Oki Setiana Dewi, sosok yang dikenal luas sebagai aktris dan pendakwah, tengah menjalani fase unik dalam kehidupannya. Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan strata lanjut di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ia tak lantas menghentikan panggilan jiwanya untuk menyebarkan ajaran Islam. Sebaliknya, Oki justru memanfaatkan masa studinya sebagai momentum untuk memperluas jangkauan dakwahnya melalui safari ke berbagai negara.
Kegiatan safari dakwah ini, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas Oki, semakin intensif sejak ia menetap di Mesir. Namun, Oki memiliki prinsip kuat untuk tidak mengabaikan kewajiban akademisnya. Safari dakwahnya sebagian besar dilakukan pada periode libur kuliah, memastikan bahwa studinya di Al-Azhar tetap menjadi prioritas utama.
Memanfaatkan Libur Musim Dingin untuk Berdakwah di Inggris
Baru-baru ini, Oki Setiana Dewi memanfaatkan libur musim dinginnya yang berlangsung selama dua minggu untuk menggelar serangkaian kegiatan dakwah di Inggris. Tidak hanya menyapa umat di sana, ia juga menyempatkan diri untuk meninjau beberapa kampus.
“Liburan musim dingin 2 minggu dari kampus, saya manfaatkan untuk safari dakwah ke UK sekaligus melihat beberapa kampus,” tulis Oki melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Kakak kandung dari YouTuber ternama Ria Ricis ini tercatat memberikan ceramah agama di beberapa lokasi bergengsi, termasuk Indonesia Islamic Center London, Southampton University, dan Edinburgh University. Kehadirannya disambut hangat oleh komunitas Muslim di Inggris, yang antusias mendengarkan tausiahnya.
Pengalaman Berdakwah di Inggris dan Dialog Lintas Agama
Ini bukanlah kali pertama Oki menginjakkan kaki di Inggris dalam rangka berdakwah. Pengalaman sebelumnya pada tahun 2023, saat ia terlibat dalam program “English for Ulama”. Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, British Council, dan Minhaj Welfare Foundation.
Program “English for Ulama” memiliki tujuan mulia untuk memperkenalkan citra Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan damai kepada masyarakat di Inggris. Melalui program ini, Oki tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga aktif terlibat dalam dialog lintas agama dan diskusi mengenai keberagaman. Salah satu momen penting dalam kegiatannya adalah pertemuan di Gedung Parlemen Inggris bersama anggota parlemen Fiona Bruce, yang menunjukkan komitmen Oki dalam menjembatani pemahaman antarbudaya dan agama.
Melanjutkan Dakwah ke Asia Tenggara dan Peran di Televisi
Setelah menyelesaikan agenda dakwahnya di Eropa, Oki Setiana Dewi melanjutkan perjalanan spiritualnya ke Malaysia dan Singapura. Di kedua negara Asia Tenggara ini, ia mendapatkan sambutan luar biasa dari ribuan jemaah. Banyak dari mereka yang terharu dan meneteskan air mata mendengarkan penyampaian Oki yang dinilai sangat menyentuh hati.
Tak hanya berdakwah, Oki juga menunjukkan kiprahnya di kancah hiburan dan keagamaan di Malaysia. Di sela-sela kesibukan safari dakwahnya, ia didaulat menjadi juri dalam sebuah ajang pemilihan dai cilik di salah satu stasiun televisi Malaysia yang bertajuk “Mualim Muda”. Perannya ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai figur publik yang aktif berkontribusi dalam pengembangan dakwah.
Tetap Mengajar di Indonesia Secara Daring
Meskipun kini berdomisili di luar negeri untuk menempuh pendidikan, Oki Setiana Dewi tetap menjaga komitmennya terhadap aktivitas profesionalnya di Indonesia. Sejak September 2025, ia telah diangkat menjadi dosen tetap pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dengan fokus pada bidang manajemen pendidikan Islam. Mengingat jarak geografis, Oki menjalankan tugas mengajarnya secara daring, memungkinkan mahasiswa untuk tetap mendapatkan ilmunya tanpa hambatan.
Oki mengaku sangat menikmati peran gandanya sebagai seorang dosen dan mahasiswi. Baginya, dunia pendidikan dan dakwah adalah dua bidang yang sangat ia cintai dan ia dedikasikan hidupnya.
Prioritas Pendidikan dan Tantangan Undangan Dakwah
Keputusannya untuk melanjutkan studi di Mesir sama sekali tidak mengurangi intensitas undangan dakwah yang datang kepadanya. Justru sebaliknya, undangan dari berbagai negara semakin membanjiri. Namun, Oki tetap memegang teguh prinsipnya untuk memprioritaskan pendidikan.
“Saya minta maaf belum bisa memenuhi semua undangan dikarenakan saya ingin selalu hadir dalam setiap perkuliahan saya,” ungkap Oki, menunjukkan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap studinya. Ia sadar bahwa menuntut ilmu di institusi bergengsi seperti Al-Azhar membutuhkan fokus dan kehadiran penuh.
Setelah menyelesaikan rangkaian safari dakwahnya di berbagai belahan dunia, Oki Setiana Dewi telah kembali ke Mesir untuk melanjutkan studinya di jurusan Ushuludin.
“Liburan musim dingin telah usai, kini saatnya kembali ke Mesir untuk kembali belajar. Mohon doa,” tulisnya, menutup kisah petualangan dakwah singkatnya dan kembali fokus pada dunia akademis.
Produktivitas Menulis dan Inisiatif Pesantren
Di luar kesibukannya sebagai mahasiswi dan pendakwah, Oki Setiana Dewi juga aktif dalam pengelolaan pesantren tahfidz Maskanul Huffadz. Pesantren yang didirikannya sejak tahun 2016 ini telah berkembang pesat dan kini memiliki cabang di Indonesia serta di Mesir. Keberadaan pesantren ini menjadi bukti nyata komitmen Oki dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an.
Selain itu, Oki dikenal sebagai penulis yang produktif. Karyanya telah menghiasi rak-rak buku di Indonesia, dengan judul-judul populer seperti “Melukis Pelangi,” “Sejuta Pelangi,” dan “Cahaya di Atas Cahaya.” Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku terbarunya yang berjudul “Menjadi Tenang,” yang diharapkan dapat memberikan pencerahan bagi pembacanya.
“Kehidupan di Mesir yang tak sesibuk saat berada di Indonesia membuat saya mulai produktif kembali menulis buku,” ujar Oki, menjelaskan bagaimana suasana yang lebih tenang di Mesir memberinya ruang untuk berkarya.
Menurut pandangan Oki, kombinasi antara mempelajari Islam di Timur (Mesir) dan Barat (Inggris) telah memberikan kekayaan wawasan keislaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak hanya memperdalam pemahamannya tentang ajaran agama, tetapi juga memperkuat kemampuan adaptasinya dalam menghadapi tantangan di era globalisasi yang terus berubah.







