Padang, sebuah kota yang terus bergerak, menyajikan beragam kisah yang menarik perhatian publik. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, tiga peristiwa menonjol berhasil mencuri perhatian warga dan menjadi topik perbincangan hangat. Mulai dari tradisi spiritual yang kental menjelang bulan suci Ramadan, aksi heroik petugas pemadam kebakaran, hingga potret kehidupan para penyintas bencana alam yang masih bergulat dengan kenyataan pahit. Berita-berita ini memberikan gambaran utuh tentang dinamika kehidupan di Padang, menyoroti aspek keagamaan, kemanusiaan, serta ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi.
Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan. Pada Minggu (15/2/2026) pagi hingga siang, masyarakat dari berbagai kalangan terlihat berbondong-bondong mendatangi TPU yang berlokasi di Jalan Kemayoran Tunggul Hitam, Air Tawar Timur, ini.
Jarak TPU Tunggul Hitam yang relatif dekat dengan pusat kota, sekitar 1,6 kilometer dari Grand Basko Hotel melalui Jalan Prof Dr Hamka, menjadikannya lokasi yang mudah dijangkau oleh para peziarah. Kedatangan masyarakat ini bukanlah tanpa alasan. Menjelang dimulainya ibadah puasa, tradisi ziarah kubur menjadi momen penting bagi banyak keluarga untuk membersihkan makam leluhur, menaburkan bunga, dan mendoakan ketenangan bagi arwah mereka.
Menurut kalender yang dirilis oleh Muhammadiyah, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama, bersama dengan mayoritas organisasi Islam, memprediksi 1 Ramadan 1447 H akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan prediksi ini tidak mengurangi semangat masyarakat untuk mempersiapkan diri secara spiritual, salah satunya melalui ziarah.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana yang ramai namun khidmat. Masyarakat datang bersama keluarga, kerabat, maupun secara individu. Di depan makam masing-masing, mereka terlihat sibuk mencabut rumput liar, mengelap batu nisan yang mungkin telah usang, menaburkan bunga segar, dan tak lupa memanjatkan doa. Suasana ini menciptakan harmoni antara penghormatan kepada leluhur dan persiapan diri menyambut bulan penuh berkah.
Arus lalu lintas di Jalan Kemayoran Tunggul Hitam, khususnya di depan area TPU, tampak cukup padat. Kendaraan milik para peziarah memadati badan jalan, menandakan tingginya antusiasme masyarakat untuk melaksanakan tradisi ini.
Salah seorang peziarah, Yuka, yang datang bersama tujuh anggota keluarganya, mengungkapkan bahwa kegiatan ziarah menjelang Ramadan merupakan rutinitas tahunan yang selalu mereka lakukan. “Kami datang bersama keluarga, total ada tujuh orang semuanya. Memang rutin setiap tahun begini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ziarah ini mencakup membersihkan makam, menaburkan bunga, mengelap nisan, hingga mengirimkan doa. Yuka juga berbagi cerita bahwa makam ayahnya yang baru meninggal lima bulan lalu menjadi salah satu fokus kunjungannya, bahkan ia hampir setiap hari berziarah ke sana menjelang Ramadan.
Senada dengan Yuka, Rahmi, peziarah lainnya, juga menyatakan komitmennya untuk selalu mengunjungi makam keluarga di TPU Tunggul Hitam menjelang Ramadan. “Memang rutin, setiap tahun ke sini, karena jelang Ramadan kita berziarah dulu ke makam keluarga, dibersihkan dan didoakan,” tuturnya. Tradisi ini menjadi cara masyarakat Padang untuk menjaga silaturahmi dengan leluhur dan memohon keberkahan sebelum memulai ibadah puasa.
Dalam sebuah insiden yang tak terduga, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang menunjukkan kembali peran vitalnya dalam membantu masyarakat, kali ini dengan mengevakuasi seekor sapi yang tercebur ke dalam sumur. Kejadian ini terjadi pada Minggu (15/2/2026) di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Padang.
Laporan mengenai seekor sapi yang jatuh ke dalam sumur diterima oleh pihak Damkar Kota Padang pada pukul 10.00 WIB. Sumber laporan berasal dari Ernawati (61), seorang ibu rumah tangga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi kejadian. Sumur tersebut dilaporkan berada di samping rumahnya, dan sapi tersebut tidak dapat dikeluarkan sendiri oleh warga.
Menanggapi laporan tersebut, sebanyak delapan personel Damkar Kota Padang segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Petugas tiba di tempat pada pukul 10.25 WIB dan langsung melakukan asesmen terhadap situasi. Proses evakuasi sapi yang berada di dalam sumur ini membutuhkan kehati-hatian dan peralatan khusus. Petugas menggunakan tripod rescue, sebuah alat yang dirancang untuk mengangkat beban berat dari kedalaman.
Setelah persiapan matang, petugas berhasil mengeluarkan sapi tersebut dengan selamat pada pukul 11.21 WIB. Proses evakuasi berjalan lancar berkat kerja sama tim dan penggunaan peralatan yang tepat. Tali diikatkan pada sapi, dan dengan bantuan tripod rescue serta kerja keras tim, sapi tersebut berhasil diangkat keluar dari sumur.
Kepala Bidang Operasional Sarana dan Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, Rinaldi, membenarkan keberhasilan evakuasi tersebut. “Saat ini, sapi telah berhasil dikeluarkan dengan selamat. Proses evakuasi berjalan lancar,” ujarnya.
Kejadian ini kembali menegaskan bahwa tugas Damkar tidak terbatas pada penanganan kebakaran semata. Instansi ini memiliki peran yang lebih luas dalam menangani berbagai situasi darurat yang dihadapi masyarakat. Kasi Pusdalops Damkar Padang, Sutopo, menjelaskan bahwa personelnya terlatih untuk melakukan aksi penyelamatan yang beragam, mulai dari membantu manusia yang tenggelam, melepaskan cincin yang tersangkut, hingga mengevakuasi hewan berbahaya seperti ular, buaya, dan biawak.
Lebih lanjut, Damkar juga dapat membantu dalam situasi yang mungkin terlihat sepele namun sangat mengganggu bagi warga, seperti mengambil kembali ponsel atau kunci yang jatuh ke dalam air atau tersangkut di celah sempit. Bahkan, permasalahan pintu rumah, kedai, atau warung yang sulit dibuka juga dapat diatasi oleh petugas Damkar.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat melaporkan berbagai kesulitan kepada Damkar Kota Padang. Layanan pelaporan tersedia melalui telepon di nomor 075128558, serta melalui pesan dan panggilan WhatsApp di nomor 08116606113. Saat melaporkan melalui WhatsApp, warga diimbau untuk menyertakan video kejadian, lokasi yang akurat, serta deskripsi bantuan yang dibutuhkan. Adanya bukti video, menurut Sutopo, sangat membantu tim Damkar dalam mempersiapkan respons sebelum tiba di lokasi dan juga dapat meminimalisir laporan palsu.
Di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mentari Minggu (15/2/2026) terbit dengan cahaya yang berbeda. Bagi sebagian warganya, seperti Maini, cahaya pagi tidak lagi membawa harapan yang sama seperti sebelum banjir bandang dahsyat menerjang pada akhir November 2025 lalu. Jejak lumpur mungkin telah tersapu oleh waktu, namun ingatan akan air bah yang menghancurkan rumah mereka masih membekas, meninggalkan luka mendalam.
Bagi Maini, pengalaman pahit ini bukanlah yang pertama. Ia masih mengingat jelas banjir pada tahun 2012. Namun, bencana yang terjadi di penghujung tahun lalu merupakan puncak dari penderitaan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah-rumah tetangganya hanyut terbawa arus deras, tak berdaya seperti perahu kertas. “Rumah-rumah itu hanyut seperti perahu,” kenang Maini dengan suara lirih, seolah takut kenangan pahit itu kembali menghantuinya.
Puluhan rumah hancur lebur, menyisakan puing-puing dan rasa kehilangan yang tak terperi. Salah satu kehilangan yang paling menyentuh hati adalah runtuhnya Surau Jamiaturrahmah. Bagi warga setempat, surau itu bukan sekadar bangunan fisik; ia adalah pusat spiritual dan sosial mereka, tempat mereka bersujud, berdoa, dan mempererat tali persaudaraan. Kini, rumah ibadah yang menjadi saksi bisu kehidupan komunal mereka telah tiada.
Maini kini harus menumpang di rumah anaknya yang beruntung selamat dari amukan air. Meskipun masih memiliki atap untuk berteduh, perasaan asing dan terasing tetap menyelimutinya. Ia merasa seperti pengungsi di tanah kelahirannya sendiri. Kesunyian kini menjadi teman sehari-hari, menggantikan keriuhan yang dulu mendominasi kampungnya.
Kampung Lambung Bukit yang dulunya hidup dan ramai kini kehilangan denyutnya. Banyak warganya yang terpaksa mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman, sementara sebagian lainnya mengisi hari-hari di Hunian Sementara (Huntara). Saat senja tiba, Lambung Bukik seolah menjelma menjadi kampung mati. Aktivitas warga yang tersisa kini hanya rutinitas yang getir. Mereka yang rumahnya masih berdiri biasanya datang di pagi hari untuk membersihkan sisa debu dan lumpur, namun saat malam menjelang, mereka kembali ke Huntara atau rumah kerabat.
Suasana menjelang Ramadan kali ini terasa sangat berbeda. Tak ada lagi tawa riang di teras rumah saat petang. Kesunyian ini terasa semakin menusuk hati ketika kalender menunjukkan bahwa bulan suci akan segera tiba. Bagi umat Muslim, Ramadan adalah bulan kemenangan dan refleksi spiritual. Namun, bagi warga Lambung Bukit, bulan ini justru menjadi ujian yang sangat berat. Segala sesuatu telah berubah, dan suasana yang dulu akrab kini berganti dengan kesedihan.
“Memasuki Ramadan ini memang mungkin cobaan bagi kami. Banyak hal berubah,” ujar Maini lirih. Kebutuhan mendesak mereka saat ini bukanlah sekadar bantuan pangan sesaat, melainkan kepastian akan tempat tinggal yang aman. Mereka merindukan rumah permanen yang tidak jauh dari Batu Busuk, tempat mereka mencari nafkah sebagai buruh atau petani.
Tak jauh dari lokasi Maini, Siti Rohani juga berusaha mengumpulkan sisa-sisa ketabahan. Ia memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi di atas bukit. Rumah lamanya kini hanya tinggal kenangan yang tak mungkin lagi dihuni karena risiko bencana yang selalu mengintai. Siti merasakan dampak ekonomi yang sangat parah, di mana sawah dan ladang yang menjadi sumber penghidupan tertimbun material banjir. “Yaa, bagaimana lagi, itu kehendak Yang Kuasa. Kita hanya umat yang diuji, semestinya harus bersabar,” ucap Siti dengan nada pasrah, sebuah kepasrahan yang lahir dari ketidakberdayaan namun tetap diliputi iman.
Kesedihan Siti semakin bertambah saat melihat tradisi balimau, ritual mandi menyambut Ramadan, terancam hilang. Tempat pemandian yang biasanya ramai oleh canda tawa kini sepi. Airnya mengecil dan keruh, tidak lagi layak untuk digunakan sebagai sarana penyucian diri secara simbolis. Pengunjung dari luar pun tak lagi berdatangan. Batu Busuk yang dulu asri kini terlihat muram dengan infrastruktur yang rusak dan belum tersentuh perbaikan.
Ramadan kali ini juga memaksa warga untuk melakukan perjalanan spiritual yang penuh tantangan. Tanpa Surau Jamiaturrahmah, mereka harus berjalan menuju masjid atau musala di kampung lain untuk melaksanakan salat tarawih. Sebuah perjalanan yang sarat dengan beban ingatan akan surau kebanggaan mereka. “Kami terpaksa salat Tarawih ke masjid lain. Tentu suasananya berbeda, ingatan kami masih di surau yang dulu,” tutur Siti. Kerinduan akan suara azan yang dulu menggema dari surau mereka sendiri begitu mendalam.
Kini, warga Lambung Bukit hanya bisa menatap langit, berharap Ramadan kali ini membawa ketenangan di tengah puing-puing kehilangan. Sebab bagi mereka, sabar bukan lagi sekadar kata, melainkan nafas untuk bertahan hidup di tengah sisa-sisa bencana.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…