Penguatan daya saing Indonesia di tingkat global terus dilakukan melalui berbagai kolaborasi lintas negara. Salah satu contohnya adalah forum B2B Matchmaking Sessions yang berlangsung di Xiamen, Tiongkok pada awal April 2026 lalu. Forum ini menjadi ajang strategis yang mempertemukan ratusan pelaku usaha dari berbagai kawasan, termasuk Tiongkok, Timur Tengah, Amerika Utara, hingga Eropa.
Fokus utama kerja sama dalam forum tersebut berada pada sektor-sektor masa depan seperti energi terbarukan, manufaktur cerdas, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi. PT Arsewi Nusantara Investama bersama Feihuang Group aktif berperan dalam membawa delegasi pengusaha Indonesia untuk terlibat langsung dalam penjajakan kerja sama internasional.
Sebanyak 24 pengusaha dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya hingga Bali dan Nusa Tenggara Barat, ikut ambil bagian dalam forum tersebut. Mereka mewakili beragam sektor usaha, mulai dari UMKM hingga industri besar.
Direktur Utama PT Arsewi Nusantara Investama, Zainul Yasni menegaskan bahwa forum tersebut bukan sekadar pertemuan bisnis biasa, melainkan langkah awal membangun kemitraan jangka panjang yang lebih terstruktur. “Ini bukan sekadar pertemuan bisnis. Ini adalah momentum untuk membangun fondasi kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Menurut Zainul, Indonesia saat ini berada dalam fase penting transformasi ekonomi. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, pertumbuhan kelas menengah, serta percepatan ekonomi digital, Indonesia dinilai memiliki daya tarik kuat dalam proses industrialisasi yang terus berkembang. Namun, potensi tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi global, khususnya dengan negara yang unggul dalam sektor produksi dan teknologi.
“China memiliki kekuatan produksi dan teknologi yang sangat kuat, sementara Indonesia memiliki potensi industrialisasi besar dan terus berkembang. Kolaborasi keduanya dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan,” kata Zainul.
Beberapa peluang kerja sama dalam forum tersebut mulai menunjukkan hasil. Belasan kesepakatan bisnis telah memasuki tahap awal, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pendalaman, dengan estimasi nilai transaksi mencapai puluhan miliar rupiah. Bagi pelaku usaha nasional, forum ini membuka akses terhadap teknologi, jaringan distribusi global, serta model bisnis yang lebih terintegrasi.
Meski demikian, Zainul mengingatkan bahwa tantangan utama bukan hanya soal akses, tetapi juga kesiapan pelaku usaha untuk naik kelas. “Banyak pengusaha kita yang perlu naik kelas. Untuk itu, kolaborasi menjadi kunci, baik di dalam negeri maupun dengan mitra global. Kita tidak bisa berjalan sendiri,” tuturnya.
Dia menilai pengalaman China dalam membangun industrialisasi yang terstruktur dan kolaboratif dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam memperkuat fondasi ekonominya. “Ini menjadi momentum bagi kita untuk membuka diri, memperluas pasar, dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global,” pungkas Zainul.
Forum B2B Matchmaking Sessions memberikan banyak peluang kerja sama antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok. Beberapa di antaranya sudah memasuki tahap awal, sedangkan yang lain masih dalam proses pendalaman. Estimasi nilai transaksi yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah menunjukkan potensi besar yang bisa dimanfaatkan oleh kedua belah pihak.
Kolaborasi ini tidak hanya memberikan akses ke teknologi dan jaringan distribusi global, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat model bisnis yang lebih terintegrasi. Dengan adanya kerja sama ini, pelaku usaha Indonesia bisa belajar dari pengalaman Tiongkok dalam membangun sistem industri yang terstruktur dan efisien.
Meskipun ada banyak peluang, tantangan utama tetap ada. Menurut Zainul, kesiapan pelaku usaha untuk naik kelas menjadi salah satu faktor penting. “Banyak pengusaha kita yang perlu naik kelas. Untuk itu, kolaborasi menjadi kunci, baik di dalam negeri maupun dengan mitra global. Kita tidak bisa berjalan sendiri,” ujarnya.
Dengan kolaborasi yang lebih intensif, pelaku usaha Indonesia dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam menghadapi persaingan global. Selain itu, kerja sama dengan mitra global seperti Tiongkok bisa menjadi jalan untuk memperkuat ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan.
Forum B2B Matchmaking Sessions di Xiamen, Tiongkok, merupakan langkah penting dalam memperkuat daya saing Indonesia di kancah global. Melalui kolaborasi dengan negara-negara lain, khususnya Tiongkok, Indonesia dapat mempercepat proses transformasi ekonomi dan memperkuat fondasi industri yang lebih modern dan terintegrasi.
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi di Indonesia Dianggap Langkah Tepat Keputusan pemerintah menaikkan sejumlah harga bahan…
Kehidupan dan Karier Anggun C. Sasmi yang Terus Berkembang Di tengah wawancara santai di ruang…
Penangkapan Terduga Pelaku Curanmor di Kota Bima Tim Opsnal Sat Reskrim Polres Bima Kota berhasil…
Pengumuman Lokasi UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Medan Universitas Negeri Medan (UNIMED) telah resmi mengumumkan…
jatim. Surabaya – Pelatih Persita Tangerang, Carlos Pena, menilai bahwa kunci kemenangan Persebaya Surabaya dalam…
Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia: Dipengaruhi Diplomasi dan Ketegangan Geopolitik Harga minyak mentah dunia, khususnya…