Agus Widjojo: Profil dan Gagasan Reformasi TNI

Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Letnan Jenderal (Purnawirawan) Agus Widjojo telah berpulang pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Beliau, yang juga menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia, terutama di kalangan militer dan para penggiat reformasi demokrasi.

Agus Widjojo adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI. Beliau dikenal luas sebagai seorang figur militer yang progresif dan reformis, yang secara konsisten mendorong agenda demokratisasi, penguatan supremasi sipil, dan reformasi sektor keamanan di tanah air. Semangat pembaharuannya telah memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan bangsa menuju sistem pemerintahan yang lebih baik.

Bacaan Lainnya

Latar Belakang dan Pendidikan

Agus Widjojo lahir di Surabaya pada tanggal 25 April 1947. Beliau merupakan putra dari R.P. Soewondo, seorang tokoh militer dan diplomat terkemuka Indonesia. Sejak awal kariernya, Agus Widjojo telah menunjukkan potensi luar biasa. Beliau lulus dari Akademi Militer pada tahun 1970 dan dianugerahi Adhi Makayasa, penghargaan bergengsi bagi lulusan terbaik.

Jejak karier militernya tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga merambah panggung internasional. Agus Widjojo pernah terlibat dalam misi perdamaian PBB, termasuk dalam operasi Emergency Force di Sinai dan Vietnam. Pengalaman internasional ini memperkaya wawasan dan pemahamannya tentang dinamika keamanan global.

Sebelum memasuki masa pensiun pada tahun 2003, beliau telah mengemban berbagai jabatan strategis. Di antaranya adalah sebagai Kepala Staf Teritorial Panglima TNI dan Wakil Ketua MPR dari Fraksi TNI/Polri. Selain pengalaman militer, Agus Widjojo juga memiliki latar belakang akademis yang kuat, dengan gelar yang diperoleh dari beberapa universitas terkemuka di luar negeri.

Beliau meraih gelar Master di bidang Military Art and Science dari U.S. Army Command and General Staff College, kemudian melanjutkan studi di U.S. National Defense University untuk gelar di bidang Keamanan Nasional, dan terakhir meraih gelar di bidang Administrasi Publik dari George Washington University. Kombinasi antara pengalaman lapangan dan keilmuan yang mendalam menjadikan Agus Widjojo sebagai sosok yang dihormati dan disegani.

Peran dalam Reformasi

Peran Agus Widjojo dalam proses reformasi di Indonesia sangatlah krusial. Salah satu kontribusinya yang paling menonjol adalah keterlibatannya secara langsung dalam perumusan kebijakan yang mengakhiri dwifungsi ABRI. Langkah ini menjadi tonggak sejarah penting dalam upaya memisahkan peran militer dari ranah politik praktis dan memperkuat prinsip profesionalisme Tentara Nasional Indonesia (TNI) di bawah kendali penuh pemerintah sipil.

Dalam buku “Inspirasi Out of Box Agus Widjojo” yang ditulis oleh Bernada Rurit, terungkap bahwa Agus Widjojo awalnya enggan jika ada yang menulis biografi tentang dirinya. Namun, beliau akhirnya memberikan izin kepada Rurit untuk menulis, dengan syarat bukan dalam bentuk biografi murni. Beliau menawarkan jalan tengah, yaitu penulisan yang berfokus pada suka duka beliau saat menulis buku “Transformasi TNI” serta kisah hidupnya yang tidak hanya terbatas pada dunia militer. Pendekatan ini menunjukkan kerendahan hati dan keinginannya untuk berbagi pengalaman hidup secara lebih luas.

Pemikiran dan Gagasan Agus Widjojo

Letnan Jenderal (Purnawirawan) Agus Widjojo dikenal sebagai seorang pemikir yang visioner dan memiliki pandangan jauh ke depan mengenai peran TNI dan sektor keamanan. Beberapa gagasannya yang menonjol antara lain:

  1. Usulan Penghapusan Kodim dan Koramil
    Agus Widjojo pernah mengajukan gagasan yang cukup radikal namun visioner, yaitu agar Komando Distrik Militer (Kodim) dan Komando Rayon Militer (Koramil) dihapuskan. Menurut pandangannya, struktur komando teritorial terendah yang ideal seharusnya berada di tingkat Komando Resort Militer (Korem). Beliau berargumen bahwa Kodim dan Koramil sudah tidak lagi relevan dengan fungsi pertahanan di daerah pada era reformasi. Gagasan ini didasari oleh upaya beliau untuk mendorong profesionalisme TNI, di mana militer seharusnya tidak mudah terlibat dalam urusan domestik atau kembali menjalankan dwifungsi.

  2. Penolakan Revisi Undang-Undang TNI (UU TNI)
    Dalam sebuah kesempatan, Agus Widjojo secara tegas mengkritik rencana revisi UU TNI yang dianggapnya berpotensi mengembalikan TNI ke ranah sipil. Beliau berpendapat bahwa TNI tidak seharusnya selamanya diberi tugas untuk menduduki jabatan sipil, karena hal tersebut bukanlah tugas pokok TNI. Namun, beliau juga menekankan bahwa operasi militer selain perang tidak perlu dibatasi secara ketat, asalkan selalu berlandaskan pada prinsip pengerahan berdasarkan keputusan presiden. Setelah menjalankan tugas tersebut, TNI harus kembali fokus pada fungsi utamanya, yaitu pertahanan negara. “Reformasi TNI dulu dilakukan untuk membuat tentara yang profesional dalam sistem negara demokrasi. Bagi saya, ukuran reformasi TNI adalah menjalankan fungsi pertahanan berdasarkan konstitusi dan prinsip demokrasi,” tegasnya kala itu.

  3. Peran dalam Rekonsiliasi Tragedi 1965
    Agus Widjojo juga dikenal sebagai pribadi yang memiliki pikiran terbuka, bahkan di kalangan militer. Alissa Wahid, putri mendiang mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengungkapkan kekagumannya terhadap cara pandang Agus Widjojo terhadap tragedi 1965 dan upaya rekonsiliasinya. “Ini terefleksikan bagaimana Pak Agus melihat tragedi 1965 dan rekonsiliasinya. Berpikiran terbuka yang menyeluruh sebagai seorang pelaku sejarah,” ujar Alissa Wahid. Agus Widjojo merupakan salah satu penggagas utama simposium nasional “Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan” yang diselenggarakan pada tahun 2016. Acara ini menjadi momentum penting dalam upaya pelurusan sejarah peristiwa 1965, yang pertama kali diinisiasi secara langsung oleh pemerintah.

Kepergian Letnan Jenderal (Purnawirawan) Agus Widjojo merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. Pemikiran, gagasan, dan kontribusinya dalam reformasi militer dan demokrasi akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Novali Panji Nugroho dan Daniel Fajri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait