Ketegangan antara Donald Trump dan Iran semakin memanas. Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan mengirim tim negosiator ke Pakistan pada Senin (20/4) untuk melanjutkan pembicaraan dengan Teheran, dengan harapan memperpanjang gencatan senjata rapuh yang dijadwalkan berakhir Rabu mendatang.
Langkah ini muncul di tengah kebuntuan serius terkait kontrol atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang kini praktis lumpuh. Persoalan ini telah memicu ketegangan yang berdampak luas bagi stabilitas regional dan internasional.
Delegasi Amerika akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan senior Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sebelumnya, Vance memimpin putaran pertama perundingan langsung yang berlangsung selama 21 jam, sebuah pertemuan bersejarah antara kedua negara.
Di Islamabad, otoritas Pakistan mulai memperketat keamanan. Seorang pejabat regional mengungkapkan bahwa persiapan hampir rampung, termasuk kehadiran tim keamanan awal dari AS di lokasi. Namun, pihak Iran belum secara resmi mengonfirmasi perundingan ini. Ketua parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Qalibaf, menyatakan bahwa negaranya tidak akan mundur dari jalur diplomasi, meski mengakui perbedaan antara kedua pihak masih sangat besar.
Dalam pernyataan terbarunya, Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa jika Teheran menolak kesepakatan yang diajukan AS, maka Washington akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ancaman ini memicu kritik luas dan kekhawatiran akan potensi pelanggaran hukum internasional serta eskalasi konflik menjadi perang terbuka.
Isu-isu utama yang masih menjadi penghalang kesepakatan meliputi program pengayaan nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, serta kendali atas Selat Hormuz. Situasi di Selat Hormuz semakin memanas. Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas selama blokade Amerika masih berlaku.
“Tidak mungkin pihak lain bisa melintas jika kami sendiri tidak bisa,” tegas Qalibaf. Ratusan kapal kini tertahan di kedua sisi selat, menunggu izin melintas. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, serta pasokan penting seperti gas alam, pupuk, dan bantuan kemanusiaan ke negara-negara seperti Afghanistan dan Sudan.
Ketegangan meningkat setelah Iran menembaki dua kapal dagang berbendera India yang mencoba melintas, memicu protes keras dari pemerintah India. Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal di selat. Sebaliknya, Teheran menyebut blokade AS sebagai “tindakan agresi”.
Meski Iran sempat mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz usai gencatan senjata 10 hari antara Israel dan kelompok Hizbullah, kebijakan itu kembali dibatalkan setelah AS menegaskan blokade akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan.
Konflik yang telah memasuki pekan kedelapan ini menelan korban besar. Sedikitnya 3.000 orang tewas di Iran, lebih dari 2.290 di Lebanon, 23 di Israel, serta belasan korban di negara-negara Teluk. Korban juga mencakup personel militer, termasuk tentara AS dan Israel.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa mereka akan terus mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz hingga perang benar-benar berakhir. Kebijakan ini mencakup penentuan rute kapal, biaya transit, hingga sertifikasi khusus. Mereka juga menekankan bahwa semua keputusan akan diambil dalam konteks keamanan nasional dan kepentingan strategis negara.






