Libur Lebaran 2026 di Jawa Tengah menunjukkan sebuah fenomena menarik: pergeseran preferensi wisatawan yang signifikan. Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, destinasi wisata berbasis perkotaan dan yang memiliki daya tarik visual kuat kini lebih diminati dibandingkan wisata alam pegunungan yang sebelumnya menjadi primadona. Perubahan ini berdampak pada tingkat kunjungan di berbagai objek wisata, dengan beberapa mengalami penurunan tajam sementara yang lain justru melonjak.
Hanung Triyono, Kepala Disbudparekraf Jateng, menjelaskan bahwa dari sembilan area tujuan wisata (DTW) utama yang dipantau, lima di antaranya mencatat penurunan jumlah pengunjung. Destinasi-destinasi populer seperti Candi Borobudur, Objek Wisata Air Owabong, Baturraden, Guci, dan Taman Wisata Candi Prambanan, yang biasanya ramai, justru terlihat lebih sepi dibandingkan periode libur Lebaran tahun sebelumnya.
“Terjadi pergeseran preferensi dari wisata alam pegunungan ke arah urban tourism, serta dari aktivitas yang cenderung ringan ke pengalaman yang lebih berfokus pada experience dan pariwisata visual. Masyarakat kini lebih mencari destinasi yang ikonik secara visual,” ujar Hanung pada Selasa, 24 Maret 2026. Hal ini mengindikasikan bahwa daya tarik estetika dan pengalaman unik menjadi faktor penting dalam pemilihan destinasi liburan saat ini.
Selain pergeseran ke destinasi urban, fenomena lain yang mencolok adalah meningkatnya popularitas destinasi wisata yang menawarkan akses gratis atau berbiaya rendah. Di tengah kondisi ekonomi yang cenderung tidak stabil, masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran liburan mereka. Kenaikan jumlah pengunjung terlihat jelas di lokasi-lokasi yang tidak memungut tiket masuk.
Beberapa destinasi yang menjadi favorit warga selama libur Lebaran 2026 meliputi:
Hanung Triyono menambahkan bahwa pergeseran daya beli masyarakat sebagai dampak dari kondisi ekonomi saat ini juga menjadi faktor penentu dalam tren ini. “Adanya pergeseran daya beli masyarakat sebagai dampak dari kondisi ekonomi saat ini juga menjadi faktor penentu,” jelasnya.
Meskipun terjadi pergeseran lokasi kunjungan, secara akumulatif jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah selama periode H-7 hingga H+2 Lebaran (13-23 Maret 2026) tetap menunjukkan tren positif. Tercatat sebanyak 453.230 orang mengunjungi Jawa Tengah, yang berarti ada kenaikan sebesar 7,14 persen dibandingkan periode Lebaran 2025 yang mencatat 423.010 orang. Kenaikan ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah masih menjadi destinasi liburan yang menarik, meskipun preferensi pengunjung mengalami perubahan.
Tren penurunan minat terhadap wisata alam dan buatan berbayar dirasakan langsung oleh para pengelola objek wisata. Salah satu contohnya adalah Semarang Zoo. Swandito Widyotomo, Business and Development Semarang Zoo, melaporkan bahwa kunjungan di tempatnya mengalami penurunan sekitar 20 persen. Jika pada libur Lebaran tahun sebelumnya Semarang Zoo mampu menarik hingga 3.000 pengunjung per hari, kini rata-rata hanya berkisar antara 1.000 hingga 2.000 pengunjung.
Selain faktor cuaca yang kurang mendukung, kebijakan rekayasa lalu lintas one way yang diterapkan selama arus mudik dan balik Lebaran juga memberikan dampak yang tidak terduga. Lokasi Semarang Zoo yang berdekatan dengan Exit Tol Mangkang justru merugikan karena pemudik tidak dapat keluar di titik tersebut untuk singgah.
“Peluang wisatawan luar kota untuk transit ke Semarang Zoo terhambat karena kendala akses exit tol akibat kebijakan one way. Kami juga telah berkomunikasi dengan pengelola Gembira Loka di Yogyakarta, dan hasilnya serupa, yaitu ada penurunan kunjungan sekitar 20 persen,” terang Dito.
Menghadapi situasi ini, pihak pengelola Semarang Zoo menggantungkan harapan pada momen Syawalan yang jatuh pada tanggal 28-29 Maret mendatang untuk dapat mendongkrak kembali angka kunjungan. Momen perayaan pasca-Lebaran ini diharapkan dapat memberikan kesempatan baru untuk menarik kembali minat pengunjung.
Pergeseran tren ini menjadi catatan penting bagi para pemangku kepentingan di sektor pariwisata Jawa Tengah. Perlu adanya strategi adaptif untuk merespons perubahan preferensi wisatawan, termasuk pengembangan destinasi yang menawarkan pengalaman visual dan tematik yang kuat, serta optimalisasi potensi wisata perkotaan dan religi yang kini semakin diminati. Sementara itu, bagi pengelola wisata berbayar, inovasi dalam penawaran paket dan promosi, serta mitigasi dampak kebijakan transportasi, menjadi kunci untuk mempertahankan eksistensi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…