Buaya Raksasa Gemparkan Sangatta: Tertangkap Kamera di Bawah Jembatan Kayu

Kemunculan Buaya di Sangatta: Warga Dihantui Kekhawatiran, Solusi Kanal Sedang Digodok

Sangatta, Kutai Timur – Keberadaan seekor buaya berukuran besar di bawah jembatan kayu dekat permukiman warga di Sangatta, Kutai Timur, telah menimbulkan kekhawatiran dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Video penampakan reptil raksasa tersebut viral, memicu kewaspadaan ekstra bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar perairan.

Dalam rekaman yang beredar, buaya tersebut terlihat tenang, nyaris tak terlihat lantaran menyatu dengan lingkungan perairan yang didominasi oleh tanaman liar. Warna kulitnya yang serupa dengan vegetasi di sekitarnya membuat hewan itu sulit dikenali dari kejauhan. Tanpa pengamatan yang cermat, siapapun yang melintas di atas jembatan kayu tersebut bisa saja tidak menyadari adanya ancaman reptil di bawahnya. Keberadaannya hanya terdeteksi sesekali ketika punggungnya muncul ke permukaan air.

Bacaan Lainnya

Video yang pertama kali dibagikan melalui akun TikTok @nissa.rental dan kemudian diunggah ulang oleh akun Instagram @kaltimku pada Jumat (21/2/2026), segera menarik perhatian ribuan warganet. Beragam komentar membanjiri unggahan tersebut, mulai dari ekspresi kekhawatiran yang mendalam hingga seruan untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di dekat perairan.

Menyikapi situasi yang meresahkan ini, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini terutama ditujukan bagi mereka yang kerap melintas di sekitar sungai atau jembatan kayu yang berdekatan dengan area permukiman. Keberadaan buaya di perairan terbuka memang dinilai sebagai potensi bahaya yang signifikan bagi keselamatan manusia jika tidak diantisipasi dengan langkah-langkah pencegahan yang memadai.

Pemkab Kutai Timur Rancang Kanal Besar untuk Mengatasi Banjir dan Mencegah Invasi Buaya

Menanggapi kekhawatiran warga dan potensi ancaman yang ditimbulkan oleh keberadaan buaya, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tengah berupaya keras merancang solusi jangka panjang. Sebuah rencana strategis pembangunan kanal banjir besar di Desa Karangan Seberang, Kecamatan Karangan, sedang dimatangkan. Proyek ambisius ini diharapkan dapat memberikan solusi permanen terhadap masalah banjir tahunan yang kerap melanda wilayah tersebut, sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk mencegah masuknya buaya ke permukiman warga, khususnya di RT 06, Jalan Soekarno-Hatta.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan, secara tegas menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif pembangunan kanal tersebut. Beliau menekankan bahwa proyek sebesar ini memerlukan alokasi anggaran yang tidak sedikit, sehingga sinergi dan kolaborasi erat antara pemerintah kabupaten dan provinsi menjadi kunci keberhasilan pelaksanaannya.

“Kolaborasi antara Pemkab dan dukungan dari pihak provinsi sangatlah krusial. Ini bukan sekadar proyek drainase biasa, melainkan sebuah proyek strategis yang fundamental untuk melindungi keselamatan seluruh warga,” ujar Agusriansyah dengan penuh keyakinan.

Kajian Teknis Mendalam dan Aspirasi Masyarakat Menjadi Prioritas

Menindaklanjuti usulan tersebut, Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, telah memberikan instruksi tegas kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera melakukan kajian mendalam dan komprehensif. Bupati Ardiansyah secara khusus mewanti-wanti agar desain kanal yang akan dibuat haruslah didasarkan pada perhitungan teknis yang sangat presisi dan matang.

“Usulan ini sepenuhnya kami serahkan kepada tim teknis di PUPR untuk dikaji secara mendalam. Hal terpenting adalah memastikan bahwa pembangunan kanal ini tidak justru memindahkan masalah banjir ke area hilir atau menciptakan permasalahan baru yang lebih kompleks,” tegas Bupati Ardiansyah.

Di sisi lain, Kepala Desa Karangan Seberang, Ahmad Muzahid, mengungkapkan bahwa usulan pembangunan kanal ini merupakan aspirasi prioritas utama dari masyarakat desa. Selama ini, sistem drainase yang ada dinilai sudah tidak lagi memadai untuk menampung volume air yang kian meningkat, terutama saat musim hujan. Lebih parahnya lagi, setiap kali banjir meluap, habitat alami buaya yang lokasinya berdekatan dengan desa kerap kali membuat predator tersebut dengan mudah naik dan masuk ke area permukiman warga.

“Kami sangat berharap kanal ini dapat berfungsi sebagai pembatas fisik atau proteksi yang efektif, sehingga buaya tidak mudah masuk ke permukiman warga saat banjir terjadi. Untuk saat ini, upaya preventif yang bisa kami lakukan hanyalah memasang papan peringatan agar warga lebih waspada terhadap keberadaan buaya,” ungkap Ahmad Muzahid.

Dengan adanya kanal yang terintegrasi dengan baik, diharapkan jalur perlintasan predator berbahaya tersebut dapat terputus dari area padat penduduk. Hal ini akan memberikan rasa aman yang lebih besar bagi warga, sehingga mereka tidak lagi dihantui oleh kekhawatiran yang berlebihan, terutama ketika musim hujan kembali tiba.

Pos terkait