Presiden AS, serta tindakan investor yang berbondong-bondong meninggalkan mata uang dan obligasi pemerintah.
Harga emas sempat melonjak sekitar 2% hingga melampaui US$5.085 per ons sebelum sedikit terkoreksi menjadi US$5.072,80 per ons, menunjukkan volatilitas pasar yang tinggi. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap kenaikan harga emas ini antara lain:
Selain emas, harga perak juga mengalami lonjakan yang luar biasa, naik lebih dari 5% ke rekor tertinggi. Reli perak didukung oleh permintaan yang kuat dari investor ritel di berbagai negara, mulai dari Shanghai hingga Istanbul. Sebelumnya, perak telah menembus level US$100 per ons.
Lonjakan harga emas yang signifikan, yang telah lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, menegaskan peran historis emas sebagai indikator ketakutan di pasar keuangan. Kinerja tahunan emas yang terbaik sejak 1979, dengan kenaikan lebih dari 17% sepanjang tahun ini, menunjukkan bahwa investor semakin mencari perlindungan dari ketidakpastian.
Ancaman tarif dari AS terhadap negara lain, seperti Kanada, juga menambah ketegangan global. Selain itu, ketidakpastian politik domestik di AS, seperti ancaman pemblokiran paket belanja oleh partai oposisi, meningkatkan risiko penutupan sebagian pemerintahan, yang semakin memperburuk sentimen pasar.
Max Belmont, seorang manajer portofolio di First Eagle Investment Management, menyatakan bahwa emas adalah kebalikan dari kepercayaan dan berfungsi sebagai lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tak terduga, koreksi pasar, dan meningkatnya risiko geopolitik.
John Reade, kepala strategi World Gold Council, menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap arah utang jangka panjang telah meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir. Argumen tentang pelemahan nilai dan utang paling kuat ditemukan di kalangan family office, yang fokus pada perlindungan kekayaan lintas generasi.
Investor saat ini menantikan keputusan tentang calon ketua The Fed berikutnya. Penunjukan ketua The Fed yang lebih dovish berpotensi memperbesar ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini, yang umumnya menguntungkan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di Oversea-Chinese Banking Corp Ltd, berpendapat bahwa banyak ketidakpastian geopolitik akibat kebijakan pemerintahan AS tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat emas berpeluang tetap menjadi pilihan investor dalam beberapa bulan atau bahkan tahun ke depan, meskipun pasar perlu mewaspadai potensi koreksi setelah kenaikan tajam dalam 12 bulan terakhir.
Secara keseluruhan, kenaikan harga emas mencerminkan kombinasi faktor ekonomi dan politik yang kompleks. Investor terus mencari aset yang aman di tengah ketidakpastian global, dan emas tetap menjadi pilihan utama untuk melindungi nilai kekayaan.
Penampakan Benda Bercahaya Misterius di Langit Lampung Warga di Provinsi Lampung dihebohkan dengan penampakan benda…
Perkembangan Terbaru Kasus Amsal Sitepu Kasus yang melibatkan Amsal Christy Sitepu, seorang videografer yang kini…
Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat Pada tanggal 19 Februari 2026, pemerintah…
Laga Persiba Balikpapan vs Persipura Berjalan Sengit, Tim Tamu Menang Laga antara Persiba Balikpapan dan…
Pencapaian Siswa Aceh di Dunia Internasional Sebanyak 19 siswa SMA di Aceh berhasil diterima kuliah…
Korban Kecelakaan Beruntun di Bantul Bertambah Menjadi Empat Orang Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan beruntun…