Categories: Ekonomi

10 Bank Teratas RI: Duel Laba Terbesar Berbasis Lapkeu 2025

Kinerja sektor perbankan Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan gambaran yang bervariasi. Meskipun sebagian besar bank berhasil mencatatkan pertumbuhan positif, ada pula yang menghadapi penurunan profitabilitas dibandingkan periode sebelumnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Portal Data Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi melaporkan bahwa bank umum secara kolektif berhasil mengumpulkan laba bersih sebesar Rp262,18 triliun pada kuartal IV tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 2,74% jika dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal IV tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp255,19 triliun.

Peningkatan laba perbankan ini terutama didorong oleh kinerja pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,09% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pendapatan bunga bersih meningkat dari Rp549,75 triliun pada kuartal IV tahun 2024 menjadi Rp572,21 triliun hingga akhir Desember 2025.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit oleh bank umum mencapai Rp707,46 triliun pada kuartal IV tahun 2025. Angka ini menandai peningkatan sebesar 5,01% YoY dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp673,72 triliun.

Sementara itu, total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh bank umum juga menunjukkan tren positif. DPK tumbuh sebesar 6,62% YoY, meningkat dari Rp247,27 triliun pada kuartal IV tahun 2024 menjadi Rp263,64 triliun pada kuartal IV tahun 2025.

Pertumbuhan DPK ini sebagian besar didorong oleh peningkatan signifikan pada simpanan giro bank umum, yang melonjak 12,67% YoY menjadi Rp68,05 triliun per Desember 2025. Simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito berjangka juga turut mencatatkan kinerja positif, masing-masing dengan pertumbuhan 6,31% YoY dan 4,47% YoY.

Berikut adalah rangkuman kinerja 10 bank dengan laba terbesar di Indonesia sepanjang tahun 2025:

1. BCA (PT Bank Central Asia Tbk.)

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kembali mendominasi daftar bank dengan laba terbesar di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, BCA berhasil membukukan laba konsolidasian sebesar Rp57,56 triliun. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 4,94% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp54,85 triliun.

Dari sisi intermediasi, total kredit yang disalurkan oleh BCA mencapai Rp979,69 triliun, menunjukkan peningkatan sebesar 7,53% YoY dari realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp911,10 triliun. Di sisi lain, DPK BCA juga mengalami pertumbuhan yang impresif sebesar 10,18% YoY, meningkat dari Rp1.133,61 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp1.249,04 triliun.

2. BRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati posisi kedua dalam daftar ini dengan raihan laba konsolidasian sebesar Rp57,13 triliun pada tahun 2025. Meskipun demikian, angka ini mengalami koreksi sebesar 5,26% YoY dibandingkan dengan laba yang dibukukan pada tahun 2024 yang mencapai Rp60,30 triliun.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 menyatakan bahwa pencapaian laba bersih Rp57,13 triliun ini didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai. Hal ini tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI yang berada pada level yang sehat, yaitu 91,4%, memberikan ruang bagi BRI untuk terus bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

3. Bank Mandiri (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.)

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemiliknya senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan tipis sebesar 0,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp55,78 triliun.

Dalam periode yang sama, BMRI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp1.895 triliun, meningkat 13,4% YoY. Pada sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), tercatat sebesar Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY, dengan pertumbuhan dana murah yang mencapai 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.

Penyaluran kredit ini ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, meskipun pertumbuhan industri secara keseluruhan melambat.

Dari sisi rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), Bank Mandiri mencatatkan angka 0,96% secara bank only, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 20,4%. Aset perseroan juga mengalami pertumbuhan sebesar 16,6% YoY, meningkat dari Rp2.427,22 triliun menjadi Rp2.829,95 triliun.

Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,89%, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi akhir 2024 yang sebesar 5,15%.

4. BNI (PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.)

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menempati urutan keempat dengan perolehan laba konsolidasian sebesar Rp20,11 triliun. Raihan laba pada tahun 2025 ini mengalami penyusutan sebesar 7,19% YoY dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp21,66 triliun.

Dari sisi intermediasi, bank yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan DPK sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp805,51 triliun.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan. “Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” ujar Putrama.

5. BSI (PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk.)

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) menduduki posisi kelima dengan laba bersih sebesar Rp7,56 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8,02% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp7,00 triliun.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyampaikan bahwa kinerja solid BSI sepanjang 2025 ditopang oleh berbagai faktor, termasuk berjalannya fungsi intermediasi yang optimal. “Didukung pendanaan yang ample serta penyaluran pembiayaan yang sehat, tepat sasaran, dan juga kontribusi dukungan pembiayaan program yang sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” ujar Anggoro.

6. CIMB Niaga (PT Bank CIMB Niaga Tbk.)

PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) berada di urutan keenam dengan raihan laba konsolidasian senilai Rp6,93 triliun pada tahun 2025. Realisasi ini menunjukkan pertumbuhan tipis sebesar 0,53% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp6,89 triliun.

Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa hasil kinerja CIMB Niaga pada tahun 2025 mencerminkan konsistensi performa serta kesehatan fundamental bisnis bank. “Di tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang prudent, menjaga kualitas aset, memperkuat basis dana murah, serta menjalankan pengelolaan biaya yang disiplin,” ungkap Lani.

7. OCBC NISP (PT Bank OCBC NISP Tbk.)

PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan laba bersih setelah pajak senilai Rp5,05 triliun sepanjang tahun 2025, menempatkannya di posisi ketujuh dalam daftar ini. Realisasi laba pada tahun 2025 meningkat sebesar 3,92% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,86 triliun.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, mengungkapkan bahwa pihaknya tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent. “Sepanjang 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi,” kata Parwati. Ia menambahkan bahwa penguatan DPK dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja OCBC NISP ke depan.

8. Permata Bank (PT Bank Permata Tbk.)

PT Bank Permata Tbk. (BNLI) membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp3,58 triliun hingga akhir tahun 2025. Raihan laba ini naik tipis sebesar 0,59% YoY dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp3,56 triliun.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menyampaikan bahwa Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan, di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang 2025. Ia meyakini bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan oleh relevansi, dengan menjadi bank pilihan utama nasabah untuk memenuhi kebutuhan keuangan sehari-hari, bisnis, dan keluarga mereka.

9. Bank Danamon (PT Bank Danamon Indonesia Tbk.)

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berada di urutan selanjutnya dengan perolehan laba konsolidasian senilai Rp3,58 triliun sepanjang tahun 2025. Realisasi ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,59% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp3,56 triliun.

Direktur Utama Danamon, Daisuke Ejima, menyatakan bahwa sepanjang 2025, Danamon telah mengimplementasikan prioritas strategisnya dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan pada sisi intermediasi maupun profitabilitas, dengan kualitas aset yang tetap terjaga. “Danamon menyambut 2026 dengan tekad yang lebih kuat untuk menjadi penyedia solusi finansial yang terus berupaya mendapatkan kepercayaan nasabah serta untuk terus berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Daisuke.

10. BTN (PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.)

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) menutup daftar ini dengan perolehan laba bersih konsolidasian senilai Rp3,50 triliun sepanjang tahun 2025. Dibandingkan tahun sebelumnya, raihan laba ini meningkat signifikan sebesar 16,42% YoY dari Rp3,00 triliun.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan bahwa BTN berhasil mengakselerasi pertumbuhan bisnis sepanjang 2025 yang ditopang penguatan profitabilitas dan proses bisnis yang semakin efisien berkat transformasi yang konsisten dilakukan di berbagai lini. “Kinerja yang positif ini merupakan hasil kerja keras atas penerapan strategi bisnis yang cermat serta pengelolaan keuangan yang sehat dan disiplin,” ujar Nixon.

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Selamat Paskah 2026: Umat Doakan Kedamaian Bangsa di Tanggal 5 April

Ucapan Selamat Paskah 2026 dari Menteri Agama Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, memberikan ucapan…

39 menit ago

Rusia Rancang Pembangkit Nuklir di Bulan, Perang Sumber Daya Luar Angkasa Dimulai

Perkembangan Teknologi Nuklir di Bulan Langit malam mungkin masih tampak tenang. Namun di baliknya, perlombaan…

43 menit ago

Dengung DJ Ganggu Warga, Pedagang Kuliner Malam Ditegur

Pekanbaru menjadi sorotan setelah suasana kawasan kuliner malam di Jalan Cut Nyak Dhien, Pekanbaru, berubah…

1 jam ago

Lebaran Usai, ASN Sulbar Tetap WFA Hingga 27 Maret

Kebijakan Fleksibilitas Kerja ASN Pemprov Sulawesi Barat Pasca Idulfitri: WFH/WFA Diperbolehkan untuk Sebagian Golongan Pemerintah…

2 jam ago

Satu Arah Berlaku di Jalur Puncak, Lihat Jadwal Lengkapnya

Sistem One Way di Jalur Puncak Berlaku Mulai Senin, 23 Maret 2026 Pada Senin pagi,…

2 jam ago

Pengakuan Niko Al Hakim Soal Jual Rumah dan Kegagalan Bisnis

Klarifikasi Panjang Niko Al Hakim Terkait Penjualan Rumah Anak Niko Al Hakim, yang juga dikenal…

2 jam ago