Akses Pasar China untuk Afrika: Kebijakan Bebas Tarif Tingkatkan Peluang Ekspor dan Kolaborasi Ekonomi
Pemerintah China baru-baru ini mengumumkan kebijakan pembebasan tarif nol persen untuk hampir seluruh produk dari 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Beijing. Langkah strategis ini, yang akan mulai berlaku efektif pada 1 Mei 2026, merupakan perluasan dari skema preferensi yang telah ada sebelumnya, memperluas cakupan negara-negara berkembang di Afrika yang kini mendapatkan akses bebas bea masuk ke pasar Tiongkok. Sebelumnya, pada tahun 2024, sekitar 97-98 persen pos tarif telah dibebaskan untuk negara-negara kurang berkembang, dan kini fasilitas ini diperluas untuk mencakup lebih banyak negara.
Kebijakan ini tidak berlaku bagi Eswatini karena negara tersebut masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Memperluas Akses Ekspor Afrika ke Pasar Tiongkok
Melalui skema baru ini, hampir seluruh produk dari 53 negara Afrika kini dapat memasuki pasar Tiongkok tanpa dibebani bea masuk. Perluasan ini memberikan keuntungan yang lebih luas dibandingkan fasilitas serupa yang sebelumnya hanya dinikmati oleh negara-negara kurang berkembang. Dampak positifnya sudah mulai terlihat, terutama di sektor pertanian.
Para pelaku industri di Afrika menyambut baik kebijakan ini. Kepala Eksekutif Dewan Teh Kenya, Willy Mutai, memperkirakan bahwa penghapusan tarif akan menjadi dorongan signifikan bagi ekspor teh Kenya ke Tiongkok. Ia memproyeksikan volume ekspor teh Kenya dapat meningkat drastis dari 4 juta kilogram pada tahun lalu menjadi 20 juta kilogram pada tahun 2027, bahkan berpotensi mencapai 50 juta kilogram pada tahun 2030. Peningkatan volume ekspor ini diperkirakan akan memicu persaingan yang lebih ketat, memberikan peluang bagi petani untuk mendapatkan harga yang lebih baik dalam lelang teh jenis crush, tear, curl. Sementara itu, produsen teh orthodox diprediksi dapat meningkatkan pendapatan mereka setidaknya sebesar 1 dolar AS per kilogram, yang merupakan peningkatan sekitar 35 persen dari harga lelang rata-rata saat ini.
Organisasi alpukat Kenya juga menyambut kebijakan ini sebagai peluang untuk meningkatkan volume ekspor dan pendapatan petani. Saat ini, industri alpukat tengah melakukan penyesuaian standar produksi untuk memenuhi persyaratan ketat Tiongkok terkait pengendalian hama dan kadar bahan kering.
Memperkuat Kerjasama Ekonomi Tiongkok dan Afrika
Langkah bebas tarif ini merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang Tiongkok untuk meningkatkan nilai perdagangan dan mempererat kolaborasi ekonomi dengan benua Afrika. Ke depannya, rencana ini akan diiringi dengan pembentukan perjanjian kemitraan ekonomi bersama dan berbagai inisiatif lain yang bertujuan untuk mempermudah proses perdagangan.
Interaksi di tingkat pejabat tinggi terus berlangsung untuk memperdalam kerjasama ini. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Tiongkok untuk membahas isu-isu perdagangan. Dalam pertemuan Komisi Bersama Ekonomi dan Perdagangan, Menteri Perdagangan, Industri, dan Persaingan Afrika Selatan, Parks Tau, bersama dengan Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao, menandatangani kerangka kerja sama non-binding. Dengan penandatanganan ini, Afrika Selatan menjadi negara Afrika ke-33 yang berhasil menyelesaikan kerangka kerja sama serupa.
Selain itu, negosiasi Perjanjian Panen Awal ditargetkan selesai pada Maret 2026. Setelah disepakati, ekspor dari Afrika Selatan akan langsung mendapatkan fasilitas bebas tarif ke pasar Tiongkok.

Menjaga Pasokan Bahan Baku Strategis untuk Industri Tiongkok
Benua Afrika terus menjadi sumber utama pasokan bahan mentah bagi industri Tiongkok, mencakup komoditas vital seperti minyak mentah, tembaga, kobalt, hingga bijih besi. Pada tahun 2023, komoditas-komoditas ini menyumbang sekitar 40 persen dari total impor Tiongkok dari negara-negara kurang berkembang di Afrika, diikuti oleh bahan baku non-makanan dan barang setengah jadi.
Dengan adanya fasilitas bebas tarif, arus pasokan bahan mentah ke Tiongkok dapat berjalan tanpa tambahan bea masuk. Periode Januari hingga Agustus 2025 mencatat peningkatan impor Tiongkok dari Afrika sebesar 2,3 persen, mencapai 81,25 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor Tiongkok ke Afrika melonjak tajam sebesar 24,7 persen, mencapai 140,79 miliar dolar AS.
Tiongkok juga terus meningkatkan pasokan panel surya ke Afrika. Dalam periode Juli 2024 hingga Juni 2025, kapasitas panel surya yang dikirim ke Afrika mencapai 15.032 megawatt, menunjukkan peningkatan sebesar 60 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Memperkuat Posisi Geopolitik Tiongkok di Global South
Pendekatan bebas tarif yang diterapkan Tiongkok berbeda secara signifikan dari program perdagangan yang ditawarkan oleh negara-negara Barat. Skema Everything But Arms milik Uni Eropa, misalnya, hanya memberikan pembebasan bea bagi negara-negara kurang berkembang, sementara negara lain harus melalui proses negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi.
Sementara itu, Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA) dari Amerika Serikat menyediakan akses bebas bea dengan cakupan yang lebih selektif, bersifat sementara, dan dapat dihentikan sewaktu-waktu. Tawaran Tiongkok yang mencakup lebih banyak negara dan tidak disertai persyaratan serupa, menjadi daya tarik tersendiri di tengah tren proteksionisme global yang semakin meningkat.
Lebih lanjut, Tiongkok berencana untuk memperluas program green channel atau saluran hijau. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan prosedur kepabeanan dan memangkas hambatan logistik bagi para eksportir Afrika. Langkah ini secara efektif memperkuat kehadiran dan pengaruh Beijing di kalangan negara-negara Global South.

Mendorong Pembangunan Bersama dan Menekan Defisit Perdagangan
Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membantu negara-negara Afrika meningkatkan volume ekspor mereka, memperdalam partisipasi dalam rantai nilai global, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Beijing juga menegaskan komitmennya untuk menyediakan dana khusus dan berbagai produk keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Afrika.
Selama delapan bulan pertama tahun 2025, defisit perdagangan Afrika terhadap Tiongkok tercatat sebesar 59,55 miliar dolar AS, mendekati angka sepanjang tahun 2024 yang mencapai 61,93 miliar dolar AS. Penghapusan tarif ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor dari negara-negara Afrika, sehingga kesenjangan defisit perdagangan tersebut dapat berkurang secara signifikan.
Pendiri sekaligus direktur Jaringan Ekonomi Antar Wilayah di Kenya, James Shikwati, berpendapat bahwa kebijakan ini mengirimkan pesan penting bagi negara-negara Afrika mengenai arah pasar global. “Ini mengirimkan sinyal jelas ke Afrika bahwa, meskipun proteksionisme meningkat di tempat lain, pasar China tetap terbuka dengan tarif nol,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini pada akhirnya akan sangat bergantung pada kesiapan negara-negara Afrika, termasuk pemahaman mereka terhadap struktur dan permintaan pasar Tiongkok, serta partisipasi aktif dalam pameran dagang di negara tersebut.







