Kapal Minyak Dapat Lampu Hijau Iran: Daftar Negara di Selat Hormuz

Ketegangan Geopolitik Memicu Pembatasan di Selat Hormuz, Sejumlah Negara Diberi Akses

Dunia menyaksikan peningkatan tajam ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Respons Iran terhadap agresi ini tidak tinggal diam. Teheran membalas dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai negara Timur Tengah, serta memberlakukan pembatasan signifikan terhadap perlintasan di Selat Hormuz, sebuah jalur maritim yang sangat vital bagi perdagangan global, khususnya energi.

Eskalasi militer ini secara efektif menciptakan blokade de facto di sekitar Selat Hormuz. Jalur perairan ini merupakan urat nadi utama untuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara penghasil di Teluk Persia menuju pasar internasional. Akibat pembatasan yang diberlakukan Iran, ribuan kapal komersial dilaporkan tertahan, dengan perkiraan mencapai sekitar 1.900 kapal, sebagian besar berada di perairan Teluk Persia. Kapal-kapal yang berencana melintasi selat strategis ini terpaksa menghentikan perjalanan mereka, banyak di antaranya memilih untuk menurunkan jangkar di perairan terbuka sembari menunggu perkembangan situasi.

Bacaan Lainnya

Namun, di tengah pembatasan tersebut, Iran menegaskan bahwa kapal-kapal dari negara-negara yang tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap mereka, serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan yang berlaku, tetap diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini membuka celah bagi negara-negara sahabat dan negara yang bersikap netral untuk tetap menjalankan aktivitas pelayaran mereka.

Negara-negara yang Mendapat Restu Iran untuk Melintasi Selat Hormuz

Pemerintah Iran secara bertahap memberikan izin pelintasan kepada kapal-kapal dari berbagai negara yang dianggap tidak bermusuhan. Daftar negara-negara yang kapalnya telah diizinkan oleh Iran untuk melintasi Selat Hormuz mencakup beberapa negara sahabat dan negara yang memiliki hubungan baik dengan Teheran.

Berikut adalah rincian negara-negara tersebut:

  1. Rusia, Tiongkok, India, Pakistan, dan Irak
    Iran secara eksplisit telah mengizinkan kapal-kapal dari beberapa negara yang dianggap sebagai sahabat dekatnya, termasuk Rusia dan Tiongkok, untuk melewati Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebagaimana dikutip oleh berbagai kantor berita internasional, menyatakan bahwa negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, beserta negara-negara lain yang dianggap sebagai sahabat, diberikan izin untuk melintasi jalur maritim vital ini. Pernyataan tersebut juga menekankan bahwa Teheran tidak memiliki alasan untuk mengizinkan kapal-kapal yang dianggap sebagai musuh untuk melewati Selat Hormuz.

  2. Malaysia
    Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengumumkan bahwa kapal-kapal tanker minyak milik Malaysia akan diberikan izin untuk melintasi Selat Hormuz. Ucapan terima kasih disampaikan oleh Anwar Ibrahim kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin tersebut. Situasi ini dilaporkan sedang dalam proses penyelesaian, di mana kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat akan segera diizinkan untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka. Anwar Ibrahim juga mengakui bahwa kondisi saat ini sangat kompleks, mengingat Iran merasa telah berulang kali dikhianati dan enggan mengambil langkah menuju perdamaian tanpa adanya perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan yang kuat.

  3. Thailand
    Thailand berhasil memperoleh izin dari Iran untuk salah satu kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz setelah melalui serangkaian koordinasi bilateral yang intensif. Kementerian Luar Negeri Thailand telah menyerahkan daftar nama kapal yang teridentifikasi, termasuk satu kapal milik Bangchak Corporation dan satu lagi yang dioperasikan oleh SCG Chemicals, kepada pihak berwenang Iran. Iran dilaporkan telah memberikan izin kepada kapal tanker minyak Bangchak untuk melintasi Selat Hormuz dan kembali ke Thailand dengan selamat. Pihak berwenang Thailand juga terus berupaya untuk mendapatkan izin serupa bagi kapal SCG Chemicals setelah menyerahkan rincian yang diperlukan kepada Iran.

  4. Bangladesh
    Iran juga telah memberikan izin kepada kapal-kapal tanker minyak yang menuju Bangladesh untuk melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini merupakan bagian dari perlakuan Iran terhadap negara-negara yang dianggap “sahabat” atau “tidak bermusuhan,” meskipun ketegangan regional yang sedang berlangsung telah menimbulkan gangguan signifikan terhadap pelayaran global. Meskipun belum ada komunikasi resmi yang dikeluarkan secara spesifik oleh Iran mengenai akses ini, kapal-kapal dari Bangladesh dilaporkan tidak dikenai pembatasan apa pun, menunjukkan adanya pemahaman dan izin implisit.

  5. Indonesia
    Pemerintah Indonesia menerima respons positif dari pemerintah Iran terkait permohonan agar dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman. Kementerian Luar Negeri RI, melalui juru bicaranya, mengonfirmasi bahwa mereka bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran sejak awal untuk menjamin keselamatan kapal tanker tersebut. Respons positif dari pihak Iran ini telah memicu langkah-langkah tindak lanjut pada aspek teknis dan operasional, meskipun belum ada kepastian waktu kapan kapal tanker tersebut dapat keluar dari Selat Hormuz.

  6. Jepang
    Teheran menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pelayaran kapal-kapal Jepang melalui Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengemukakan bahwa negosiasi dengan Jepang mengenai masalah ini sedang berlangsung. Araghchi menekankan bahwa Iran belum menutup selat tersebut dan jalur air strategis itu tetap terbuka. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng. Iran siap untuk memastikan jalur yang aman bagi negara-negara seperti Jepang, asalkan ada koordinasi yang baik dengan Teheran.

Dampak dan Harapan

Pembatasan di Selat Hormuz ini memiliki implikasi ekonomi global yang signifikan, mengingat peranannya sebagai jalur utama pasokan energi dunia. Namun, kebijakan Iran untuk memberikan akses kepada negara-negara tertentu menunjukkan upaya untuk meminimalkan dampak negatif pada negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik, sembari tetap menegaskan posisinya dalam menghadapi agresi. Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional, dengan harapan agar eskalasi ketegangan dapat mereda dan jalur pelayaran internasional kembali normal.

Pos terkait