Tuntang Banjir, Ahmad Luthfi Ajak Kementerian Bahas Masalahnya

Banjir yang Berulang di Kabupaten Demak

Beberapa waktu terakhir, Kabupaten Demak kembali dilanda banjir besar akibat jebolnya tanggul Kali Tuntang. Dua kejadian banjir besar terjadi dalam waktu dua bulan, yaitu pada Senin, 16 Februari 2026 dan Jumat, 3 April 2026. Kejadian ini menunjukkan bahwa masalah banjir di wilayah tersebut belum sepenuhnya terselesaikan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan banjir di Kabupaten Demak harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menilai bahwa pendekatan “pemadam kebakaran” yang hanya fokus pada saat bencana datang tidak cukup untuk mengatasi masalah ini. Menurutnya, diperlukan solusi jangka panjang yang melibatkan berbagai pihak.

Bacaan Lainnya

Dalam rapat lintas sektoral di Kantor Kecamatan Guntur, Sabtu (4/4/2026), Luthfi menyampaikan pernyataan tegas tentang pentingnya perubahan pola penanganan banjir. Ia menekankan bahwa jika tidak ada langkah-langkah menyeluruh, masalah ini akan terus berulang.

Berdasarkan data dari BPBD Jateng, banjir yang terjadi pada Jumat (3/4) telah merendam delapan desa di empat kecamatan dan memaksa 2.839 jiwa mengungsi. Sebelumnya, pada Februari lalu, banjir serupa telah melanda sembilan desa dengan dampak mencapai 25.863 jiwa.

Masalah Utama di Bantaran Kali Tuntang

Luthfi mengidentifikasi dua masalah krusial di bantaran Kali Tuntang yang selama ini menjadi kendala, yakni sedimentasi yang parah dan rumitnya pembebasan lahan bersertifikat milik warga. Ia berencana membawa persoalan ini ke tingkat kementerian untuk mendapatkan solusi lintas sektor yang lebih luas.

Pihak BBWS Pemali-Juana juga menyampaikan bahwa biaya normalisasi Sungai Tuntang membutuhkan anggaran sangat besar. Pada tahun 2026, alokasi Rp50 miliar hanya mampu melakukan pengerukan sedimentasi sepanjang 10 kilometer dan perbaikan tanggul sejauh 600 meter.

Sekretaris Daerah Demak, Ahmad Sugiharto, mengingatkan bahwa kunci utama penanganan berada di sisi hulu. Ia menyoroti manajemen debit air di Bendungan Glapan, Kabupaten Grobogan, yang kerap berubah cepat dan memicu banjir kiriman ke hilir. Menurut Sugiharto, jika persoalan di hulu tidak diperbaiki, maka penanganan di kawasan hilir akan percuma. Perubahan debit air yang cepat menjadi pemicu utama.

Faktor-Faktor Penyebab Banjir

Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, menambahkan bahwa selain faktor teknis, pemanfaatan badan sungai untuk lahan pertanian dan permukiman turut memperparah kondisi. Hal ini secara langsung menghambat aliran air dan mempercepat penumpukan sedimen yang membuat sungai tidak lagi mampu menampung beban air saat musim hujan.

Beberapa faktor yang menyebabkan banjir di Kabupaten Demak antara lain:

  • Sedimentasi yang parah: Penumpukan pasir dan tanah di dasar sungai mengurangi kapasitas menampung air.
  • Pembebasan lahan yang rumit: Proses pembebasan lahan bersertifikat milik warga memperlambat upaya perbaikan infrastruktur.
  • Perubahan debit air yang cepat: Debit air yang tidak stabil di hulu memicu banjir kiriman ke hilir.
  • Pemanfaatan badan sungai: Penggunaan badan sungai untuk lahan pertanian dan permukiman menghambat aliran air.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

Untuk mengatasi masalah banjir yang berulang, diperlukan langkah-langkah yang komprehensif. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Normalisasi sungai: Melakukan pengerukan sedimentasi dan perbaikan tanggul.
  • Pembebasan lahan: Mempermudah proses pembebasan lahan untuk kepentingan pengelolaan sungai.
  • Manajemen debit air: Meningkatkan pengawasan dan pengelolaan debit air di bendungan.
  • Penggunaan badan sungai: Menghindari pemanfaatan badan sungai untuk lahan pertanian dan permukiman.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan banjir yang terjadi di Kabupaten Demak dapat diminimalisir dan tidak lagi berulang.

Pos terkait