Dua Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian di Lebanon Akibat Ledakan Misterius
Duka mendalam menyelimuti Indonesia dan rakyatnya atas gugurnya dua prajurit TNI, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Ikhwan, yang bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Insiden tragis ini terjadi saat keduanya tengah melaksanakan evakuasi jenazah rekan mereka, Praka Farizal Romadhon, di wilayah Bani Hayyan. Ledakan yang menghantam kendaraan yang mereka tumpangi merenggut nyawa kedua prajurit tersebut, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan mereka.
Kejadian ini menjadi insiden fatal kedua dalam kurun waktu 24 jam terakhir di kawasan misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon), menyoroti situasi keamanan yang semakin genting di wilayah tersebut. Hingga kini, penyebab pasti ledakan yang merenggut nyawa prajurit TNI masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.
Dua prajurit TNI lainnya, Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni, dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden yang sama. Mereka berhasil dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis di rumah sakit di Beirut.
Kronologi Insiden yang Mengharukan
Menurut laporan kronologi sementara, insiden memilukan ini berawal ketika satuan tugas Indonesia, Indonesian Task Force Bravo (TFB), yang terdiri dari dua kendaraan, melakukan pengawalan terhadap rombongan dari Spanyol yang tergabung dalam CSSU (Combat Support Service Unit). Total terdapat enam unit kendaraan dalam iring-iringan tersebut. Rombongan ini sedang dalam perjalanan untuk menjemput jenazah Praka Farizal Romadhon.
Ketika salah satu kendaraan lapis baja yang membawa peti jenazah kosong hendak berbelok di dekat Bani Hayyan, tiba-tiba sebuah ledakan keras menghantam kendaraan nomor satu. Ledakan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada kendaraan.
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, yang menjabat sebagai Danki B, dan Sertu Ikhwan dilaporkan gugur di lokasi kejadian. Tragisnya, kedua prajurit tersebut tidak sempat dievakuasi oleh tim yang berada di belakang mereka karena intensitas serangan di area kejadian sangat tinggi.
Sementara itu, dua prajurit yang terluka, Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni, berhasil dilarikan ke Sector East HQ pada pukul 12.00 waktu setempat. Penanganan medis awal untuk korban luka-luka dilakukan oleh tim medis dari Tiongkok di fasilitas medis 7-2.
Pukul 13.45 waktu setempat, helikopter pertama tiba di Sector East HQ untuk mengevakuasi Praka Deni menuju Rumah Sakit St. George di Beirut. Selang sebelas menit kemudian, pada pukul 13.55, helikopter kedua datang menjemput Kapten Inf Sulthan untuk dibawa ke rumah sakit yang sama di Beirut.
Latar Belakang Gugurnya Praka Farizal Romadhon
Perlu diketahui, prajurit TNI yang jenazahnya hendak dievakuasi, Praka Farizal Romadhon, merupakan anggota TNI dari Kodam Iskandar Muda. Ia gugur akibat ledakan yang terjadi saat terjadi baku tembak antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan pada Minggu, 29 Maret 2026, waktu setempat. Insiden tersebut terjadi sehari sebelum rekan-rekannya berusaha mengevakuasi jenazahnya.
Pernyataan Resmi UNIFIL
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), badan PBB yang bertugas menjaga keamanan di Lebanon, merilis pernyataan pada Senin malam terkait insiden yang menewaskan dua personel pasukan perdamaian mereka. Dalam rilisnya, UNIFIL menyatakan bahwa dua personel pasukan perdamaian gugur secara tragis di Lebanon selatan setelah kendaraan mereka hancur akibat ledakan yang sumbernya belum diketahui di dekat Bani Hayyan.
UNIFIL menegaskan bahwa tidak seharusnya ada orang yang harus meninggal saat menjalankan misi perdamaian. Badan PBB ini menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga, teman, dan rekan-rekan para pasukan perdamaian yang gugur dalam menjalankan tugas mulia mereka.
Insiden ini kembali mengingatkan betapa berbahayanya misi perdamaian di zona konflik. Para prajurit TNI yang bertugas di bawah bendera PBB telah menunjukkan dedikasi dan keberanian luar biasa dalam menjaga perdamaian dunia, meskipun harus mengorbankan nyawa mereka.
Investigasi Lanjutan
Penyebab pasti ledakan yang merenggut nyawa Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Ikhwan masih menjadi misteri. Pihak UNIFIL dan otoritas terkait lainnya sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap fakta di balik tragedi ini. Hasil investigasi diharapkan dapat memberikan kejelasan dan mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Meskipun kehilangan personel terbaik, semangat misi perdamaian UNIFIL dan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas regional tetap kuat. Namun, tragedi ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan risiko yang dihadapi para penjaga perdamaian di garis depan.
Keluarga besar TNI dan seluruh rakyat Indonesia berduka atas gugurnya para pahlawan bangsa. Doa dan harapan terbaik menyertai proses pemulihan bagi prajurit yang terluka, serta ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.







