Dokter Lintas Batas Hentikan Sebagian Operasi di RS Nasser Gaza Akibat Insiden Keamanan
Gaza Selatan – Organisasi bantuan medis internasional, Dokter Lintas Batas (MSF), terpaksa menghentikan sebagian besar operasinya di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan. Keputusan drastis ini diambil setelah staf dan pasien menyaksikan kehadiran sejumlah individu bersenjata di dalam fasilitas medis tersebut. MSF, yang berbasis di Jenewa, telah menyatakan keprihatinannya mengenai pengelolaan fasilitas, netralitas, dan pelanggaran keamanan di Rumah Sakit Nasser sejak 20 Januari, yang menyebabkan penghentian aktivitas non-esensial.
MSF belum dapat mengidentifikasi para individu bersenjata tersebut. Namun, mereka melaporkan serangkaian insiden yang tidak dapat diterima. “Tim MSF telah melaporkan pola tindakan yang tidak dapat diterima, termasuk kehadiran orang bersenjata, intimidasi, penangkapan pasien secara sewenang-wenang, serta dugaan baru-baru ini terkait pergerakan senjata,” ungkap MSF dalam pernyataan terbarunya. Organisasi ini menegaskan kembali bahwa rumah sakit seharusnya menjadi ruang sipil yang steril dari kehadiran atau aktivitas militer, demi menjamin keamanan dalam pemberian perawatan medis.
Dampak Penghentian Operasi MSF
Penghentian sebagian operasi MSF ini menimbulkan dampak signifikan. Dukungan untuk bangsal anak dan persalinan, termasuk unit perawatan intensif neonatal, serta berbagai layanan konsultasi rawat jalan terpaksa dihentikan. MSF hanya akan melanjutkan dukungannya pada layanan-layanan paling krusial, seperti departemen rawat inap dan bedah.
Menurut Zaher al-Waheidi, kepala departemen arsip di Kementerian Kesehatan Gaza, penangguhan operasional MSF akan sangat memengaruhi ratusan pasien yang setiap harinya dirawat di bangsal persalinan dan luka bakar. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan akan mengambil alih perawatan pasien persalinan.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Gaza menegaskan komitmennya untuk mencegah kehadiran kelompok bersenjata di dalam rumah sakit dan akan mengambil tindakan hukum terhadap para pelanggar. Pihak kementerian mengakui adanya anggota bersenjata dari beberapa keluarga yang baru-baru ini memasuki rumah sakit, namun juga tidak mengidentifikasi mereka secara spesifik.
Israel dan Rumah Sakit di Gaza: Sejarah Konflik
Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut dilaporkan mengalami kehancuran parah. Israel juga dilaporkan menahan 95 dokter dan tenaga medis Palestina, di mana 80 di antaranya berasal dari Gaza.
Militer Israel mengklaim bahwa mereka menargetkan rumah sakit karena pejuang Hamas beroperasi di dalamnya, dan sebagian jaringan terowongan kelompok tersebut ditemukan berada di bawah fasilitas medis. Namun, Hamas membantah keras tuduhan penggunaan rumah sakit untuk tujuan militer.
Penting untuk dicatat bahwa rumah sakit dilindungi oleh hukum internasional. Serangan terhadap rumah sakit, maupun penggunaannya untuk tujuan militer, dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum. Meskipun fasilitas medis dapat kehilangan status perlindungannya dalam kondisi tertentu, kelompok hak asasi manusia berpendapat bahwa Israel belum menunjukkan bukti yang cukup untuk membenarkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas medis tersebut selama konflik.

Tekanan Israel Terhadap Organisasi Bantuan Internasional
Selain insiden di Rumah Sakit Nasser, MSF dan puluhan organisasi bantuan lainnya juga menghadapi tekanan dari Israel. Bulan lalu, Israel mengeluarkan perintah bagi MSF dan 30 organisasi internasional lainnya untuk menghentikan operasi mereka di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, kecuali jika mereka mematuhi aturan baru, termasuk penyerahan data staf.
Pada 30 Januari, MSF menyatakan tidak akan menyerahkan daftar staf mereka kepada Israel karena tidak adanya jaminan keselamatan bagi para staf mereka. MSF memiliki peran vital dalam menyediakan layanan medis darurat dan kritis di seluruh Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Pada tahun 2025, organisasi ini melaporkan telah memberikan 800 ribu layanan konsultasi medis, membantu satu dari setiap tiga persalinan, dan mendukung satu dari lima tempat tidur rumah sakit di wilayah tersebut.

Situasi di Gaza terus memburuk, dengan dampak kemanusiaan yang semakin meluas. Penghentian operasi organisasi bantuan medis seperti MSF, akibat insiden keamanan dan tekanan politik, semakin memperparah krisis yang ada. Dunia internasional terus menyerukan perlindungan terhadap fasilitas medis dan tenaga kemanusiaan yang bekerja di zona konflik.







