Kegiatan istighosah kubro digelar di kawasan Kampung Family, Lebak Bulus, Cinere, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 4 April 2026. Acara ini diprakarsai oleh Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara, Muhammad Rofi’i Muchlis yang akrab disapa Gus Rofi’i. Istighosah kubro kali ini mengangkat semangat doa bersama untuk terciptanya perdamaian dunia serta dukungan moral terhadap Iran di tengah situasi konflik yang sedang berlangsung.
Banyak tokoh agama hadir memimpin rangkaian doa bersama. Di antaranya adalah Muhammad Ali Rahman, KH. Rahmat Zailani Kiki, KH. Alawi Nurul Alam, serta TB. Mogi Nur Fadhil. Selain para ulama, kegiatan ini juga dihadiri berbagai unsur masyarakat, seperti kalangan Nahdiyin, Laskar PWI, BKN Banten, hingga insan media yang ikut menyaksikan jalannya acara.
Gus Rofi’i menegaskan bahwa pelaksanaan istighosah kubro ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon kedamaian bagi seluruh umat manusia.
“Perdamaian dunia bukan hanya milik satu golongan atau satu agama saja. Semua manusia berhak hidup dengan rasa aman tanpa adanya penindasan,” ujar Gus Rofi’i.
Ia juga menyoroti kondisi Iran yang menurutnya membutuhkan perhatian dan doa dari masyarakat internasional. Menurutnya, masyarakat sipil tidak memiliki kekuatan fisik atau militer, sehingga doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan.
“Kami tidak punya senjata dan tidak punya kekuatan militer. Tapi kami punya doa. Karena itu kami mengajak para kiai dan masyarakat untuk bersama-sama bermunajat,” katanya.
Selain membahas isu global, Gus Rofi’i turut menyampaikan rasa duka atas gugurnya tiga prajurit TNI yang sedang menjalankan misi perdamaian di Lebanon, yakni Pratu Anumerta Rachmat Hidayat, Pratu Anumerta Andika Pratama, dan Pratu Anumerta Dwi Cahyo.
Ia menilai tugas yang dijalankan para prajurit tersebut merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang patut dihormati.
“Mereka berangkat bukan untuk berperang, tetapi menjalankan tugas perdamaian. Sangat disayangkan jika dalam misi seperti itu harus kehilangan nyawa,” ungkapnya.
Gus Rofi’i juga menyatakan kecaman terhadap tindakan kekerasan yang menyebabkan gugurnya prajurit Indonesia tersebut.
“Saya mengutuk keras segala bentuk kekerasan yang merenggut nyawa mereka. Ini bukan hanya persoalan negara, tetapi menyangkut nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia menyinggung pentingnya evaluasi terhadap keterlibatan Indonesia dalam kerja sama internasional tertentu yang dinilai perlu ditinjau kembali secara serius.
“Sebagai rakyat, kami hanya bisa menyampaikan aspirasi. Namun ke depan, negara harus berdiri di atas kedaulatannya sendiri tanpa tekanan dari pihak mana pun,” ujarnya.
Terkait perbedaan pandangan antara mazhab Sunni dan Syiah, Gus Rofi’i mengingatkan bahwa perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun solidaritas kemanusiaan.
“Kalau masih memperdebatkan perbedaan, berarti belum memahami esensi ajaran. Yang utama adalah kemanusiaan dan keberpihakan pada kebenaran,” jelasnya.
Gus Rofi’i juga menyampaikan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto agar berani menunjukkan sikap tegas terhadap berbagai persoalan global, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan prajurit Indonesia.
“Seorang pemimpin harus berani mengambil sikap tegas. Minimal menyuarakan kecaman terhadap tindakan yang tidak manusiawi,” tutupnya.
Jadwal dan Hasil Balapan MotoGP Spanyol 2026 Balapan utama pada MotoGP Spanyol 2026 akan berlangsung…
Penyanyi Denada akhirnya bertemu dengan putra kandungnya, Ressa Rossano. Setelah pertemuan tersebut, Denada merasa ingin…
WhatsApp Semakin Canggih: Terjemahan Otomatis Hadir untuk Komunikasi Tanpa Batas Dunia komunikasi digital terus berkembang,…
Ribuan Jemaat GMIM Imanuel Bahu Ikuti Pawai Obor Malam Paskah Ribuan anggota jemaat Gereja Masehi…
Pemerintah Akan Tanggung Biaya Kerusakan Akibat Gempa di Sulawesi Utara dan Maluku Utara Kepala Badan…
Informasi Terkini: Tidak Ada Aksi Demo di Jakarta Hari Ini Hingga Senin (23/3/2026) pukul 06.31…