Wamenkes: Masak MBG Terlalu Lama Picu Keracunan Siswa Jakarta Timur

Kebijakan Makan Bergizi Gratis Menghadapi Masalah Keamanan Pangan

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benyamin Paulus Oktavianus, mengungkapkan kekhawatirannya terkait kasus keracunan yang menimpa siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Insiden ini terjadi setelah puluhan siswa mengalami gejala seperti sakit perut dan mual setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2.

Menurut data dari Badan Gizi Nasional (BGN), lebih dari 60 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu spaghetti yang diberikan. Wakil Menteri Kesehatan yang akrab disapa Benny ini menjelaskan bahwa penyebab utama kejadian ini adalah jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi makanan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas makanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Bacaan Lainnya

“Sudah ditinjau oleh BGN. SPPG itu ternyata antara proses pembuatan dan waktu santapnya terlalu lama,” ujar dia saat ditemui di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026).

BGN Memohon Maaf dan Menjamin Biaya Pengobatan

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menyampaikan permohonan maaf atas insiden ini sambil menjamin pembiayaan medis bagi puluhan siswa yang terkena dampak. Insiden ini terjadi pada Jumat (3/4), setelah sebelumnya pada Kamis (2/4) sore, pihak SPPG menerima laporan dari guru terkait sejumlah siswa yang mengalami gejala seperti sakit perut, diare, dan mual usai mengonsumsi MBG.

Menu yang disajikan dalam acara tersebut meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi. Siswa yang terdampak keracunan berasal dari empat sekolah, yaitu SMA Negeri 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 07, dan SDN Pondok Kelapa 09.

Berdasarkan arahan BGN, seluruh biaya pengobatan dan pemulihan korban akan ditanggung sepenuhnya oleh BGN RI. “Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa tertangani dengan baik dan keluarga tidak dibebani persoalan biaya pengobatan,” tutur Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Penyebab dan Tindakan Lanjutan

Penyebab utama dari kejadian ini adalah jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi makanan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas makanan dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri atau jamur. Dalam situasi seperti ini, penting untuk memastikan bahwa makanan disajikan dalam kondisi segar dan aman untuk dikonsumsi.

Tindakan lanjutan yang dilakukan oleh BGN mencakup investigasi mendalam terhadap proses pengolahan dan penyajian makanan di SPPG Pondok Kelapa 2. Selain itu, BGN juga berkomitmen untuk memberikan pelatihan tambahan kepada staf dan petugas gizi agar lebih waspada terhadap standar keamanan pangan.

Dalam upaya memperbaiki sistem, BGN juga akan melakukan evaluasi terhadap semua unit layanan gizi yang terlibat dalam program MBG. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap langkah dalam proses pengolahan makanan sesuai dengan standar higienis dan keselamatan pangan.

Langkah Preventif dan Edukasi

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, BGN akan melakukan edukasi lebih lanjut kepada para petugas gizi dan pengelola program MBG. Edukasi ini akan mencakup pemahaman tentang waktu penyimpanan makanan, cara penyajian yang aman, serta tanda-tanda makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi.

Selain itu, BGN juga akan memperkuat sistem pengawasan dan inspeksi rutin terhadap semua tempat penyediaan makanan bergizi gratis. Dengan demikian, potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.


Pos terkait