Sakit Keringat Malam? Cek 7 Kemungkinan Ini!



Keringat Malam: Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai dan Penyebabnya

Keringat malam tidak hanya terasa tidak nyaman, tetapi juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius. Kondisi ini membuat tubuh Anda basah kuyup meskipun berada di ruangan yang sejuk, mengganggu tidur, dan menyebabkan kelelahan keesokan harinya. Berbeda dengan keringat biasa akibat panas atau olahraga, keringat malam menunjukkan bahwa pengaturan suhu tubuh Anda sedang tidak normal. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang perlu diketahui.

Bacaan Lainnya

Infeksi

Salah satu penyebab utama keringat malam adalah infeksi. Tubuh mempercepat produksi panas untuk melawan kuman, sehingga menyebabkan keringat berlebih. Contohnya, tuberkulosis (TB) sering kali menyebabkan keringat malam yang disertai batuk, demam, dan penurunan berat badan. Infeksi lain seperti HIV, endokarditis, osteomielitis, abses, jamur, atau mononukleosis juga bisa menjadi penyebabnya. Infeksi ini lebih umum terjadi di daerah padat penduduk, namun dapat diobati dengan antibiotik jika dini.

Perubahan Hormonal

Perubahan hormon juga bisa menjadi penyebab keringat malam. Misalnya, pada masa menopause atau perimenopause, kadar estrogen turun, sehingga mengganggu termostat tubuh dan menyebabkan sensasi panas. Wanita di usia 40-an atau 50-an sering terbangun dengan keringat berlebihan, terkadang disertai jantung berdebar atau perubahan suasana hati. Perubahan hormon juga bisa terjadi selama kehamilan atau sindrom pramenstruasi (PMS), yang mirip dengan gejala menopause.

Kanker

Beberapa jenis kanker, seperti limfoma dan leukemia, bisa menyebabkan keringat malam karena tubuh mencoba melawan sel-sel abnormal. Leukemia mungkin disertai dengan memar atau kelelahan, sementara limfoma menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening. Deteksi dini melalui biopsi atau pemindaian sangat penting untuk meningkatkan prognosis. Jika keringat malam disertai benjolan atau kelelahan yang berkelanjutan, segera lakukan pemeriksaan medis.

Hipertiroidisme

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) mempercepat metabolisme dan meningkatkan suhu tubuh, sehingga menyebabkan keringat berlebih, bahkan di malam hari. Gejalanya termasuk detak jantung yang cepat, tremor, penurunan berat badan meskipun makan lebih banyak, kecemasan, atau kelelahan. Kelenjar tiroid di leher memproduksi hormon secara berlebihan, yang bisa mengganggu tidur.

Kecemasan dan Stres

Masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres, atau PTSD juga bisa menyebabkan keringat malam. Respons “lawan atau lari” yang diaktifkan oleh stres meningkatkan produksi adrenalin, sehingga memicu keringat. Kekhawatiran di malam hari atau serangan panik bisa membuat Anda terbangun dalam keadaan basah kuyup. Stres kronis bisa memperburuk kondisi ini dan menciptakan siklus tidur yang buruk.

Gula Darah Rendah

Pada penderita diabetes atau pradiabetes, kadar gula darah rendah di malam hari (hipoglikemia) bisa menyebabkan pelepasan adrenalin yang meningkatkan glukosa, sehingga memicu keringat dingin, gemetar, atau kebingungan. Kondisi ini sering terjadi setelah pemberian insulin, melewatkan makan, atau berolahraga. Gejalanya termasuk sakit kepala atau mimpi buruk saat bangun tidur.

GERD atau Sleep Apnea

Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) bisa menyebabkan asam lambung naik di malam hari, mengiritasi kerongkongan dan memicu keringat disertai rasa tidak nyaman atau batuk. Sleep apnea, di mana pernapasan berhenti, memberi tekanan pada tubuh, meningkatkan detak jantung, dan menyebabkan keringat. GERD memburuk saat berbaring, sedangkan sleep apnea bisa memperparah dengkuran atau rasa kantuk di siang hari.

Keringat malam bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang serius. Oleh karena itu, jika kondisi ini terus-menerus terjadi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mengambil langkah pengobatan yang tepat.

Pos terkait