Selat Sunda bukan hanya sekadar jalur laut yang menghubungkan Jawa dan Sumatra, tetapi juga ruang sejarah yang pernah menjadi pusat kekuatan maritim besar bernama Kesultanan Banten. Di abad ke-16 dan ke-17, selat ini menjadi jantung dari arus perdagangan global. Dari titik ini pula kekuasaan dibangun, baik secara politik maupun ekonomi. Namun, kini Selat Sunda berada dalam bayang-bayang masa lalunya sendiri, meskipun pernah menjadi jalur strategis yang menentukan.
Pada masa Kesultanan Banten, Selat Sunda memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan dunia. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, arus perdagangan global mengalami perubahan signifikan. Dalam situasi tersebut, Kesultanan Banten muncul sebagai alternatif strategis. Pelabuhan-pelabuhan di wilayah ini menjadi tempat pertemuan bagi pedagang dari Timur Tengah, India, hingga Asia Timur. Dalam konteks ini, Selat Sunda tidak hanya berfungsi sebagai jalur transit, tetapi juga sebagai alat kekuasaan ekonomi dan politik.
Sejarawan Anthony Reid mencatat bahwa kota-kota pelabuhan Asia Tenggara pada masa itu berfungsi sebagai “cosmopolitan trading hubs integrated into global commerce.” Kesultanan Banten adalah contoh paling menonjol dari fenomena ini. Ia tidak hanya menjadi pelabuhan regional, tetapi juga bagian dari sistem perdagangan global yang sedang berkembang pesat.
Namun, kejayaan Banten tidak bertahan lama. Ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) hadir, permainan berubah secara fundamental. Banten masih menjalankan perdagangan terbuka, sementara VOC bekerja dalam logika sistem global yang terintegrasi dan monopolistik. VOC tidak hanya berdagang, tetapi juga mengendalikan distribusi, harga, dan arah perdagangan.
Kunci kekuatan VOC terletak pada kemampuannya menguasai titik-titik sempit perdagangan dunia. Setelah merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten dan mengubah namanya menjadi Batavia, VOC menjadikan kota ini sebagai pusat operasi. Dengan demikian, VOC secara efektif mengendalikan arus antara Selat Sunda dan Selat Malaka, dua jalur utama yang menghubungkan Samudra Hindia dengan jaringan perdagangan Asia Timur.
Sejarawan Leonard Blussé menunjukkan bahwa kekuatan VOC di Asia tidak bertumpu pada penguasaan wilayah luas, melainkan pada kontrol atas “strategic nodes of trade and shipping.” Melalui kombinasi kekuatan militer, monopoli dagang, dan inovasi finansial, VOC menciptakan sistem di mana kapal-kapal yang melintas tidak hanya bergerak secara geografis, tetapi juga masuk dalam struktur kontrol ekonomi yang mereka bangun.
Fernand Braudel dalam analisisnya tentang ekonomi dunia menyatakan, “whoever controls the nodes of circulation controls the economy itself.” Pernyataan ini menjelaskan bagaimana VOC tidak sekadar hadir sebagai pedagang, tetapi sebagai pengendali struktur peredaran global. Dalam kerangka sistem dunia, Immanuel Wallerstein menegaskan bahwa “the modern world-system is organized around a core that monopolizes high-profit production while peripheral regions supply raw materials.”
Apa yang terjadi pada Banten bukan sekadar episode sejarah, tetapi pola struktural yang tampaknya berulang dalam bentuk yang lebih modern. Indonesia hari ini tetap menjadi pemain penting dalam perdagangan global, tetapi sebagian besar masih berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah. Nikel, batu bara, dan kelapa sawit mengalir keluar negeri dalam volume besar, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh negara dan korporasi asing.
Situasi ini mencerminkan posisi periferi dalam sistem dunia: wilayah yang menyediakan sumber daya, tetapi tidak mengendalikan distribusi dan akumulasi nilai. Dalam konteks ini, Indonesia tidak sepenuhnya berbeda dari Banten beberapa abad lalu.
Selat Sunda memperlihatkan paradoks tersebut secara konkret. Ribuan kapal melintasinya, tetapi Indonesia tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap arus perdagangan global yang melewati jalur itu. Tidak ada kontrol terhadap tarif strategis, tidak ada dominasi dalam logistik internasional, dan tidak ada kapasitas untuk menjadikan jalur tersebut sebagai instrumen tawar geopolitik.
Sementara itu, kekuatan global modern, baik negara maupun korporasi multinasional, beroperasi dengan logika yang sangat mirip dengan VOC di masa lalu, yakni menguasai sistem, bukan sekadar ruang. Mereka mengendalikan rantai pasok, teknologi, pembiayaan, dan pasar secara simultan.
Pertanyaan kunci bagi Indonesia bukan lagi apakah Selat Sunda strategis, melainkan apakah Indonesia mampu menjadikannya strategis dalam arti yang sesungguhnya. Tanpa intervensi kebijakan yang serius, Selat Sunda akan tetap menjadi jalur alternatif yang hanya relevan dalam kondisi darurat, bukan dalam arsitektur normal perdagangan global.
Untuk mengubah keadaan ini, Indonesia tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi harus masuk ke dalam penguasaan sistem: logistik global, industri hilir, teknologi maritim, dan arsitektur pembiayaan internasional. Tanpa itu, setiap kapal yang melintas di Selat Sunda hanya akan mempertegas posisi Indonesia sebagai penonton di wilayahnya sendiri.
Dengan demikian, Selat Sunda bukan hanya persoalan strategi maritim, tetapi juga cermin dari sejarah yang belum selesai. Selama Indonesia belum mampu menguasai sistem yang menggerakkan jalur tersebut, maka Selat Sunda akan tetap berada dalam bayang-bayang Banten, pernah strategis, tetapi tidak pernah benar-benar berdaulat.
Keunggulan Blugrana Memastikan Kekalahan Atletico Pertandingan antara Barcelona dan Atlético Madrid dalam pekan ke-30 La…
Peran Lurah dan Camat dalam Memastikan Kepatuhan Pembayaran Pajak dan Retribusi Anggota DPRD Palu, Rustia…
Barcelona Memperkuat Posisi di Puncak Klasemen Liga Spanyol Barcelona berhasil mencatat kemenangan penting dalam pertandingan…
Di berbagai wilayah di Amerika Serikat, pemandangan yang akrab terlihat adalah rumah-rumah kecil dari era…
Kasus Narkoba di Jambi: Penyidik Dihukum Demosi Akibat Kelalaian Kasus narkoba yang menimpa Polda Jambi…
Ekspansi Global melalui Basis Inovasi di Eropa Leapmotor memperkuat langkah ekspansi globalnya dengan meresmikan pusat…