Istilah penyerahan kognitif semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, menggambarkan kebiasaan manusia yang mulai bergantung pada kecerdasan buatan (AI) dalam berpikir. Istilah ini diperkenalkan oleh para peneliti dari Wharton Business School, yaitu Steven Shaw dan Gideon Nave. Secara sederhana, penyerahan kognitif merujuk pada kondisi di mana seseorang mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada teknologi seperti chatbot AI, daripada menggunakan logika sendiri.
Dalam sebuah penelitian, sebanyak 1.372 orang diminta mengerjakan tes logika sambil diberi akses ke chatbot AI. Tes ini merupakan versi dari Tes Refleksi Kognitif, yang menguji kemampuan berpikir secara pelan, logis, dan analitis. Salah satu contoh soalnya adalah jika 5 mesin membuat 5 barang dalam 5 menit, berapa lama 100 mesin membuat 100 barang? Jawaban yang benar adalah 5 menit. Namun, banyak orang cenderung menjawab cepat tanpa berpikir dalam, sehingga salah.
Hasil penelitian menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan. Saat AI memberi jawaban benar, peserta mengikuti hingga 93% dan saat AI salah, peserta tetap mengikuti hingga 80%. Selain itu, pengguna AI bahkan merasa lebih percaya diri, meskipun jawabannya keliru. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak orang cenderung percaya pada AI tanpa mengecek kembali kebenarannya.
Penelitian ini juga mengembangkan gagasan baru dari teori berpikir dalam buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman. Sebelumnya, manusia dikenal memiliki dua cara berpikir, yaitu cepat dan intuitif serta lambat dan analitis. Dengan hadirnya AI, muncul konsep baru yang disebut Sistem 3, yaitu ketika manusia mengandalkan bantuan AI untuk mengambil keputusan.
Sistem ini memang memudahkan hidup karena menghemat waktu berpikir, mempercepat pengambilan keputusan, dan memberikan akses informasi yang luas. Namun, di sisi lain, hal ini juga berisiko membuat manusia menjadi kurang kritis. Tidak selalu buruk, tapi tetap harus diwaspadai.
Para peneliti menilai penyerahan kognitif tidak sepenuhnya negatif. AI bisa membantu manusia bekerja lebih efisien. Namun, jika digunakan tanpa kontrol, kebiasaan ini bisa membuat kemampuan berpikir mandiri menjadi melemah. Istilah ini sebenarnya pernah digunakan sebelumnya oleh Peter Berger dalam konteks berbeda, tetapi kini maknanya berkembang seiring kemajuan teknologi.
Fenomena ini mirip seperti seseorang yang selalu meminta jawaban dari orang lain tanpa mencoba berpikir sendiri. Bedanya, sekarang orang lain itu adalah AI. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin manusia akan semakin bergantung pada AI dalam mengambil keputusan sehari-hari.
Upaya Pemprov Jateng Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Melalui Optimalisasi Aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng)…
Siswa 9 Tahun di Probolinggo Diduga Dianiaya Guru Ngaji, Berawal dari Goresan di Mobil Kiai…
Perimenopause: Fase Alami yang Perlu Dipahami dengan Bijak Perimenopause adalah fase alami dalam siklus kehidupan…
jatim. GRESIK - Aparat kepolisian berhasil menangkap dua pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang melakukan…
Bocoran Spesifikasi Oppo Pad Mini yang Menarik Perhatian Bocoran mengenai Oppo Pad Mini kembali muncul…
Kehadiran Seonu Chan dalam Drama "In Your Radiant Season" Dalam drama "In Your Radiant Season",…