Categories: Olahraga

Rasialisme Menyerang Tata: Punggawa Persebaya Diserang Usai Bentrok dengan Persib

Alfredo Tata Jadi Sasaran Komentar Rasisme, Dukungan Mengalir dari Suporter dan Warganet

Insiden yang tidak menyenangkan kembali mewarnai dunia sepak bola Indonesia. Kali ini, pemain muda Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata, menjadi korban komentar bernada rasisme di akun media sosialnya. Kejadian ini mencuat setelah laga antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung, menambah daftar panjang kasus serupa yang mencoreng citra olahraga tanah air.

Peristiwa ini bermula ketika Alfredo Tata diduga terlibat dalam adu mulut dengan salah satu pemain Persib Bandung dalam pertandingan tersebut. Pasca laga, akun Instagram pribadi Tata dibanjiri oleh komentar-komentar bernada rasis dari sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Fenomena ini tentu saja menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan publik, terutama mengingat kasus serupa kerap terjadi setelah pertandingan yang melibatkan tim Persib.

Menanggapi situasi yang memprihatinkan ini, komunitas suporter Persebaya, yang dikenal sebagai Bonek, bersama dengan banyak warganet lainnya, menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Melalui berbagai platform media sosial, tagar dukungan mengalir deras untuk Tata. Salah satunya adalah unggahan dari akun TikTok @OnlinePersebaya yang menampilkan poster bertuliskan “We Stand With Tata”, sebagai bentuk pernyataan sikap menolak segala bentuk rasisme.

“Pemain Persebaya Surabaya, Mikael Alfredo Tata mendapatkan berbagai komentar rasis di akun Instagramnya. Tetap kuat, Tata,” tulis akun tersebut, yang kemudian viral dan memicu gelombang dukungan lebih lanjut.

Para suporter dan warganet tidak hanya memberikan semangat, tetapi juga mengecam keras tindakan rasisme tersebut. Mereka menekankan pentingnya menyampaikan kritik secara sportif dan membangun, tanpa harus menyerang identitas pribadi seseorang. Berbagai komentar dukungan yang positif memenuhi kolom komentar, menunjukkan bahwa mayoritas publik sepak bola Indonesia menolak praktik ujaran kebencian.

Beberapa contoh komentar dukungan yang beredar antara lain:

  • “KAMI BERSAMAMU BOLO”
  • “Performanya emang nggak banget kemarin, tapi ya jangan rasis lah. Kritik saran aja cukup.”
  • “Arek-arek tetep nak mburimu. Semangat Ta Tata @alfredotata15”
  • “Tata strong”

Desakan Tindakan Tegas dan Keadilan

Selain dukungan moral, banyak warganet yang menyuarakan desakan agar para pelaku ujaran rasisme dapat diproses secara hukum. Mereka berpendapat bahwa tindakan rasisme, terutama yang menyangkut suku dan keluarga, seharusnya tidak bisa ditoleransi dan perlu diberikan sanksi tegas agar memberikan efek jera.

“Sekirane lak rasis e kenemen opo maneh nyandak nak suku dan keluarga langsung ae ambil jalur hukum,” tulis salah seorang warganet.

“Asli iso dipidanano ae gak seh, pls gausah klarif-klarifan lek wes kecekel,” tambah yang lain, menyuarakan keinginan agar pelaku tidak diberi kesempatan klarifikasi jika sudah tertangkap.

Ada pula yang menyoroti fenomena semakin maraknya akun anonim yang digunakan untuk melancarkan ujaran kebencian. Hal ini dianggap semakin meresahkan dan menyulitkan penelusuran pelaku.

“Makin kesini makin meresahkan suporter fomo, bikin akun fake sampai masuk akun official. Kayaknya harus mulai diseret ke jalur hukum,” ujar seorang warganet, menyoroti praktik penggunaan akun palsu.

Rasisme, Luka Lama dalam Sepak Bola Indonesia

Insiden yang menimpa Alfredo Tata bukanlah kali pertama terjadi di kancah sepak bola Indonesia. Kasus serupa sebelumnya juga pernah dialami oleh pemain Malut United, Yance Sayuri dan Yakob Sayuri. Kejadian tersebut terjadi pasca pertandingan antara Malut United melawan Persib Bandung pada 14 Desember 2025.

Dalam laga tersebut, Yance Sayuri terlibat insiden dengan kapten Persib Bandung, Marc Klok. Meskipun Yance telah menyampaikan permintaan maaf setelah pertandingan, ia tetap menjadi sasaran komentar bernada rasisme. Situasi semakin buruk ketika Yakob Sayuri, saudara kandung Yance, mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial.

“Yang bertanding siapa, yang kena rasis siapa? Hitam itu mahal, keriting itu identitas. Sa bangga jadi orang timur,” tulis Yakob, menyuarakan rasa bangganya terhadap identitasnya yang seringkali menjadi sasaran diskriminasi.

Kekecewaan Yakob semakin memuncak ketika keluarganya juga turut menjadi sasaran komentar-komentar tidak pantas. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap performa pemain adalah hal yang wajar dalam dunia olahraga, namun ujaran rasisme, apalagi yang menyerang anak dan istri, sama sekali tidak dapat diterima.

Kasus-kasus seperti ini menjadi pengingat pahit bahwa rasisme masih menjadi masalah serius yang perlu diberantas tuntas dalam sepak bola Indonesia. Dukungan publik dan desakan untuk tindakan tegas dari pihak berwenang diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih inklusif, adil, dan bebas dari segala bentuk diskriminasi.

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Trump Kirim Utusan ke Pakistan untuk Perdamaian dengan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan bahwa pihaknya akan mengirimkan utusan ke Pakistan untuk…

24 menit ago

Warga Indonesia di Iran Keluarkan Rp 37 Ribu Sebulan untuk Air, Listrik, dan Gas

Pemuda Indonesia di Iran Ungkap Biaya Kebutuhan Dasar yang Sangat Murah Pemuda Indonesia yang tinggal…

1 jam ago

Thomas-Uber 2026: Enam Lapangan Jadi Fokus, Indonesia Siap Bersaing

Tim bulu tangkis Indonesia mengambil langkah strategis dengan menyewa enam lapangan latihan di Horsens Badminton…

1 jam ago

TPID Toraja Utara Antisipasi Inflasi Akibat Kenaikan BBM Non-Subsidi

Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Mengkhawatirkan Stabilitas Harga Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi menjadi…

1 jam ago

PSPS Pekanbaru Unggul 2-1 atas Persekat Tegal di Babak Pertama

PSPS Pekanbaru Unggul Atas Persekat Tegal di Babak Pertama PSPS Pekanbaru berhasil meraih kemenangan tipis…

2 jam ago

Yusuf Rio: Dari Ketua BEM Hingga Janji Kerja Bupati Situbondo

Bupati Situbondo: Aksi Peduli dan Latar Belakang Inspiratif Sang Pemimpin Dalam lanskap politik Indonesia yang…

2 jam ago