5 CPNS Lapas Gunungsitoli Siap Hadapi Tugas dengan Kekuatan Luar Biasa

Kesiapan CPNS Lapas Kelas IIB Gunungsitoli Menghadapi Tugas Berat

Sebelum memasuki masa tugas resmi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Lapas Kelas IIB Gunungsitoli, lima calon pegawai negeri sipil (CPNS) mendapatkan pembekalan khusus. Mereka diberikan pelatihan intensif untuk menjadi petugas yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di lapangan.

Kelima CPNS tersebut adalah Viment Valentino Mendrofa, Oscar Jadi Eliezer Purba, Raja Darmawan, Cinta Yuri Ananda Lubis, dan Tanty Novita Br. Simanjuntak. Mereka mengikuti kegiatan mentoring bersama Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP), Makhriza, sebagai bagian dari tahapan akhir Pelatihan Dasar (Latsar).

Bacaan Lainnya

Dalam suasana yang serius namun tetap interaktif, Makhriza memberikan pembinaan langsung terkait tugas dan fungsi pengamanan di lingkungan pemasyarakatan. Ia menekankan bahwa menjadi petugas lapas bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan tanggung jawab besar yang menuntut kesiapan mental, integritas, dan disiplin tinggi.

“Di lapangan itu tidak selalu mudah. Kalian akan berhadapan dengan berbagai situasi yang menuntut ketegasan sekaligus kecermatan. Karena itu, integritas dan disiplin tidak bisa ditawar,” tegas Makhriza saat memberikan arahan.

Ia juga mengingatkan bahwa peran petugas pemasyarakatan sangat strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Menurutnya, setiap CPNS harus benar-benar memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi), serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai dasar ASN dalam setiap tindakan.

“Jangan hanya sekadar lulus Latsar. Yang terpenting adalah bagaimana kalian mengaktualisasikan nilai BerAKHLAK dalam tugas sehari-hari. Itu yang akan menentukan kualitas kalian sebagai aparatur negara,” tambahnya.

Kegiatan mentoring ini merupakan bagian dari Agenda IV Latsar CPNS Golongan II Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh BPSDM Sumatera Utara, khususnya pada tahapan habituasi dan aktualisasi. Di fase ini, para peserta dituntut tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di lingkungan kerja.

Sesi mentoring tidak berjalan satu arah. Para CPNS juga diberikan ruang untuk berdiskusi langsung, menyampaikan pertanyaan, hingga berbagi pandangan terkait tantangan yang mungkin mereka hadapi saat bertugas nanti. Salah satu peserta mengaku kegiatan itu membuka wawasan baru tentang realitas tugas di lapas yang selama ini hanya mereka pelajari secara teori.

“Banyak hal yang ternyata harus benar-benar dipersiapkan, terutama soal mental dan cara mengambil keputusan di situasi tertentu,” ungkapnya.

Lapas Kelas IIB Gunungsitoli sendiri terus berkomitmen mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas, sejalan dengan upaya memperkuat sistem pemasyarakatan yang aman dan tertib.

Fase Pelatihan CPNS: Teori dan Praktik Bersamaan

Pelatihan dasar (Latsar) bagi CPNS tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga pada penerapan langsung dalam kondisi nyata. Dalam fase habituasi dan aktualisasi, peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan.

Beberapa aspek yang ditekankan dalam pelatihan ini antara lain:

  • Pemahaman Tupoksi: Peserta diajarkan untuk memahami tugas pokok dan fungsi mereka sebagai petugas pemasyarakatan.
  • Integritas dan Disiplin: Seluruh peserta ditekankan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai inti ASN seperti integritas dan disiplin.
  • Kesiapan Mental: Pelatihan juga menekankan pentingnya persiapan mental dalam menghadapi situasi sulit di lapangan.
  • Kemampuan Mengambil Keputusan: Peserta dilatih untuk mampu membuat keputusan cepat dan tepat dalam situasi tertentu.

Pentingnya Diskusi dan Interaksi dalam Pelatihan

Selain sesi pembekalan langsung dari para pembimbing, kegiatan mentoring juga memberikan ruang bagi peserta untuk saling berdiskusi dan berbagi pengalaman. Hal ini membantu mereka memahami tantangan nyata yang akan mereka hadapi sebagai petugas lapas.

  • Peserta dapat menyampaikan pertanyaan atau masukan terkait tugas dan tanggung jawab mereka.
  • Diskusi juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana mempersiapkan diri secara lebih matang.
  • Interaksi ini membantu membangun rasa percaya diri dan kompetensi dalam menjalani tugas sehari-hari.

Komitmen Lapas Kelas IIB Gunungsitoli

Lapas Kelas IIB Gunungsitoli memiliki komitmen kuat untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas. Upaya ini sejalan dengan tujuan memperkuat sistem pemasyarakatan yang aman dan tertib.

Dengan pendekatan pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan, institusi ini berupaya menciptakan generasi petugas lapas yang siap menghadapi tantangan dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Pos terkait