Sebuah fenomena yang membingungkan, namun harus dihadapi, kini menghantui Persebaya Surabaya. Statistik terkini menunjukkan sebuah fakta yang tak lazim: tim berjuluk “Green Force” ini justru meraih hasil lebih gemilang saat bertandang ke markas lawan dibandingkan ketika bermain di hadapan ribuan pendukungnya sendiri di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Kenyataan pahit ini semakin terasa setelah Persebaya kembali menelan kekalahan di kandang pada pertandingan terbaru. Menjamu Bhayangkara FC pada Sabtu (14/2/2026), Persebaya harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor tipis 1-2. Kekalahan ini tentu saja meninggalkan rasa getir, terutama karena terjadi di kandang sendiri, yang seharusnya menjadi benteng pertahanan terkuat tim.
Dua gol kemenangan Bhayangkara FC dicetak oleh Henry Doumbia pada menit ke-26 dan Moussa Sidibe pada menit ke-42+5. Persebaya sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Mihailo Perovic pada menit ke-44, namun gol tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan tim dari kekalahan.
Hasil minor ini berdampak langsung pada posisi Persebaya di klasemen sementara. Mereka gagal memangkas jarak poin dengan Malut United yang berada di peringkat keempat. Persebaya tetap tertahan di posisi kelima dengan koleksi 35 poin, terpaut lima angka dari Malut United. Situasi semakin mengkhawatirkan mengingat Persita Tangerang masih memiliki satu pertandingan tunda. Dengan selisih tiga poin, Persita berpeluang menyamai poin Persebaya jika berhasil meraih kemenangan, meskipun mereka dipastikan belum bisa menggeser Persebaya dari posisi kelima karena kalah dalam selisih gol. Ancaman dari Persita ini menambah tekanan yang sudah ada pada skuad Persebaya.
Di tengah kekecewaan atas hasil pertandingan, sorotan dari para pendukung setia Persebaya, Bonek, justru tertuju pada dua aspek yang cukup mengejutkan. Selain performa kandang yang dinilai tidak konsisten, penggunaan jersey berwarna merah saat menjalani laga kandang juga menjadi sasaran kritik tajam.
Beberapa elemen suporter berpendapat bahwa keputusan untuk mengenakan jersey merah di GBT seolah telah menghilangkan identitas kebanggaan tim. Warna hijau, yang secara identik diasosiasikan dengan Persebaya Surabaya, dianggap sebagai simbol yang tidak bisa ditawar atau diganti.
Komentar bernada sarkas dan pedas pun membanjiri berbagai platform media sosial resmi klub pasca-pertandingan. “Home kok merah, merah tanda berhenti, berhenti rekormu,” tulis salah seorang Bonek, menyindir hasil yang tidak memuaskan. Sindiran lain yang tak kalah getir juga dilontarkan, seperti, “Wes feeling sii nek ganti jersey mesti kalah,” menunjukkan kekhawatiran yang sudah ada sebelumnya.
Bahkan, ada pula usulan yang terkesan ekstrem dari para pendukung, yang menyarankan agar tim lebih fokus menjalani pertandingan tandang. “Mene away terus ae loh ga usah home,” ujar salah satu Bonek, menyiratkan ketidakpercayaan pada performa kandang.
Kritik mengenai identitas warna tim kembali digaungkan dengan nada yang lebih tegas. “Main home malah gae jersey guduk ijo,” tegas seorang suporter, menekankan pentingnya warna kebesaran tim.
Di tengah rasa kecewa yang mendalam, sebagian suporter mencoba menyelipkan unsur humor dalam komentar mereka. “Rilis jersey edisi ramadan ae ben barokah,” tulis salah seorang Bonek, mencoba mencairkan suasana.
Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti aspek mentalitas bermain di kandang sendiri. “Grogi didelok bonek ta? Main home mesti melempem,” komentar seorang suporter, menduga adanya faktor psikologis yang memengaruhi performa pemain. Ada pula yang menilai bahwa terlalu banyak eksperimen, termasuk dalam hal pergantian jersey, justru merugikan tim. “Kakean polah ngubah Jersey,” keluh seorang suporter.
Seruan untuk kembali kepada identitas asli tim terdengar berulang kali. “Home yo ijo to,” tulis seorang Bonek, menyuarakan keinginan mayoritas pendukung. Nada emosional juga tak terhindarkan, dengan komentar yang penuh penekanan, “Identitase persebaya iku ijooo duduk abang!! Ayo ndang bangkit jool!!”
Kegelisahan ini semakin terasa ketika performa kandang dan tandang Persebaya Surabaya musim ini dibandingkan secara mendalam. “Luweh dredeg ndelok Persebaya lek main home, lek away enak maine,” ungkap seorang Bonek, menggambarkan perbedaan kontras dalam penampilannya.
Data statistik dari Liga Super 2025/2026 semakin memperkuat anggapan ini. Dalam 11 pertandingan kandang yang telah dilakoni, Persebaya Surabaya mencatat lima kemenangan, tiga kali imbang, dan tiga kekalahan. Rata-rata poin yang diraih di kandang adalah 1,64 per pertandingan. Produktivitas gol di kandang sebenarnya cukup baik, dengan mencetak 20 gol dan kebobolan 14 kali. Jumlah penonton rata-rata yang hadir di GBT mencapai 16.632 orang, menunjukkan dukungan luar biasa dari Bonek.
Namun, catatan pertandingan tandang justru terlihat jauh lebih solid dan efisien. Dari 10 laga away, Persebaya Surabaya berhasil mengemas empat kemenangan, lima kali imbang, dan hanya menderita satu kekalahan. Rata-rata poin yang diraih di laga tandang adalah 1,70 per pertandingan. Meskipun jumlah gol tandang sedikit lebih rendah, yaitu 12 gol, pertahanan tim tampil lebih disiplin dengan hanya kebobolan enam gol. Rata-rata penonton saat laga tandang pun jauh lebih kecil, yaitu 5.910 orang, sangat berbeda dengan atmosfer yang tercipta di GBT.
Perbandingan angka-angka ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan suporter: mengapa Persebaya Surabaya justru tampil lebih efektif dan minim kekalahan saat bermain jauh dari rumah sendiri?
Secara psikologis, tekanan bermain di hadapan puluhan ribu pendukung bisa menjadi pedang bermata dua. Dukungan masif memang berpotensi memompa semangat juang pemain. Namun, di sisi lain, dukungan tersebut juga dapat memicu beban mental yang luar biasa, terutama ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Para pemain mungkin merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi yang disematkan oleh para pendukungnya.
Kekalahan terbaru dari Bhayangkara FC semakin menegaskan anomali ini. Di saat Persebaya sangat membutuhkan kemenangan untuk menjaga jarak dari para pesaing dan berupaya mendekati zona empat besar, poin penuh justru harus melayang di kandang sendiri.
Fenomena poin tandang yang lebih baik daripada poin kandang ini memang terasa tidak logis. Fakta ini seharusnya menjadi alarm keras bagi jajaran manajemen dan tim pelatih untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan mendalam. Berbagai aspek, mulai dari identitas tim, mentalitas pemain, hingga strategi permainan yang diterapkan di GBT, layak untuk dibedah secara jujur dan objektif.
Jika masalah ini tidak segera diatasi, mimpi Persebaya untuk finis di papan atas klasemen liga dapat semakin menjauh dari jangkauan. Musim kompetisi masih menyisakan banyak pertandingan, dan peluang untuk bangkit belum sepenuhnya tertutup. Namun, tanpa perbaikan yang nyata dan berkelanjutan, ironi poin tandang yang lebih baik dari kandang akan terus menjadi bahan sindiran dan sumber kegelisahan bagi para pendukung setia Persebaya.
Pengamanan Ibadah Paskah di Kabupaten Mamuju Tengah Polres Mamuju Tengah telah menerjukan sebanyak 46 personel…
Kekhawatiran terkait performa Pulisic menjelang tahun 2026 Pulisic mengalami penurunan performa setelah awal musim yang…
Aksi Catcalling di Surabaya Viral di Media Sosial Sebuah aksi catcalling yang terjadi di Surabaya…
Kader Terbaik Partai NasDem NTT Siap Berlaga di Pemilu Legislatif Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai…
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menunjukkan komitmen kuatnya dalam menyelesaikan pengembalian dana…
Penghormatan Tinggi untuk Prajurit Terbaik TNI Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyampaikan rasa duka…