Desa Morosunggingan, yang terletak di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, baru-baru ini menyaksikan transformasi luar biasa pada pasar rakyatnya. Biasanya identik dengan hiruk pikuk jual beli kebutuhan sehari-hari, pasar ini mendadak berubah menjadi sebuah ruang publik yang hidup, memamerkan kekayaan seni dan budaya lokal. Gelaran Pentas Seni dan Budaya Jombangan, yang diselenggarakan pada awal pekan ini, telah berhasil menghidupkan kembali fungsi pasar sebagai pusat aktivitas sosial dan kebudayaan, sekaligus menjadi pendorong pelestarian warisan tradisi dan pergerakan ekonomi masyarakat.
Acara yang dimulai pada Senin malam, 16 Februari 2026, langsung memukau warga dengan alunan musik gambus yang merdu, menggema di tengah keramaian. Kemeriahan berlanjut keesokan harinya, Selasa, 17 Februari 2026, dengan suguhan musik patrol dan terbang jidor yang khas. Panggung budaya ini semakin semarak dengan kehadiran berbagai kesenian daerah yang memukau, seperti Tari Topeng yang anggun, Tari Remo yang energik, pertunjukan Besutan yang jenaka, Ludrukan yang sarat cerita, hingga penampilan Gambus Misri yang memikat hati.
Program istimewa ini merupakan bagian dari Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025. Penyelenggaraannya merupakan inisiatif kolaboratif antara Yayasan Permata Bangsa Nusantara Jombang dan pengelola Pasar Rakyat Desa Morosunggingan. Gagasan ini lahir dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi ruang publik desa, menjadikannya lebih dari sekadar tempat transaksi ekonomi semata.
Cucuk Espe, Ketua Pengelola Pasar Rakyat Morosunggingan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk menghidupkan kembali fungsi ruang publik melalui partisipasi aktif masyarakat. “Pasar desa memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas sosial dan kebudayaan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Rabu, 18 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa lebih dari 50 peserta, baik individu maupun kelompok, turut ambil bagian dalam gelaran ini. Keberagaman peserta tidak hanya berasal dari Desa Morosunggingan, tetapi juga merambah ke sejumlah desa dan kecamatan di sekitarnya. “Kolaborasi ini membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil sekaligus mempererat kebersamaan antarwilayah,” tambahnya.
Gelar Seni dan Budaya Jombangan ini tidak hanya berfokus pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga secara signifikan diharapkan dapat mendorong pergerakan ekonomi warga. Kehadiran ribuan penonton yang memadati pasar rakyat memberikan dampak langsung yang positif bagi para pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar lokasi. “Ketika ruang publik aktif dan warga berkumpul, otomatis roda ekonomi kecil ikut bergerak,” jelas Cucuk Espe. Hal ini menunjukkan bagaimana seni dan budaya dapat menjadi katalisator kebangkitan ekonomi kerakyatan.
Menariknya, momentum penyelenggaraan pentas seni ini berdekatan dengan datangnya bulan Ramadan. Hal ini dimanfaatkan untuk menyuntikkan nuansa religius dalam gelaran tersebut. Penampilan banjari dan kesenian lain yang bernapaskan Islami menjadi bagian dari upaya menyambut bulan suci dengan kegiatan yang positif dan bermakna. Ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya dapat beradaptasi dengan konteks sosial dan keagamaan yang ada di masyarakat.
Abdul Machin, Ketua Yayasan Permata Bangsa Nusantara Jombang, menekankan bahwa program ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan seni. “Program ini adalah bagian dari penguatan ekosistem budaya berbasis komunitas,” tuturnya. Ia berpendapat bahwa ruang publik desa memiliki peran krusial sebagai pusat interaksi sosial sekaligus wadah ekspresi kreatif bagi masyarakat. “Terlebih saat ini menjelang bulan puasa, juga sebagai bagian menyambut bulan yang penuh rahmat dengan cara menampilkan hiburan dan seni,” ungkapnya saat dikonfirmasi di lokasi acara.
Pihak penyelenggara berharap model kegiatan serupa dapat direplikasi di desa-desa lain, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah maupun berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, upaya pelestarian seni tradisi dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga ini menjadi wadah tradisi yang konsisten dan berjalan terus-menerus. Karena pegiat tradisi ini harus punya wadah untuk terus melestarikan seni dan budaya itu,” pungkas Abdul Machin, menyuarakan harapan akan keberlanjutan program yang telah memberikan dampak positif yang begitu besar bagi Desa Morosunggingan dan sekitarnya. Gelaran ini menjadi bukti nyata bahwa ruang publik desa dapat bertransformasi menjadi pusat kebudayaan yang dinamis, inklusif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…