Pertandingan akbar antara Inter Milan dan Juventus dalam lanjutan Liga Italia musim ini baru saja usai, namun sorotan publik justru tertuju pada sosok wasit yang memimpin jalannya laga, Federico La Penna. Keputusan-keputusannya yang kontroversial, terutama di momen krusial, telah menimbulkan perdebatan sengit dan pertanyaan besar mengenai penunjukannya untuk sebuah pertandingan dengan kaliber dan tensi setinggi itu.
Keanehan muncul ketika Federico La Penna, seorang wasit yang belum mengantongi lencana UEFA dan FIFA, ditunjuk untuk memimpin duel antara dua raksasa Serie A yang selalu menyita perhatian jutaan pasang mata di seluruh dunia. Biasanya, pertandingan dengan rivalitas tinggi dan risiko besar seperti ini dipercayakan kepada wasit-wasit yang telah memiliki jam terbang di kancah internasional, baik di level Eropa maupun dunia.
Meskipun La Penna telah mencatatkan 96 pertandingan di Serie A dalam daftar riwayat kariernya, statusnya masih tergolong sebagai “wasit domestik”. Ia belum pernah mendapatkan kesempatan untuk memimpin pertandingan di level elite Eropa. Sebelum pertandingan dimulai, memang sudah berhembus keraguan mengenai kemampuannya. Rekam jejaknya minim pertandingan besar, kecuali satu duel Inter Milan melawan Napoli pada tahun 2024, yang ironisnya juga diwarnai oleh insiden rasial yang melibatkan Francesco Acerbi dan Juan Jesus. Di kancah internasional, La Penna memang sudah mulai terlibat dengan UEFA dan FIFA sejak tahun lalu, namun perannya terbatas sebagai Video Assistant Referee (VAR).
Nasi sudah menjadi bubur. Penunjukan La Penna pada akhirnya justru mencoreng reputasi Asosiasi Wasit Italia (AIA). Wasit berusia 42 tahun asal Roma ini membuat sebuah blunder fatal yang tidak hanya memengaruhi hasil akhir pertandingan, tetapi juga menggemparkan seluruh negeri.
Puncak kontroversi terjadi ketika La Penna memberikan kartu kuning kedua yang berujung pada kartu merah kepada Pierre Kalulu, pemain Juventus. Keputusan ini diambil setelah La Penna menganggap Kalulu melakukan pelanggaran terhadap bek Inter Milan, Alessandro Bastoni. Namun, rekaman pertandingan menunjukkan dengan jelas bahwa Bastoni melakukan aksi diving, dan La Penna tertipu oleh akting tersebut, meskipun insiden itu terjadi tepat di depan matanya.
Kritik tajam datang dari berbagai pihak, termasuk mantan bek dan direktur Juventus, Giorgio Chiellini. “Ini mengecewakan, jelas sekali La Penna tidak sanggup memimpin pertandingan sebesar ini,” kecam Chiellini, menyoroti ketidakmampuan sang wasit dalam mengelola momen krusial.
Menyadari keseriusan insiden tersebut, Gianluca Rocchi, penunjuk wasit Liga Italia, akhirnya mengakui bahwa Federico La Penna telah melakukan kesalahan. “Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk insiden tersebut,” ujar Rocchi. Ia menambahkan, “Untuk keputusan La Penna, yang jelas keliru, dan untuk ketidakmampuan menggunakan VAR untuk memastikan keputusan tersebut.”
Namun, pertanyaan besar tetap mengemuka: mengapa Rocchi tetap menunjuk La Penna untuk laga sepenting Inter Milan vs Juventus, apalagi jika latar belakang kariernya sudah menimbulkan keraguan? Situs Calciomercato mengungkap alasan di balik keputusan kontroversial ini.
Rocchi ternyata memiliki agenda untuk memberikan kesempatan kepada La Penna. Ia menilai performa La Penna mengalami peningkatan signifikan pada kompetisi musim 2025-2026. Jika La Penna mampu membuktikan diri dalam pertandingan sebesar Inter vs Juventus, kariernya diharapkan akan melesat, menjadikannya calon wasit UEFA-FIFA berikutnya dari Italia.
Selain itu, Rocchi juga memilih La Penna karena wasit kelahiran 7 Agustus 1983 ini dinilai memiliki karakteristik permainan yang mirip dengan Daniele Doveri. Doveri saat ini dianggap sebagai salah satu wasit terbaik di Italia, bahkan menerima anugerah Wasit Terbaik Serie A 2024-2025. Gaya kepemimpinan Doveri adalah berusaha meminimalisasi penggunaan peluit, sehingga menciptakan alur pertandingan yang lebih mengalir dan waktu efektif yang lebih lama. Rocchi berharap La Penna dapat meniru gaya tersebut, menjadikan laga Inter Milan kontra Juventus berjalan lebih efektif dan minim gangguan.
Alih-alih membuat kariernya menanjak, blunder fatal dalam laga Inter Milan vs Juventus ini justru berpotensi mengubur semua kerja keras La Penna dalam membangun reputasinya sepanjang musim. Laporan dari Gazzetta dan Repubblica mengindikasikan bahwa La Penna kemungkinan besar akan “ditepikan” oleh AIA untuk jangka waktu yang tidak sebentar.
Setelah menjalani sanksi larangan memimpin pertandingan selama beberapa pekan, ada kemungkinan La Penna akan diturunkan untuk memimpin laga di Serie B. Alternatif lain adalah ia akan kembali bertugas sebagai VAR dalam pertandingan Serie A di kemudian hari. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi ambisi La Penna untuk naik level ke kancah internasional dan menjadi refleksi dari pentingnya ketelitian dan pengalaman dalam memimpin pertandingan sepak bola di level tertinggi.
Ringkasan Berita TKA 2026 untuk Siswa SD dan SMP Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kembali…
– Aktor Ammar Zoni baru saja menghadiri sidang terkait kasus narkoba yang sedang menimpanya. Dalam…
Skema Kredit Motor Listrik Polytron 2026: Pilihan Ramah Lingkungan dengan Cicilan Terjangkau Polytron menjadi salah…
Harga Emas Batangan Antam Turun Pada Senin (23/3/2026) Harga emas batangan bersertifikat dari Logam Mulia…
Lokasi dan Keunikan Stasiun Garut Stasiun Garut merupakan salah satu titik penting dalam sistem transportasi…
Silaturahmi Idulfitri: Suku Togutil Turun Gunung, Jalin Persaudaraan dengan Warga Halmahera Perayaan Idulfitri di pedalaman…