Dampak tersembunyi polusi laut terhadap satwa liar semakin terungkap melalui penelitian terbaru yang menyoroti bagaimana kontaminan kimia, khususnya merkuri, dapat merusak fungsi seluler fundamental. Studi ini secara spesifik menemukan bahwa merkuri mengganggu mitokondria, yang dikenal sebagai “pembangkit tenaga” dalam sel, pada burung laut. Gangguan ini memiliki implikasi serius bagi kesehatan dan kelangsungan hidup spesies tersebut.
Para ilmuwan dalam penelitian ini menggunakan metode inovatif untuk mengukur dampak merkuri. Mereka menganalisis respirasi mitokondria dalam sel darah merah burung laut. Sel darah merah dipilih karena mengandung mitokondria yang aktif, dan analisis berbasis darah ini dapat mencerminkan metabolisme seluruh tubuh. Keunggulan metode ini adalah memungkinkan studi lapangan dilakukan tanpa perlu membahayakan hewan secara fisik, menjadikannya pendekatan yang etis dan praktis.
Penelitian ini dipimpin oleh tim ilmuwan internasional yang berpusat di Max Planck Institute for Biological Intelligence, dengan peneliti utama Stefania Casagrande. Obyek studi adalah burung Scopoli’s shearwaters, spesies yang berkembang biak di Pulau Linosa. Pulau ini merupakan pulau vulkanik terpencil yang terletak di Selat Sisilia.
Meskipun Pulau Linosa tampak jauh dari pusat-pusat industri, lokasinya yang terisolasi justru menjadikannya sebuah “laboratorium alami” yang ideal. Kondisi geografis ini memungkinkan para peneliti untuk mengamati bagaimana polusi global dapat merembes dan memengaruhi lingkungan laut yang secara kasat mata tampak masih murni. Temuan ini menegaskan bahwa merkuri yang berasal dari aktivitas industri di daratan dapat terbawa hingga ke kawasan laut lepas yang jauh dari sumbernya.
Di lingkungan laut, merkuri mengalami transformasi oleh bakteri menjadi metilmerkuri. Bentuk ini jauh lebih beracun dan memiliki kecenderungan untuk terakumulasi dalam jaringan organisme. Seiring berjalannya rantai makanan, konsentrasi metilmerkuri akan semakin tinggi pada predator puncak. Ini berarti bahwa burung laut, yang berada di tingkat trofik yang lebih tinggi, berpotensi terpapar dan mengakumulasi merkuri dalam jumlah yang signifikan.
Studi ini menemukan korelasi langsung antara tingkat merkuri dalam tubuh burung dengan kerusakan pada mitokondria. Burung yang memiliki konsentrasi merkuri lebih tinggi menunjukkan perubahan pada membran mitokondrianya, membuatnya menjadi lebih berpori. Fenomena ini dikenal sebagai ‘proton leak’.
Bayangkan mitokondria sebagai turbin pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Energi yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan listrik (dalam sel, ini adalah ATP, molekul penyimpan energi) justru terlepas begitu saja seperti air yang mengalir melewati turbin tanpa menghasilkan daya. ‘Proton leak’ ini menyebabkan sel kehilangan energi secara efisien, karena sebagian besar energi yang seharusnya dikonversi menjadi ATP justru terbuang.
Para peneliti menyimpulkan bahwa merkuri secara efektif mengurangi efisiensi seluler pada burung laut. Penurunan efisiensi energi ini berpotensi mengancam kelangsungan hidup, kemampuan reproduksi, dan kesehatan jangka panjang spesies tersebut. Dampak ini bisa sangat kritis, terutama selama musim kawin ketika kebutuhan energi burung meningkat drastis. “Energi satwa bisa hilang dengan signifikan,” demikian laporan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Earth pada 4 Februari 2026.
Lucie Michel, seorang peneliti dari University Giessen yang turut terlibat dalam studi ini, menekankan bahwa fenomena kontaminasi zat kimia pada burung laut merupakan masalah yang kompleks dan mengancam. Ia juga menambahkan bahwa dampak merkuri ini harus dilihat dalam konteks ancaman lain yang juga dihadapi satwa laut, seperti penangkapan ikan berlebih yang mengurangi sumber makanan dan pemanasan global yang mengubah ekosistem laut.
Temuan ini berfungsi sebagai peringatan dini yang krusial. Hilangnya energi secara halus di tingkat seluler dapat melemahkan populasi satwa liar secara signifikan, bahkan sebelum penurunan jumlah yang terlihat mata terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa dampak polusi mungkin lebih insidious dan memerlukan perhatian serta tindakan pencegahan yang lebih komprehensif.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…