Kemeriahan Imlek di Taiwan: Lampion Ultraman, Bazar Meriah, dan Filosofi Kuliner
Menyambut datangnya Tahun Baru Imlek, Taiwan bertransformasi menjadi negeri penuh cahaya dan kemeriahan. Suasana perayaan yang unik ini dibagikan oleh Sulistyandari SE MSi, seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang tengah menempuh pendidikan doktoral di National Yunlin University of Science and Technology (NYUST), Douliu, Yunlin, Taiwan.
Bagi masyarakat Taiwan, Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, melainkan sebuah momen penting yang mengubah ruang-ruang publik menjadi pusat kegiatan budaya dan kebersamaan. Dari kemegahan Taipei di utara hingga semaraknya Kaohsiung di selatan, perayaan Imlek di Taiwan diwarnai oleh cahaya lampion yang memukau, kekayaan kuliner, serta berbagai aktivitas yang menghangatkan.
“Masyarakat menyambut tahun baru dengan cahaya, kuliner, dan kegiatan yang hangat,” ujar Sulistyandari, yang merupakan ahli dalam bidang corporate finance, saat berbagi pengalamannya.
Festival Lampion: Simbol Harapan dan Keberuntungan
Salah satu daya tarik utama yang paling dinantikan saat perayaan Imlek di Taiwan adalah festival lampion yang diselenggarakan di berbagai kota besar. Festival-festival ini menjadi magnet bagi warga lokal maupun wisatawan, menampilkan instalasi lampion raksasa yang memukau, ornamen tematik yang kreatif, serta jalur cahaya yang mengubah malam menjadi panggung keindahan.
Di antaranya yang paling terkenal adalah Taipei Lantern Festival dan Kaohsiung Lantern Festival. Namun, festival lampion tingkat nasional yang paling ditunggu adalah Taiwan Lantern Festival. Pada tahun ini, festival berskala nasional tersebut dijadwalkan berlangsung di Chiayi pada awal Maret.
“Instalasi lampion raksasa, ornamen tematik, serta jalur cahaya malam hari menjadi simbol harapan dan keberuntungan bagi masyarakat,” jelas Sulistyandari.
Keunikan Lampion Ultraman di Kaohsiung
Perayaan Imlek di Kaohsiung menawarkan sentuhan yang berbeda dan sangat menarik. Kawasan Love River Bay menyelenggarakan festival musim dingin bertajuk “Kaohsiung Wonderland” dengan tema yang tak terduga: Ultraman.
Figur ikonik pahlawan super ini dipasang dengan megah di tepi sungai, berpadu harmonis dengan pertunjukan cahaya yang spektakuler, wahana keluarga yang menyenangkan, serta beragam aktivitas hiburan lainnya. Perpaduan antara budaya populer, seperti Ultraman, dengan tradisi Tahun Baru Imlek ini menunjukkan betapa kreatif dan modernnya cara Taiwan merayakan momen penting ini.
“Perpaduan budaya populer dengan tradisi tahun baru menunjukkan bagaimana Taiwan merayakan Imlek secara kreatif dan modern,” ungkap Sulistyandari.
Bazar dan Pasar Malam: Jantung Perayaan Imlek
Selain festival lampion yang megah, suasana Imlek di Taiwan juga sangat terasa melalui maraknya bazar musiman dan pasar malam. Di berbagai kota, pasar malam yang biasanya ramai menjadi semakin semarak menjelang Imlek. Dekorasi bernuansa merah dan emas mendominasi, menawarkan berbagai ornamen keberuntungan, serta hidangan khas Tahun Baru yang menggugah selera.
Aroma jajanan jalanan yang khas, seperti xiao chi (makanan ringan), kue beras manis, hingga manisan tradisional, menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman merayakan Imlek di Taiwan.
Salah satu lokasi paling ikonik yang menjadi pusat bazar Imlek terbesar di Taipei adalah Dihua Street. Kawasan bersejarah ini setiap tahunnya berubah menjadi lautan manusia yang berburu segala kebutuhan Imlek. Mulai dari jajanan tradisional, buah kering, manisan, hingga dekorasi bernuansa merah seperti gantungan shio, lampion kecil, dan berbagai ornamen keberuntungan lainnya.
Pada tahun 2026, bazar tahunan di Dihua Street berlangsung mulai tanggal 31 Januari hingga 15 Februari, hanya digelar sekali dalam setahun menjelang Tahun Baru Imlek. Suasana di Dihua Street, yang ramai dan padat, menjadi gambaran khas Imlek di Taiwan: penuh semangat menyambut datangnya tahun yang baru.
Makna Filosofis di Balik Hidangan Wajib Imlek
Perayaan Imlek tidak lengkap tanpa hidangan khas yang kaya akan makna filosofis. Di meja makan keluarga Taiwan, beberapa makanan hampir selalu hadir karena dipercaya membawa simbol keberuntungan dan harapan.
- Pangsit: Makanan ini melambangkan kekayaan, karena bentuknya yang menyerupai batangan emas kuno.
- Ikan: Sajian ikan merupakan hidangan wajib. Dalam bahasa Mandarin, kata “yu” yang berarti ikan memiliki bunyi yang sama dengan kata “kelimpahan”. Ikan biasanya disajikan utuh sebagai simbol keutuhan dan keberuntungan yang berlimpah.
- Jeruk: Buah jeruk menjadi salah satu buah yang paling sering diberikan atau diletakkan di rumah selama Imlek. Warnanya yang keemasan dipercaya membawa kemakmuran. Selain itu, bunyi kata “jeruk” dalam bahasa Mandarin diasosiasikan dengan keberuntungan.
- Mi Panjang (Longevity Noodles): Mi yang panjang dan tidak dipotong melambangkan umur panjang dan kesehatan. Harapannya, doa untuk panjang umur dapat tetap utuh.
- Kue Keranjang (Nian Gao): Kue tradisional ini memiliki tekstur yang lengket, melambangkan eratnya hubungan keluarga. Namanya sendiri berarti “tahun yang lebih tinggi”, sebagai doa agar kehidupan dan rezeki senantiasa meningkat setiap tahunnya.
Perayaan Imlek yang Merakyat di Douliu
Kemeriahan Imlek tidak hanya terpusat di kota-kota besar. Di Douliu, Yunlin, kota tempat Sulistyandari tinggal, suasana perayaan Imlek terasa lebih dekat dan membumi. Lampion-lampion menghiasi jalan-jalan utama, sementara festival lampion lokal menghadirkan instalasi cahaya yang menarik di ruang-ruang publik yang ramai dikunjungi oleh keluarga.
Pasar malam di Douliu pun tak kalah ramai, dipadati oleh warga yang berburu kuliner khas Imlek sambil menikmati kebersamaan. Suasana ini menunjukkan bahwa semangat perayaan Imlek dapat dirasakan di setiap sudut Taiwan, baik dalam kemegahan skala besar maupun dalam kehangatan momen-momen sederhana.







