Hamur Mbah Ndut: Kisah Hangat di Kayutangan

Di balik sebuah jendela kayu yang usang, aroma kopi yang lembut menguar, menyambut siapa saja yang mendekat. Di dalam kedai, seorang pria tua dengan ramah menyapa pengunjung. Pria itu bernama Rudi, namun lebih dikenal dengan sapaan Mbah Ndut.

Kedai kopi itu, yang bernama Hamur Mbah Ndut, memiliki gaya arsitektur Kolonial Belanda yang khas. Lantainya terasa dingin, jendelanya menjulang tinggi, dan lampu-lampu temaram menciptakan suasana yang hangat dan mengundang. Kedai ini menjadi persinggahan favorit bagi para wisatawan yang menjelajahi Kampung Kayutangan Heritage.

Bacaan Lainnya

Mbah Ndut, dengan senyum khas warga Malang, selalu menyapa setiap orang yang melintas di depan kedaiknya. Di kampung ini, namanya lebih dikenal daripada nama aslinya. Kedai kopi ini menempati sebuah rumah tua peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1923. Bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad ini masih berdiri kokoh.

Rudi memilih untuk mempertahankan keaslian rumah tersebut. Baginya, setiap sudut rumah menyimpan cerita tersendiri. “Rumah ini adalah saksi bisu kehidupan keluarga saya,” ujarnya dengan nada pelan, sambil sesekali memandang lemari tua yang berada di sudut ruangan.

Lemari itu bukan sekadar perabot biasa. Di dalamnya tersimpan koleksi gelas-gelas antik milik ibunya. Foto-foto keluarga lama dan berbagai benda hiasan menempel erat di dinding, memenuhi seluruh ruangan. “Hampir tidak ada yang saya ubah. Semua hiasan dinding ini sudah ada sejak zaman orang tua saya menempati rumah ini,” jelasnya.

Hamur Mbah Ndut mulai beroperasi pada tahun 2018. Pada saat itu, Kampung Kayutangan Heritage belum seramai seperti sekarang. Namun, Rudi memiliki keyakinan bahwa suatu hari nanti, kawasan ini akan kembali hidup dan dikunjungi oleh banyak orang yang ingin mengenal Malang dari sisi sejarahnya.

“Kami buka tahun 2018, sempat tutup pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Kemudian, usaha ini dilanjutkan oleh anak saya dan buka kembali pada tahun 2023 hingga sekarang. Alhamdulillah, Kampung Kayutangan sudah semakin dikenal,” ungkapnya.

Pengunjung datang dan pergi silih berganti. Beberapa di antaranya sengaja mampir untuk menikmati secangkir kopi, sementara yang lain berhenti hanya untuk mengambil gambar dan mengabadikan bangunan kuno tersebut. Tak jarang pula, para pengunjung akhirnya betah duduk berlama-lama, terlibat dalam obrolan yang hangat dan mengalir bersama Mbah Ndut.

Sebagai seorang yang dibesarkan di Kampung Kayutangan, Rudi sangat memahami sejarah dan cerita di balik setiap sudut kampung ini. Ia mengetahui segala hal tentang Kayutangan tempo dulu, tentang rumah-rumah kolonial yang berjajar rapi, dan tentang kehidupan warga Malang pada masa lampau. Obrolan seringkali berlangsung panjang, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.

“Saya dibesarkan di lingkungan ini. Jika ada yang ingin tahu ceritanya, saya akan menceritakan apa yang saya tahu, berbagi cerita sejarah yang menyenangkan,” kata Mbah Ndut sambil tersenyum.

Awalnya, menu di kedai kopi ini sangat sederhana, hanya kopi tubruk yang menjadi sajian utama. Namun, setelah dikelola oleh anaknya, menu-menu baru mulai ditambahkan, disesuaikan dengan selera anak muda.

Berbagai minuman seperti es kopi, aneka olahan susu, cokelat, dan minuman bersoda kini tersedia. Tak hanya itu, makanan ringan dan berat juga turut melengkapi daftar menu yang semakin beragam.

“Dulu memang hanya ada kopi tubruk. Tapi sekarang pengunjung sudah semakin ramai, jadi menunya disesuaikan dengan selera anak muda,” ujarnya.

Namun, bagi Rudi, kebahagiaan tidak hanya terletak pada kedai yang selalu ramai. Lebih dari itu, ia merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berbagi cerita dan menjaga ingatan akan masa lalu agar tidak hilang ditelan zaman.

“Harapan saya, semoga Kampung Kayutangan Heritage ini tetap hidup. Menjadi tujuan wisata sejarah di Kota Malang yang tetap terawat sampai nanti,” pungkasnya.

Pos terkait