Tantangan Pengamatan Hilal: Cuaca Menjadi Kendala Utama Penentuan Awal Ramadan
Bandung, 17 Februari 2026 – Upaya pengamatan hilal atau penentuan awal bulan baru dalam kalender Islam untuk menandai dimulainya ibadah puasa Ramadan menghadapi tantangan signifikan pada Selasa, 17 Februari 2026. Awan tebal yang menyelimuti langit di berbagai lokasi pengamatan, termasuk di atap gedung Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba), menghalangi pandangan para pengamat terhadap hilal. Keputusan penentuan awal puasa akhirnya dikeluarkan oleh pemerintah melalui sidang isbat, yang menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Sejak pukul 15.00 WIB, langit di wilayah Bandung mulai dipenuhi gumpalan awan yang tebal. Meskipun sempat muncul sinar matahari yang menerangi sore hari, awan segera kembali menutupi cakrawala. “Sampai waktu magrib tiba, pengamatan hilal masih terhalang oleh mendung yang sangat tebal,” ujar Teguh Rahayu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, pada Selasa sore.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi hujan ringan di lokasi pengamatan antara pukul 13.00 hingga 19.00 WIB. Namun, prediksi tersebut tidak sepenuhnya terjadi, meskipun langit tetap tertutup awan. Selain BMKG, kegiatan pengamatan hilal ini juga melibatkan partisipasi aktif dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Kementerian Agama, serta Badan Hisab Rukyat Daerah Provinsi Jawa Barat.
Menurut penjelasan Rahayu, terdapat beragam faktor yang memengaruhi keberhasilan pengamatan hilal. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi cuaca, ketinggian bulan di ufuk, kemampuan pengamat, serta perangkat teknologi yang digunakan. “Kondisi awan yang sangat tebal dan ketinggian hilal yang masih berada di bawah cakrawala (posisi minus) menjadi kendala utama. Dengan demikian, syarat untuk melihat hilal belum terpenuhi pada hari ini,” jelasnya di sela-sela kegiatan pengamatan.
Teknologi Canggih dalam Pengamatan Hilal
Meskipun terhalang awan, proses pengamatan hilal ini tetap menggunakan peralatan modern. Pengamatan hilal dilakukan dengan memanfaatkan teleskop terkomputerisasi yang terintegrasi dengan sistem teknologi informasi terkini. Saat pengamatan berlangsung, teleskop ini bertugas merekam tingkat kecerlangan cahaya hilal melalui sebuah detektor. Perangkat ini secara otomatis akan mengikuti pergerakan posisi bulan di ufuk barat. Data hasil pengamatan kemudian dikirimkan secara langsung ke server pusat BMKG untuk disimpan dan disebarluaskan secara daring melalui situs web resmi, yaitu http://hilal.bmkg.go.id.
Rahayu menambahkan bahwa BMKG Bandung telah mengimplementasikan perangkat lunak terbaru yang telah diperbarui pada Desember 2025. Pembaruan ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas pengamatan hilal rutin bulanan di wilayah Jawa Barat. Inovasi pada perangkat lunak ini mencakup peningkatan pada fitur filter, penajaman citra yang ditangkap oleh teleskop berdiameter 90 milimeter, serta peningkatan kecepatan kamera dalam menangkap objek hilal.
Proses Astronomis dan Jadwal Pengamatan
Secara astronomis, fenomena ijtimak atau konjungsi—yaitu ketika Bumi, Bulan, dan Matahari berada dalam satu garis lurus—terjadi pada pukul 19.01 WIB pada Selasa tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Encep Abdul Rojak, Kepala Observatorium Albiruni Unisba.
Fokus utama pengamatan hilal dilakukan saat matahari terbenam, yang diperkirakan terjadi pada pukul 18.17 WIB. Namun, bulan diperkirakan terbenam lebih awal, yaitu pada pukul 18.13 WIB. “Sekitar 30 menit sebelum waktu pengamatan dimulai, teleskop sudah diarahkan ke posisi perkiraan terbitnya bulan,” ungkap Encep Abdul Rojak.
Meskipun pemerintah telah secara resmi menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026, tim BMKG Bandung berencana untuk melanjutkan upaya pengamatan hilal pada hari Rabu berikutnya. Rencananya, pengamatan lanjutan ini akan dilakukan bersama dengan tim tuan rumah di Observatorium Bosscha yang berlokasi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Upaya ini menunjukkan komitmen para ilmuwan dan lembaga terkait dalam memastikan akurasi penentuan awal bulan hijriah, meskipun menghadapi tantangan alam.







