Kiprah Politik Anies Baswedan Menuju Pilpres 2029 Dinilai Tidak Mudah
Pengamat politik Hendri Satrio memberikan analisis mengenai langkah politik Anies Baswedan menuju Pilpres 2029. Menurutnya, perjalanan politik mantan Gubernur Jakarta 2017-2022 dan calon presiden pada Pilpres 2024 ini tidak akan mudah. Meski masih mendapat dukungan untuk maju dalam kontestasi politik nasional, Anies dinilai memiliki “cerita politik yang tidak enak” setelah Pilpres 2024, yang memengaruhi persepsi publik terhadap dirinya.
Anies sempat dikaitkan dengan berbagai opsi politik, termasuk maju dalam Pilkada Jakarta atau Pilkada Jawa Barat usai kekalahan di Pilpres lalu. Isu bahwa ia akan bertarung dalam Pilkada Jakarta 2024 juga sempat ramai diperbincangkan. Fotonya bahkan sempat muncul di markas PDIP, meskipun tidak diumumkan sebagai calon yang diusung partai tersebut. Hal ini membuat isu tersebut viral di media sosial.
Selain itu, desas-desus Anies yang menuju Jawa Barat menjelang penutupan pendaftaran Pilkada juga menjadi topik perbincangan. Menurut Hendri, tindakan Anies yang beralih dari level nasional ke provinsi membuatnya seolah-olah ingin tetap mempertahankan panggung politiknya.
“Ini jadi cerita yang kurang bagus, seolah-olah seperti mencari panggung politik baru,” ujar Hendri dalam perbincangannya bersama Helmy Yahya di Youtube @HelmyYahyaBicara, dikutip Minggu (5/4/2026).
Dua Pilihan yang Tidak Mudah Bagi Anies
Hendri menilai posisi Anies saat ini berada di persimpangan jalan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak mudah. Pertama adalah bersikap idealis dengan membesarkan kendaraan politik sendiri, yakni Partai Gerakan Rakyat yang dideklarasikan pada awal Januari 2026 lalu. Namun, jalur ini memiliki tantangan besar, terutama verifikasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Verifikasi partai politik membutuhkan proses yang rumit dan biaya logistik yang cukup besar. “Harus lolos verifikasi KPU dulu, itu bukan hal gampang. Biayanya besar dan pasti ada hambatan politik,” katanya.
Jika Partai Gerakan Rakyat tidak berkembang signifikan, Anies berisiko kehilangan momentum di tingkat nasional. Selain itu, keberadaan partai tersebut di seluruh daerah Indonesia juga memerlukan pengeluaran yang tidak sedikit.
Pilihan kedua adalah bersikap pragmatis dengan bergabung atau diusung oleh partai politik yang sudah mapan. Dalam skenario ini, Anies dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tetap berada dalam kontestasi nasional, meski harus berkompromi secara politik. “Kalau pragmatis, bisa saja menerima tawaran dari partai mana pun, bahkan dalam posisi sebagai calon wakil presiden,” ujar Hendri.
Namun, ia mengingatkan bahwa langkah pragmatis juga memiliki konsekuensi, yakni potensi kekecewaan dari basis pendukung yang menginginkan konsistensi sikap politik. “Kalau pragmatis, mungkin banyak pendukungnya yang tidak suka,” ucapnya.
Risiko yang Menghantui Anies
Dengan demikian, Hendri melihat kedua pilihan tersebut sama-sama mengandung risiko bagi Anies. “Kalau idealis, bisa hilang dari panggung nasional. Kalau pragmatis, bisa kehilangan sebagian dukungan,” katanya.







