Tragedi Mengerikan di Simeulue: Warga Tewas Diterkam Buaya Saat Mencari Nafkah
Sebuah insiden yang sangat memilukan terjadi di Kabupaten Simeulue, Aceh, pada Minggu, 15 Februari 2026. Jusmitawati (36), seorang warga Desa Bulu Hadek, Kecamatan Teluk Dalam, dilaporkan tewas setelah diserang dan diterkam oleh seekor buaya saat ia sedang mencari kerang di Sungai Luan Boya. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat setempat, mengingat ini adalah kasus serangan buaya yang pertama kali merenggut nyawa di wilayah tersebut.
Sungai Luan Boya merupakan salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat Desa Bulu Hadek. Aktivitas mencari kerang di sungai ini adalah rutinitas yang sudah biasa dilakukan oleh warga, termasuk korban beserta dua rekannya pada hari nahas tersebut. Namun, ketenangan aktivitas mencari nafkah itu seketika berubah menjadi horor ketika Jusmitawati tiba-tiba menghilang dari pandangan kedua temannya.
Kronologi Mencekam: Hilangnya Korban dan Munculnya Sang Predator
Awalnya, kedua rekan Jusmitawati tidak menyadari bahaya yang mengintai. Mereka sempat memanggil-manggil nama korban dan melakukan pencarian singkat di sekitar lokasi, namun tidak ada jawaban. Kekhawatiran mulai menyelimuti mereka, yang kemudian berujung pada kepanikan. Tanpa pikir panjang, kedua teman korban segera berlari kembali ke desa untuk meminta bantuan.
Informasi mengenai hilangnya Jusmitawati menyebar dengan sangat cepat di kalangan warga desa. Dalam waktu singkat, puluhan warga berbondong-bondong menuju lokasi kejadian, dipenuhi rasa cemas dan harapan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat. Namun, apa yang mereka saksikan kemudian sungguh mengerikan dan membuat banyak orang histeris.
Saat buaya yang menyerang korban muncul ke permukaan sungai, warga terkejut melihat Jusmitawati berada di dalam rahang predator tersebut. Sebuah rekaman video yang kemudian beredar menunjukkan pemandangan yang sangat mengerikan, di mana jasad korban terlihat masih berada di mulut buaya, memicu jeritan pilu dari para saksi mata.
Upaya Evakuasi Dramatis dan Penanganan Lanjutan
Menyadari situasi yang genting, pihak kecamatan segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simeulue untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Unsur TNI dan Polri juga turut dikerahkan, bersama dengan masyarakat setempat, untuk memastikan korban dapat segera dievakuasi.
Camat Teluk Dalam, Andrik Dasandra SSTP, membenarkan insiden tersebut dan menyatakan bahwa kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Teluk Dalam. “Selama ini di Teluk Dalam belum pernah terjadi kejadian seperti ini,” ujarnya.
Warga yang bersemangat melakukan upaya penyelamatan sempat mencoba mengambil jasad korban dengan cara menombak buaya. Namun, upaya ini tidak serta merta berhasil. Beberapa kali percobaan dilakukan, namun buaya tersebut tampaknya sulit untuk dijinakkan.
Setelah berbagai upaya yang dilakukan secara berulang, jasad korban akhirnya berhasil dievakuasi. Namun, kondisi jasad korban sangat memilukan. Sebagian tubuhnya dilaporkan tidak utuh, yang diduga kuat akibat dimakan oleh buaya. Hingga berita ini ditulis, keluarga korban masih terus berupaya untuk mencari sisa-sisa tubuh korban yang mungkin masih tertinggal, sementara buaya pelaku serangan tersebut belum berhasil ditangkap.
Antisipasi dan Langkah Pencegahan di Masa Depan
Pihak kecamatan tidak tinggal diam setelah insiden tragis ini. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut terkait keberadaan buaya di kawasan sungai tersebut. Tujuannya adalah untuk mencegah terulangnya kembali kejadian serupa di masa mendatang dan memastikan keselamatan warga.
Andrik Dasandra menambahkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, laporan mengenai kemunculan buaya juga semakin marak terdengar dari warga desa lain, seperti Desa Lugu Sebahak, yang mengaku kerap mendapati buaya masuk ke dalam jaring ikan mereka. Kondisi ini tentu saja semakin menambah rasa khawatir masyarakat akan ancaman predator yang semakin sering muncul di dekat permukiman mereka.
Untuk menyikapi situasi yang semakin mengkhawatirkan ini, pihak kecamatan berencana untuk segera mengadakan musyawarah bersama seluruh kepala desa dan perwakilan Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI). Pertemuan ini akan difokuskan untuk membahas strategi pencegahan yang efektif.
“Kami akan bermusyawarah bersama para kepala desa dan APDESI terkait langkah pencegahan. Kami berharap kejadian ini menjadi pembelajaran agar tidak ada lagi korban,” pungkas Camat Andrik Dasandra, menegaskan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi masyarakat Simeulue.







