Situasi Kemanusiaan dan Militer di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Di tengah memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah, sejumlah laporan mengungkap fakta yang memprihatinkan terkait kondisi personel militer Israel dan situasi kemanusiaan di berbagai wilayah yang terdampak. Laporan-laporan ini menyoroti tekanan psikologis yang dihadapi para prajurit, serta solidaritas yang tumbuh dari berbagai pihak terhadap rakyat yang menderita.
Personel Militer Israel: Antara Trauma dan Panggilan Tugas
Sebuah temuan mengejutkan muncul dari sejumlah kantor berita yang melaporkan kondisi personel militer Israel. Ratusan prajurit yang dilaporkan mengalami gangguan psikologis berat, termasuk Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), ternyata dipanggil kembali untuk bertugas meskipun masih dalam proses rehabilitasi. Banyak dari mereka bahkan belum sempat menjalani pemeriksaan resmi oleh komite medis, sebuah proses yang lazimnya memakan waktu bertahun-tahun.
Tekanan dan ancaman dari para komandan memaksa sebagian besar dari mereka untuk kembali mengenakan seragam militer, meski masih dibayangi trauma mendalam. Beberapa komandan bahkan tega mengancam para prajurit dengan tuduhan desersi apabila menolak panggilan tugas. Pendekatan serupa juga dilaporkan diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri.
Menurut laporan yang diterima, lebih dari 20 kasus serupa tercatat sejak pecahnya perang. Baru setelah adanya intervensi dari pihak militer pada kasus-kasus tertentu, perintah penugasan tersebut akhirnya dicabut. Situasi ini mengindikasikan betapa daruratnya kekurangan personel militer di Israel, hingga pasien gangguan kejiwaan pun tak luput dari panggilan perang.
Serangan Houthi dan Pernyataan Solidaritas
Sementara itu, Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi, kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari. Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari “Perang Jihad Suci” dan menargetkan sasaran-sasaran militer di wilayah selatan Palestina yang diduduki. Saree menegaskan bahwa Houthi akan terus melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresi terhadap Iran dan Lebanon.
Di sisi lain, Ghada Ageel, seorang pengungsi Palestina generasi ketiga dan profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, menyampaikan solidaritas mendalam kepada rakyat Iran. Dalam pandangannya, tragedi yang menimpa Iran mencerminkan penderitaan panjang yang telah dialami rakyat Palestina sejak peristiwa Nakba hingga kehancuran Gaza.
Ageel menekankan bahwa rakyat Iran tidak menginginkan pergantian penindasan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. Mereka menolak intervensi asing yang hanya menggantikan bentuk dominasi lama dengan yang baru. Ia berpendapat bahwa kebebasan bukanlah agenda Barat, meskipun ada retorika publik yang mengatakannya. Imperialisme, menurutnya, lebih mengutamakan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan daripada kebebasan.
Pola Serangan dan Dampak Psikologis
Ageel juga mengingatkan bahwa perang tidak pernah bersifat selektif. Bom tidak pandang bulu, dan kehancuran selalu menimpa warga sipil. Ia menyoroti pola serangan Israel yang serupa antara Gaza dan Iran, termasuk penargetan infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan ruang publik. Taktik “serangan ganda” yang menyasar tim penyelamat juga menjadi perhatiannya. Menurutnya, strategi ini bukan hanya bertujuan menghancurkan fisik, tetapi juga menyebarkan teror psikologis untuk mematahkan semangat masyarakat.
Bagi Ageel, Gaza telah menjadi “laboratorium” bagi strategi militer Israel yang kini meluas ke wilayah lain, termasuk Iran dan Lebanon. Ia memperingatkan bahwa jika pola kekerasan ini terus berlanjut, kawasan Timur Tengah berisiko mengalami kehancuran berkepanjangan, tanpa ruang aman bagi warganya. Mengutip puisi Mahmoud Darwish, Ageel mengingatkan akan harga mahal kehilangan tanah dan masa depan akibat siklus kekerasan yang tak kunjung usai.
Iran sebagai Simbol Perlawanan Global
Sutradara film legendaris Iran, ‘Children of Heaven’, Majid Majidi, menilai Teheran saat ini berada pada posisi simbolis bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia, di tengah operasi gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Hari ini, Republik Islam Iran mewakili semua orang tertindas dan teraniaya di dunia, berdiri menghadapi rezim Israel dan melawan kebijakan hegemonik pemerintah Amerika Serikat,” ujar sutradara tersebut melalui pernyataan tertulisnya.
Majidi menggambarkan perang yang berlangsung bukan sekadar konflik militer, melainkan perang antara kebenaran dan kebatilan yang dampaknya dirasakan hingga ke masyarakat sipil. Ia mengatakan garis depan konflik kini tidak hanya berada di medan tempur, melainkan rumah-rumah penduduk, rumah sakit, hingga sekolah anak-anak ikut menjadi bagian dari realitas perang, di mana masyarakat tidak lagi memiliki tempat berlindung selain harapan.
Di tengah tekanan dan kekerasan, Majidi menilai rakyat Iran tetap menunjukkan keteguhan. Ia mengatakan perlawanan terlihat dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para pemimpin hingga anak-anak sekolah dasar yang menurutnya ikut merasakan dampak situasi.
“Terlepas dari semua kekerasan dan tekanan, rakyat Iran tetap berdiri tegak, mulai dari para pemimpinnya hingga anak-anak sekolah dasar yang tidak berdosa. Mereka semua adalah bagian dari narasi perlawanan suatu bangsa yang mau tidak tunduk pada tekanan,” ucap Majidi.
Peran Kekuatan Dunia dan Tanggung Jawab Intelektual
Majidi juga menyinggung keterlibatan kekuatan besar dunia di kawasan Timur Tengah. Ia menilai sejumlah negara berupaya mengubah peta geopolitik wilayah tersebut demi menguasai sumber daya serta memperluas pengaruh politik. Namun demikian, ia mengemukakan bahwa perlawanan masyarakat Iran menunjukkan bahwa kehendak suatu bangsa dapat menahan kekuatan besar sekalipun.
Majidi meyakini sejarah akan mencatat bahwa tekad, persatuan, dan solidaritas mampu menahan kekuatan besar. Ia juga menyerukan peran kalangan intelektual, penulis, dan seniman dunia. Menurutnya, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan manusia dan harus membela kebenaran serta martabat manusia melalui seni dan pemikiran.
“Hari ini, tanggung jawab moral dan kemanusiaan mereka terhadap penindasan dan ketidakadilan menjadi sangat jelas lebih dari sebelumnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa simpati terhadap rakyat Iran muncul dari berbagai negara dan meyakini banyak masyarakat dunia memahami bahwa keinginan bangsa Iran adalah kemerdekaan, martabat, serta perlawanan terhadap penindasan.
“Hari ini adalah hari kebangkitan dan kesadaran hati nurani di seluruh dunia, hari ketika orang-orang merdeka berdiri melawan ketidakadilan dan membela martabat manusia,” kata Majidi menutup pesannya.







