Categories: Ekonomi

Cabai Rawit Meroket 100% Jelang Ramadan di Pasar Batangase

Jelang Ramadan, Pasar Batangase Dipadati Pembeli di Tengah Lonjakan Harga

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana di Pasar Batangase, Maros, terlihat sangat ramai. Ribuan warga, didominasi oleh para ibu rumah tangga, memadati lorong-lorong pasar pada hari Minggu, 15 Februari 2026, untuk berburu kebutuhan pokok. Tanggal 1 Ramadan 1447 Hijriah ini diprediksi jatuh pada hari Rabu, 17 Februari 2026, berdasarkan perhitungan Hisab Muhammadiyah.

Para pembeli terlihat antusias menenteng kantongan belanjaan mereka, sementara para pedagang berlomba-lomba menarik perhatian calon pembeli dengan menawarkan dagangan mereka. Beberapa pedagang tampak sibuk melayani pelanggan yang sedang menawar harga, sementara yang lain fokus menata barang-barang baru yang baru saja tiba dari distributor.

Namun, di balik keramaian tersebut, terselip kekhawatiran bagi sebagian pembeli. Lonjakan harga yang signifikan pada sejumlah komoditas penting, seperti cabai rawit, bawang merah, tomat, dan kacang tanah, memaksa banyak pembeli untuk mengurangi jumlah belanjaan mereka dari biasanya. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para ibu rumah tangga yang mengelola anggaran belanja keluarga.

Komoditas Kunci Mengalami Kenaikan Harga yang Drastis

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga paling mencolok adalah cabai rawit. Jika sebelumnya harga cabai rawit hanya berkisar Rp30.000 per kilogram, kini melonjak tajam menjadi Rp60.000 per kilogram. Kenaikan ini tentu sangat memberatkan, terutama bagi mereka yang sering menggunakan cabai sebagai bumbu utama dalam masakan sehari-hari.

Mitha Makmur, seorang pedagang di Pasar Batangase, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada cabai rawit, tetapi hampir seluruh jenis sayur mayur juga mengalami kenaikan. Ia menambahkan bahwa selain harga yang meroket, pasokan barang dari para distributor juga mulai terasa terbatas.

“Bukan hanya cabai, minyak goreng curah pun ikut naik. Dulu Rp18.000 per liter, sekarang sudah Rp19.000 per liter,” ujar Mitha sambil merapikan dagangannya pada Minggu, 16 Februari 2026.

Komoditas lain yang juga mengalami lonjakan harga adalah:

  • Tomat: Kenaikan dari Rp5.000 menjadi Rp8.000 per kilogram.
  • Bawang Merah: Naik dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
  • Bawang Putih: Mengalami kenaikan dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
  • Kacang Tanah: Lonjakan harga dari Rp30.000 menjadi Rp42.000 per kilogram.

“Sayur mayur hampir semua naik, dan stoknya juga kurang,” tambah Mitha.

Faktor Pemicu Lonjakan Harga: Cuaca dan Distribusi

Menurut Mitha, kenaikan harga yang signifikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor cuaca, terutama intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi musim hujan ini diduga membuat sejumlah komoditas lebih cepat rusak, sehingga pasokan ke pasar menjadi berkurang.

Selain itu, kendala dalam distribusi barang dari daerah pemasok juga turut memperparah situasi. “Biasanya kami mengambil barang dari Enrekang paling banyak, dan juga dari Malino, Gowa. Tapi sekarang stoknya memang kurang,” jelasnya.

Keterbatasan pasokan ini, ditambah dengan tingginya permintaan menjelang bulan Ramadan, secara alami mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.

Dampak pada Daya Beli Konsumen

Kenaikan harga bahan pokok yang merata ini jelas sangat memengaruhi daya beli konsumen. Banyak pembeli yang terpaksa menyesuaikan anggaran belanja mereka. Salma, salah seorang pembeli, mengungkapkan kekhawatirannya.

“Kalau biasanya ambil setengah kilogram, sekarang cuma seperempat kilogram. Ada yang mengerti, tapi ada juga yang langsung pergi kalau tahu harganya,” tutur Mitha mengenai respons pembeli.

Salma menambahkan bahwa lonjakan harga menjelang Ramadan membuat pengeluaran rumah tangganya membengkak. “Sepandai-pandainya saja mengatur bagaimana, dikurangi pembeliannya, karena kalau mau belanja langsung banyak, boncos juga,” keluhnya. Ia merasa harus lebih pintar dalam mengatur keuangan agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi meskipun dengan jumlah yang lebih sedikit.

Situasi ini menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi momen keagamaan penting seperti Ramadan, di mana kebutuhan pokok biasanya meningkat, namun dihadapkan pada realitas kenaikan harga yang memberatkan. Para pedagang pun berharap agar pasokan dapat segera pulih dan harga dapat kembali stabil demi meringankan beban masyarakat.

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Astaga, lahan KAI untuk rusun Tanah Abang diserobot pihak lain

Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…

48 menit ago

Denada & Ressa: Haru Bertemu dalam Tangis

Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…

48 menit ago

Ben Kasyafani Pilih Jadi Sahabat untuk Sienna Saat Putuskan Lepas Hijab, Ini Alasannya

Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…

2 jam ago

Mengapa Lulusan RPL Jadi Incaran di Dunia Teknologi?

JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…

3 jam ago

Veda Sadar Diri, Juara Red Bull Rookies Cup Tampil Gesit di COTA

Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…

4 jam ago

5 Fakta Mencengangkan Persib Bandung Kalahkan Semen Padang: 2 Rekor Tak Terduga, Bintang Persija Terpengaruh

Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…

5 jam ago