Categories: Berita

Peringatan Santo/Santa Pelindung 16 Februari 2026

Kisah Onesimus: Dari Budak yang Melarikan Diri Menjadi Pelayan Setia dan Martir

Setiap tanggal 16 Februari, umat Kristiani mengenang dan memperingati kehidupan para kudus yang telah memberikan teladan iman. Salah satu sosok yang patut dicatat dalam sejarah gereja adalah Onesimus. Namanya, yang berasal dari bahasa Yunani, Onesimos, memiliki makna mendalam: “yang berguna,” “yang membawa keuntungan,” atau “yang bermanfaat.” Namun, perjalanan hidup Onesimus jauh dari makna positif namanya di awal. Ia adalah seorang budak yang melayani Filemon di Kolose, sebuah kota di wilayah Phrygia, Asia Kecil.

Kehidupan Onesimus sebagai budak tidak berjalan mulus. Ia terlibat dalam sebuah tindakan kecurangan terhadap majikannya, Filemon. Akibat perbuatannya, rasa takut mendorongnya untuk melarikan diri. Tujuannya adalah Roma, sebuah kota besar yang mungkin menawarkan anonimitas dan kesempatan untuk bersembunyi.

Pertemuan yang Mengubah Hidup di Roma

Di tengah pelariannya di Roma, takdir mempertemukan Onesimus dengan Rasul Paulus. Pertemuan ini menjadi titik balik monumental dalam kehidupannya. Paulus, dengan kesabaran dan pemahaman yang mendalam, tidak menghakimi Onesimus atas masa lalunya. Sebaliknya, ia dengan penuh kasih mengajarinya tentang kebenaran iman Kristiani.

Melalui bimbingan Paulus, Onesimus mulai memahami ajaran Yesus Kristus. Ia dibaptis dan menjadi pengikut setia Kristus. Perlakuan Paulus yang penuh kasih dan penerimaan tanpa syarat ini menyentuh hati Onesimus. Ia tergerak untuk tidak hanya menjadi pelayan Paulus, tetapi juga seorang pengikut Yesus yang setia.

Surat Paulus untuk Filemon: Jembatan Rekonsiliasi

Sementara itu, Filemon, majikan Onesimus, adalah seorang tokoh yang dihormati di Kolose. Ia sendiri adalah seorang Kristen yang dibaptis oleh Paulus dan rumahnya menjadi pusat pertemuan serta perkumpulan umat Kristen di bawah pimpinan Paulus.

Mengetahui situasi Onesimus dan ingin mendamaikannya dengan Filemon, Paulus mengambil langkah luar biasa. Ia menulis sepucuk surat kepada Filemon, yang disampaikan melalui muridnya, Tikhikus. Surat ini bukan sekadar permintaan biasa, melainkan sebuah permohonan yang menggugah hati.

Dalam suratnya, Paulus dengan penuh kebijaksanaan meminta Filemon untuk menerima kembali Onesimus. Namun, bukan sebagai budak lagi, melainkan sebagai saudara yang terkasih dalam Kristus. Permohonan ini disambut Filemon dengan sukacita, didorong oleh rasa hormatnya yang mendalam kepada Paulus.

Tindakan Paulus ini menunjukkan kedalaman kasih dan pemahamannya. Ia tidak hanya berusaha mendamaikan Onesimus dan Filemon secara lahiriah, tetapi juga mengajari mereka tentang makna kasih Kristus yang mendalam, luas, dan tinggi. Paulus berharap agar Filemon memberikan kebebasan kepada Onesimus, dan Onesimus sendiri kembali kepada Paulus.

Onesimus Menjadi Pelayan Injil dan Uskup

Pengalaman ini tampaknya semakin menguatkan Onesimus dalam imannya. Berdasarkan tradisi yang diwariskan oleh Santo Hieronimus, Onesimus tidak berhenti menjadi pelayan Paulus. Ia kemudian bangkit menjadi seorang pengkhotbah yang gigih dan penyebar ajaran Kristiani.

Perjalanan Onesimus membawanya ke jenjang kepemimpinan gereja. Ia diyakini kemudian menjadi seorang uskup, kemungkinan besar di Efesus, menggantikan Santo Timotius. Keberhasilan Onesimus dalam menyebarkan iman dan memimpin jemaat menarik perhatian pihak berwenang Romawi.

Perjuangan dan Kesyahidan yang Tragis

Karena kesuksesannya dalam membangun komunitas Kristen, Onesimus ditangkap. Ia disiksa dengan kejam dan kemudian dikirim kepada Tertulus, seorang Gubernur Romawi. Di penjara, Onesimus mengalami penahanan selama 18 hari.

Setelah dibebaskan, semangat Onesimus tidak padam. Ia melanjutkan misinya, mengunjungi Ponzales, dan kembali mengajar serta berkhotbah. Banyak orang terpesona oleh ajarannya dan menerima baptisan.

Namun, keberhasilan ini kembali menarik perhatian Tertulus. Kali ini, Onesimus dipaksa untuk menyembah dewa-dewa kafir Romawi. Dengan tegas, Onesimus menolak untuk mengingkari imannya. Penolakannya berujung pada siksaan yang mengerikan. Tangan dan kakinya dipotong, lalu ia dirajam hingga meninggal dunia dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Onesimus wafat sebagai seorang martir, memberikan kesaksian terakhir tentang imannya.

Santo Porforios: Pelayan yang Berani Berkorban

Selain Onesimus, tanggal 16 Februari juga memperingati Santo Porforios. Ia adalah seorang pelayan yang berusia 18 tahun. Keberaniannya muncul ketika ia meminta izin untuk menguburkan jenazah para martir di Kaisarea, Palestina.

Permintaannya ini dianggap sebagai tindakan yang menentang otoritas saat itu. Akibatnya, Porforios disiksa dengan kejam. Ia kemudian dikubur hidup-hidup bersama dengan umat Kristen lainnya pada tahun 310 Masehi. Kisahnya menjadi pengingat akan pengorbanan para pelayan muda yang setia pada imannya di masa-masa sulit.

Redaksi

Recent Posts

Perang Iran Dorong Negara Timur Tengah Gunakan Rudal Murah Korea

Perang di Timur Tengah Mengubah Dinamika Ekspor Senjata Korea Selatan Perang antara Iran dengan Amerika…

38 menit ago

Pelatih Madura United Percaya Bisa Kalahkan Borneo FC: Tim Tampil Hebat

Kondisi Madura United Membaik Jelang Lawan Borneo FC Pelatih caretaker Madura United, Rakhmat Basuki, menyatakan…

50 menit ago

Fundamental Perbankan OJK Tetap Solid Meski Outlook Direvisi

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan penegasan bahwa fondasi industri perbankan nasional tetap…

50 menit ago

Kecelakaan di Jayapura: Truk Terbalik, 2 Korban Pingsan

Kecelakaan Maut di Jalan Raya Abepura-Sentani Pada hari Minggu (19/4/2026) pagi, sebuah kecelakaan serius terjadi…

1 jam ago

Industri Big Data Berkembang Cepat, UNM Siapkan Pendidikan Sesuai Kebutuhan Pasar

JAKARTA - Transformasi digital terus mengubah wajah industri modern. Salah satu pilar utama dalam pengambilan…

1 jam ago

Kebahagiaan Pernikahan Berubah Jadi Duka, Tuan Rumah Tewas Dianiaya Preman

Tragedi di Pesta Pernikahan Purwakarta Suasana bahagia pernikahan di Purwakarta berubah menjadi duka, setelah tuan…

2 jam ago