Peningkatan Aktivitas Pedagang Saat Perayaan Paskah di Palangka Raya
Di kawasan Pemakaman Kristen Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Palangka Raya, suasana terasa lebih ramai dibandingkan hari biasa. Banyak pedagang musiman mulai membuka lapak mereka, menjajakan berbagai barang seperti bunga, lilin, dan minuman kepada para peziarah yang datang silih berganti.
Salah satu pedagang, Siti Sulilawati (38), mengatakan bahwa momentum Paskah menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan. Ia mulai berjualan seminggu sebelum malam Paskah. Menurutnya, pendapatan tergantung pada modal yang dimiliki. “Kalau modalnya banyak ya banyak hasilnya,” ujarnya saat ditemui pada Sabtu (4/4/2026) malam.
Siti menyebut bahwa penjualan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan hari biasa maupun periode Paskah tahun lalu. “Ada peningkatan. Sama tahun kemarin memang ada peningkatan, soalnya kan tanggal muda,” katanya.
Menurutnya, penjualan paling tinggi terjadi pada hari puncak Paskah, dengan produk yang paling diminati berupa bunga, lilin, dan minuman dingin. “Puncaknya kan hari ini. Yang laku bunga, lilin sama es,” jelasnya.
Sehari-hari, Siti berjualan di sekitar sekolah dasar di kawasan Antang. Namun, setiap menjelang Paskah, ia memilih beralih berjualan di area pemakaman selama sekitar satu pekan. “Ini kan setahun sekali, jadi sempatkan di sini aja. Nanti mungkin hari Senin insya Allah jualan di sekolah lagi,” jelasnya.
Ia memperkirakan omzet kotor yang diperoleh selama periode ramai ini berkisar Rp3 juta hingga Rp4 juta. “Kotor saja mungkin 3 sampai 4 jutaan lah, belum termasuk modal,” tambahnya.
Pedagang lainnya, Mariatul (35), juga merasakan peningkatan penjualan. Ia merupakan pedagang yang rutin berjualan setiap momen Paskah. “Kalau peningkatan sih ada,” katanya.
Ia menyebut kenaikan pendapatan tahun ini turut dipengaruhi oleh meningkatnya harga barang dagangan, sehingga modal yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. “Modalnya juga lebih besar dari tahun lalu,” ujarnya.
Mariatul mulai berjualan sejak Kamis lalu. Meski belum menghitung secara rinci, ia memperkirakan total pendapatannya selama periode tersebut mencapai lebih dari Rp5 juta. “Mungkin kalau kisarannya di atas lima (juta, red),” ungkapnya.
Namun demikian, ia melihat adanya perubahan pola keramaian peziarah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Kalau dulu mungkin lebih fokusnya ke sini, kalau sekarang kan terbagi di Km 12,” katanya.
Momentum Paskah yang datang setahun sekali ini dimanfaatkan para pedagang sebagai peluang untuk menambah penghasilan di tengah aktivitas sehari-hari. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan para peziarah, tetapi juga memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan pendapatan mereka.
Kesiapan dan Strategi Berjualan Saat Paskah
Para pedagang tidak hanya mengandalkan keberuntungan, tetapi juga memiliki strategi khusus dalam menjual barang dagangannya. Mulai dari mempersiapkan barang yang laku di pasar, hingga menentukan lokasi yang strategis untuk berjualan. Dalam hal ini, kawasan pemakaman menjadi salah satu tempat yang sangat diminati karena jumlah peziarah yang cukup besar.
Beberapa pedagang bahkan memilih untuk berpindah lokasi usaha selama periode Paskah. Hal ini dilakukan agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli. Misalnya, Siti Sulilawati yang biasanya berjualan di sekitar sekolah dasar, memilih untuk berjualan di area pemakaman selama sepekan.
Strategi lain yang digunakan adalah memperhatikan waktu berjualan. Beberapa pedagang mulai membuka lapak beberapa hari sebelum hari Paskah, sehingga bisa memaksimalkan waktu untuk menjual barang dagangannya.
Selain itu, para pedagang juga memperhatikan permintaan pasar. Bunga, lilin, dan minuman dingin menjadi produk utama yang dicari oleh para peziarah. Oleh karena itu, mereka memastikan stok barang yang cukup agar tidak kehabisan saat permintaan tinggi.






