Novel Eropa Metamorfosis Jadi Cerita Wayang di Denpasar Bali Saat Saraswati

Pementasan Wayang yang Berbeda di Denpasar

Di Indonesia, khususnya di Bali, lakon wayang biasanya diambil dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Namun pada malam hari Sabtu, 4 April 2026, bertepatan dengan perayaan Saraswati, masyarakat Denpasar disajikan dengan pementasan wayang yang tidak biasa.

Lakon yang ditampilkan berasal dari novel Eropa karya Franz Kafka berjudul Metamorfosis. Pementasan ini digelar di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Renon, Denpasar. Durasi pementasan hanya 45 menit, tetapi pesannya sangat dalam.

Bacaan Lainnya

Pementasan ini dibawakan oleh Sigit Susanto, seorang seniman yang dikenal sebagai ‘maniak’ karya Kafka. Ia lahir di Kendal, pernah tinggal di Bali, dan saat ini menetap di Swiss. Sigit memilih untuk mengangkat Metamorfosis karena dianggap relevan dengan kondisi saat ini.

Wayang yang dipentaskan dibuat khusus dari kulit sapi. Karakter-karakter dalam novel ini ditampilkan dengan wajah orang-orang Eropa, khususnya Praha pada tahun 1920-an. Bahkan gaya bangunan di masa itu juga direpresentasikan dalam pementasan ini.

Seluruh tokoh dalam Metamorfosis hadir dalam bentuk wayang, mulai dari Gregor Samsa, adiknya Grete Samsa, ayah dan ibu mereka, bos di kantor, hingga pembantu rumah tangga. Gregor yang berubah menjadi semacam kumbang atau kecoa digambarkan dalam beberapa pose, termasuk saat ia masih berada di atas ranjang dan menyadari dirinya berubah menjadi makhluk aneh.

Pementasan wayang ini dilakukan layaknya pementasan wayang lemah di Bali. Sigit tampil sendirian, diiringi musik modern. Bahkan terdapat irama dangdut saat Grete memainkan biola. Hal ini memberikan nuansa yang berbeda dari pementasan wayang biasanya.

Sigit menyebut bahwa Metamorfosis adalah karya Kafka yang paling mendapat perhatian luas. Menurutnya, keseluruhan karya Kafka telah diinterpretasikan sebanyak 6.000 kali, baik dalam bentuk tesis maupun disertasi.

Menurut Sigit, Metamorfosis sangat diminati saat ini karena sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. “Dalam Metamorfosis, semua tegang dan gelap. Itu sangat relate dengan kehidupan mereka yang masih muda, tidak tahu mau ke mana ke depannya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa semua karya Kafka memang sulit dipahami dalam sekali baca. Meski begitu, Sigit telah menerjemahkan beberapa karya Kafka, termasuk Metamorfosis, ke dalam bahasa Indonesia. “Semua karyanya tidak ada yang happy ending. Semua sad ending,” tambahnya.

Salah satu sastrawan yang hadir dalam pementasan ini, GM Sukawidana, menyebut langkah Sigit untuk mewayangkan Metamorfosis sangat berani dan luar biasa. “Karena selama ini, khususnya di Bali, belum ada yang melakonkan novel dalam wayang. Semestinya kisah Jayaprana Layonsari, Sampek Engtay juga bisa dilakonkan,” katanya.

Menurutnya, jika wayang ini ditampilkan di Swiss, akan dianggap sebagai pembaharuan dalam menilai sebuah novel. “Ini luar biasa. Wayang yang merupakan tradisi Nusantara melakonkan novel Eropa dengan penggambaran modern,” imbuhnya.


Pos terkait