Belum genap sebulan berlalu sejak masyarakat Muslim merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Suasana silaturahmi dan keakraban pada momen Lebaran masih membekas di ingatan. Sebagian warga bahkan ada yang baru saja kembali dari perjalanan liburan dalam suasana libur Hari Raya.
Namun seminggu selepas lebaran, kolom-kolom pemberitaan di media massa dan layar media sosial masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) sudah diwarnai berita dan kabar miris. Terjadi sederet tindak kekerasan yang melibatkan senjata tajam. Satu demi satu kabar dan berita tentang aksi penganiayaan bahkan hingga menyebabkan korban meninggal dunia bergantian muncul membuat heboh warga.
Salah satu insiden yang terjadi di Gang Manunggal, Kuin Cerucuk, Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin pada Selasa (31/3). Inisiden yang terjadi di siang bolong itu membuat heboh publik. Pelaku bernama Agus (40) secara tiba-tiba menganiaya kakak iparnya sendiri, Noorwahdiatsyah (62) secara beringas hingga korban meninggal dunia.
Serangan brutal Agus terhadap kakak iparnya itu didasari oleh dendam setelah keduanya dikabarkan kerap berselisih paham. Ada pula kejadian penganiayaan menggunakan belati oleh pemuda berinisial RS (24) terhadap Abdillah (29) di Jalan Panglima Batur, Sungai Jingah, Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Rabu (1/4).
Mirisnya, Abdillah yang jadi korban dan meninggal dunia akibat peristiwa itu dikabarkan tak saling kenal dengan pelaku. Peristiwa nahas juga dialami Jarkani (60) warga Desa Mentaren, Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala, Sabtu (4/4). Ia tewas setelah dibunuh oleh anak kandungnya sendiri, MR (23).
Pemberitaan terkait kejadian kekerasan melibatkan senjata tajam seolah jadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Kalsel beberapa pekan belakangan. Mirisnya, tak cuma karena dendam pribadi, namun ada pula insiden berdarah yang diduga terjadi dalam konteks salah sasaran.
Hal itu seolah menggambarkan bahwa begitu murahnya harga nyawa manusia bagi pelakunya. Entah karena didasari faktor tekanan ekonomi, kurangnya pendidikan moral dan agama atau karena pengaruh lain, namun mudahnya hilang rasa empati pada pelaku ibarat menjadi sinyal yang menunjukkan ada yang salah dalam satu sudut spektrum kehidupan bermasyarakat.
Selain penegakan hukum, rasanya penting dilakukan pendekatan dari sisi lain khususnya di bidang moral dan keagamaan untuk menekan risiko kejadian demikian terus berulang di tengah masyarakat. Upaya demikian juga jelas jadi tanggungjawab para orang tua agar tak mengenyampingkan pendidikan dan tuntunan moral dalam membimbing anggota keluarga di rumah.
Di sisi lain, faktor besarnya tekanan ekonomi di tengah kondisi global yang tak menentu juga yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat. Hal ini harus dipikirkan oleh pemerintah demi menjaga kelangsungan tatanan kehidupan bermasyarakat.
Beberapa faktor dapat menjadi penyebab kekerasan yang terjadi di masyarakat, antara lain:
Dengan memahami penyebab-penyebab tersebut, langkah-langkah preventif dapat diambil untuk mengurangi risiko kekerasan di masa depan.
Informasi Lowongan Kerja di Hisana Fried Chicken Gorontalo Hisana Fried Chicken, sebuah jaringan waralaba lokal…
Kecelakaan Helikopter Militer Qatar Memperparah Ketegangan di Kawasan Teluk Sebuah helikopter militer Qatar jatuh, menewaskan…
Ammar Zoni mengungkapkan perasaannya tentang perceraian dengan Irish Bella saat membacakan nota pembelaannya dalam persidangan.…
Pemkot Bogor Terapkan Kebijakan WFH Setiap Jumat Pemerantah Kota (Pemkot) Bogor melalui Badan Kepegawaian dan…
Kehidupan Malam yang Penuh Warna di Pasar Malam Haurgeulis Area pasar malam yang berada di…
Mengupas Tuntas Kompleksitas Chu Sang Ah dalam "Climax" Dunia hiburan Korea Selatan dikenal dengan gemerlapnya,…