BANGKALAN, –
Salah satu santri yang selamat dari tragedi ambruknya mushala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, adalah Alfatih Cakra Buana (14), asal Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Alfatih menceritakan bahwa dirinya terlindungi oleh timbunan pasir saat mushala lantai tiga tersebut ambruk. Saat peristiwa terjadi, para santri tengah menjalankan salat Ashar.
“Jadi tubuh anak saya tenggelam ke pasir sehingga reruntuhan bangunan tidak menyentuh tubuh anak saya. Sedangkan bagian wajahnya terlindungi seng, jadi bagian wajah tidak luka,” ujar ayah Alfatih, KH Abdul Hannan, Minggu (5/10/2025).
Alfatih sendiri mengisahkan bahwa ia berada di saf tengah saat shalat Ashar, sebelum tiba-tiba merasakan guncangan seperti gempa.
“Saya ada di saf tengah dan shalat Ashar bersama teman-teman,” kata Alfatih.
Tak lama, bangunan mushala ambruk menimpa seluruh santri di dalamnya. Alfatih mengaku sempat pingsan dan saat sadar, mendapati dirinya dalam kondisi gelap dan miring ke kiri.
“Awalnya saya kira gempa, lalu bangunan ambruk. Saya pingsan, bangun-bangun sudah gelap. Posisi saya miring ke kiri,” imbuhnya.
Di bawah reruntuhan, Alfatih tidak banyak ingat apa yang terjadi. Ia mengira sempat pingsan berulang kali, bahkan bermimpi sedang bermain dengan teman-temannya.
“Di dalam sana saya hanya mimpi bermain sama teman-teman. Yang saya ingat, saya seperti bermain handphone dan bersepedahan dengan teman-teman,” ungkapnya.
Alfatih juga mengaku tidak makan dan minum selama tertimbun. Namun, ia sempat merasa minum dalam mimpinya.
“Saat bangun rasanya haus sekali dan sudah bernafas,” tambahnya.
Ia lalu mendengar suara tim penyelamat dan melihat cahaya senter, yang membuatnya sadar bahwa bantuan telah tiba.
“Saya bangun karena ada suara itu dan saya melihat cahaya lampu. Alhamdulillah, setelah itu saya berhasil keluar dari sana,” katanya.
Alfatih berharap teman-temannya yang masih tertimbun segera bisa ditemukan dan diselamatkan.
“Semoga segera ditemukan dan diselamatkan,” pungkasnya.
Diketahui, Alfatih tertimbun selama 3 hari, sejak Senin hingga Rabu. Ia berhasil dievakuasi pada malam Kamis dan langsung dibawa ke RSUD R.T Notopuro Sidoarjo untuk perawatan.
Setelah dirawat selama dua hari, Alfatih diperbolehkan pulang dan keluarganya membawanya kembali ke Bangkalan. Setibanya di rumah, ia sempat mengunjungi makam kakek dan neneknya.
Tragedi ini menjadi pengalaman yang sangat traumatik bagi Alfatih. Meskipun ia berhasil selamat, rasa takut dan ketakutan tetap melekat di pikirannya.
Proses penyelamatan yang dilakukan oleh tim evakuasi terbilang sangat menegangkan.
Meskipun fisik Alfatih telah pulih, dampak psikologis dari kejadian ini tidak bisa diabaikan.
Tragedi ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…