Pohon Asam TTU: Kronologi Tragis Kematian Pria di NTT

Tragis di Timor Tengah Utara: Pria Ditemukan Menggantung di Pohon Asam

Sebuah insiden tragis menggemparkan Kampung Oelkunu, Desa Suanae, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Zakarias Oba Babu, seorang pria berusia 42 tahun, ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara yang memilukan. Ia ditemukan dalam kondisi tergantung di sebuah pohon asam, sebuah pemandangan yang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang segera melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang. Tim identifikasi dari Satuan Reskrim Polres Timor Tengah Utara (TTU) segera bergerak cepat menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP.

Bacaan Lainnya

Detail Penemuan dan Kondisi Korban

Menurut keterangan dari Kasi Humas Polres TTU, IPDA Markus Wilco Mitang, jenazah Zakarias Oba Babu ditemukan dalam posisi menggantung menggunakan seutas tali plastik berwarna putih. Yang menarik perhatian adalah posisi kaki korban yang terlipat dan menyentuh tanah, sebuah detail yang mungkin menimbulkan pertanyaan lebih lanjut dalam investigasi.

Saat ditemukan, korban mengenakan pakaian yang cukup sederhana: kaos lengan pendek berwarna biru toska, celana pendek berwarna hitam/abu-abu, dan sandal jepit berwarna putih biru. Di leher korban juga ditemukan sebuah tas berwarna hitam yang berisi beberapa barang pribadi, termasuk satu tempat sirih dan satu pisau berukuran sekitar 10 cm dengan sarung berwarna putih.

Pohon asam tempat korban ditemukan memiliki dahan yang cukup tinggi. Tali yang digunakan korban diikatkan pada dahan dengan simpul mati. Jarak antara dahan tempat tali diikat hingga ke tanah diperkirakan mencapai 2 meter, sementara jarak dari dahan ke leher korban sekitar 99 cm.

Temuan lain yang cukup signifikan adalah adanya sirih pinang di dalam mulut korban, dengan ludah merah yang meleleh dan mengenai bajunya. Hal ini menunjukkan bahwa korban mungkin sedang mengunyah sirih sebelum mengakhiri hidupnya.

Keputusan Keluarga dan Penolakan Otopsi

Dalam situasi yang penuh kesedihan ini, pihak keluarga korban membuat keputusan penting yang memengaruhi kelanjutan proses hukum. Keluarga Zakarias Oba Babu secara tegas menolak dilakukannya otopsi terhadap jenazah korban. Penolakan ini ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan resmi yang menyatakan keberatan mereka terhadap otopsi. Keputusan ini kemungkinan besar didasari oleh keyakinan keluarga atau pertimbangan lain yang bersifat pribadi.

Kronologi Kejadian dan Laporan Awal

Informasi mengenai insiden tragis ini pertama kali diterima oleh Kapolsek Miomaffo Barat, IPDA Paulus Naif, S.H. Beliau kemudian segera menyampaikan informasi tersebut kepada anggota Unit Identifikasi Polres TTU. Setelah menerima laporan, tim identifikasi segera meluncur ke TKP untuk melakukan pemeriksaan.

Proses evakuasi jenazah dilakukan dengan melibatkan anggota Polsek Miomaffo Barat dan dibantu oleh warga setempat. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Eban untuk pemeriksaan medis awal. Namun, karena dokter yang bertugas tidak berada di tempat saat itu, pemeriksaan medis tidak dapat dilakukan secara mendalam. Pihak medis hanya sempat mengambil foto jenazah sebelum akhirnya korban dibawa kembali ke rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga.

Latar Belakang Kehidupan Korban dan Penyakit yang Diderita

Dari keterangan yang dihimpun, terungkap beberapa fakta mengenai latar belakang kehidupan Zakarias Oba Babu. Ayah angkat korban, Paulinus Sonlay, menceritakan bahwa Zakarias telah diangkat sebagai anak sejak usia tiga bulan. Sejak lahir, korban diketahui mengidap penyakit epilepsi.

Keluarga, termasuk Paulinus dan istrinya, telah berusaha keras untuk menyembuhkan penyakit tersebut melalui berbagai upaya pengobatan, baik medis maupun tradisional. Namun, hingga saat ini, penyakit epilepsi tersebut belum dapat disembuhkan sepenuhnya.

Ketika penyakit epilepsi kambuh, korban biasanya mengalami kejang hebat, terjatuh, dan kehilangan kesadaran. Paulinus juga menceritakan sebuah insiden tragis di mana korban sempat terjatuh di dapur dan mengalami luka bakar pada tangan kirinya akibat penyakitnya tersebut.

Meskipun memiliki kondisi kesehatan yang rentan, Zakarias dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Ia aktif membantu orang tuanya dalam kegiatan sehari-hari, seperti memberi makan ternak sapi dan mengolah lahan kebun. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja di kebun.

Upaya Percobaan Bunuh Diri Sebelumnya

Fakta mengejutkan terungkap bahwa ini bukanlah kali pertama Zakarias menunjukkan niat untuk mengakhiri hidupnya. Pada tahun 2023 lalu, korban sempat melakukan upaya percobaan bunuh diri dengan cara yang sama. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan oleh saudara Sipri Naekleu, yang sigap mencegahnya.

Kesaksian Penemu Jenazah

Saksi mata yang pertama kali menemukan jenazah Zakarias adalah Yasintus Susu. Sekitar pukul 11.00 WITA, Yasintus sedang memotong daun lamtoro di dekat lokasi kejadian. Daun tersebut rencananya akan digunakan untuk memberi makan ternaknya.

Saat sedang bekerja, Yasintus melihat korban Zakarias dari jarak sekitar 20 meter. Tanpa menaruh kecurigaan awal, Yasintus sempat memanggil korban dan meminta sirih pinang. Namun, korban tidak memberikan respons. Merasa ada yang tidak beres, Yasintus memutuskan untuk mendekati korban.

Di sanalah Yasintus menemukan Zakarias dalam kondisi tak bernyawa, dengan tali terlilit di lehernya dan ujung lainnya terikat pada pohon asam. Dihantui rasa takut dan terkejut, Yasintus segera menginformasikan kejadian tersebut kepada saksi lain, Yohanis Kenjam, yang merupakan paman korban. Bersama-sama, mereka bergegas ke rumah orang tua korban dan melaporkan temuan ini kepada Kepala Desa Suanae.

Keterangan Paman Korban dan Keluhan Penyakit

Yohanis Kenjam, paman korban, membenarkan bahwa ia pertama kali mengetahui insiden tersebut dari Yasintus Susu sekitar pukul 11.10 WITA. Yohanis menjelaskan bahwa ia dan korban bertetangga, dan ia mengetahui betul perjuangan Zakarias melawan penyakitnya.

Korban sering mengeluh tentang penyakit epilepsinya yang tak kunjung sembuh dan sering terjatuh ketika penyakitnya kambuh. Bersama dengan ayah angkat korban, Yohanis mengaku telah berulang kali mengantar Zakarias berobat, baik melalui pengobatan tradisional maupun medis. Namun, takdir berkata lain, dan penyakit tersebut tetap menjadi beban yang berat bagi korban.

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat akan kompleksitas masalah kesehatan mental dan tantangan yang dihadapi oleh individu dan keluarga yang berjuang melawan penyakit kronis.

Pos terkait