Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini, mulai Senin hingga Jumat, 9–13 Februari 2026, diprediksi akan diwarnai dengan volatilitas. Tren pelemahan terbatas diperkirakan akan mendominasi, seiring sikap kehati-hatian investor yang masih tinggi. Faktor-faktor global dan domestik menjadi pemicu utama ketidakpastian ini.
Imam Gunadi, seorang Analis Ekuitas dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menguraikan bahwa tingginya tingkat kehati-hatian investor dipicu oleh sejumlah sentimen. Mulai dari dinamika geopolitik yang terus berkembang, arah kebijakan moneter global yang menjadi perhatian utama, hingga dampak lanjutan dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s.
Menurut proyeksi Imam, IHSG akan bergerak dalam rentang support di level 7.716 dan resistance di angka 8.207. Tekanan yang dihadapi pasar tercermin jelas dari kinerja IHSG pada pekan sebelumnya, yang mengalami koreksi cukup dalam.
Salah satu pemberat pergerakan pasar adalah sorotan dari Moody’s. Lembaga pemeringkat internasional ini menyoroti beberapa risiko fiskal yang dihadapi Indonesia. Di antaranya adalah potensi pelebaran belanja sosial yang tidak terkendali, basis penerimaan negara yang dinilai masih lemah, serta adanya ketidakjelasan terkait tata kelola dan mandat sovereign wealth fund (SWF) bernama Danantara yang bertugas mengelola aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam jumlah besar.
Imam Gunadi menjelaskan bahwa eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan memiliki potensi untuk menekan stabilitas makroekonomi Indonesia. Situasi ini akan semakin mengkhawatirkan jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat dari pemerintah.
Selain itu, fokus investor juga akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik yang krusial. Data penjualan ritel untuk periode Desember 2025 dan data penjualan mobil pada Januari 2026 akan menjadi indikator penting untuk mengukur ketahanan konsumsi masyarakat di awal tahun 2026.
Selama sepekan terakhir, IHSG memang menunjukkan koreksi yang cukup signifikan, terperosok sebesar 4,73 persen hingga mencapai level 7.935. Koreksi ini turut diiringi dengan arus dana asing yang keluar (outflow) dari pasar reguler, mencapai angka Rp 1,2 triliun. Salah satu sentimen negatif yang turut memicu pelemahan ini adalah ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI mengindikasikan bahwa Indonesia berpotensi diturunkan statusnya menjadi frontier market apabila tidak mampu memenuhi permintaan terkait transparansi kepemilikan saham.
Dari kancah global, perhatian investor saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan bahwa pembicaraan tidak langsung antara kedua negara, yang dimediasi oleh Oman di Muscat, berjalan dengan sangat baik. Pernyataan ini membuka peluang untuk pertemuan lanjutan yang mungkin terjadi pada awal pekan ini.
Iran pun turut memberikan sinyal positif, menyatakan bahwa perundingan awal berjalan dengan baik, menunjukkan upaya untuk meredam ketegangan dan menghindari eskalasi konflik militer. Namun demikian, risiko geopolitik secara umum dinilai masih tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh pemberlakuan sanksi baru oleh AS terhadap ekspor minyak Iran serta meningkatnya tensi di kawasan Teluk Persia.
IPOT memperkirakan peluang eskalasi konflik terbatas di wilayah maritim masih terbuka lebar, meskipun jalur diplomasi terus diupayakan.
Di sisi lain, meredanya ketegangan dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan India memberikan sentimen positif bagi pasar global. Penghapusan tarif tambahan dan penurunan tarif resiprokal antara kedua negara besar ini dinilai akan memberikan dampak positif bagi perekonomian kawasan, termasuk Indonesia, mengingat India merupakan salah satu mitra dagang utama bagi Indonesia.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari keputusan Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Meskipun demikian, Moody’s masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2.
Namun, di tengah tekanan tersebut, muncul pula sentimen positif yang signifikan. Data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 tercatat solid, mencapai 5,11 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, ekspansi sektor jasa yang terus berlanjut, serta lonjakan belanja modal pemerintah yang memberikan stimulus positif.
Data pertumbuhan ekonomi yang solid ini menjadi penopang utama yang diharapkan dapat membatasi kedalaman koreksi pasar. Memasuki pekan ini, investor juga akan mencermati rilis data ekonomi penting lainnya.
Imam Gunadi menambahkan bahwa data-data tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek, terutama di tengah kondisi pasar global yang masih diliputi volatilitas tinggi.
Mengatasi Depresi di Tempat Kerja dengan Tips yang Efektif Dalam lingkungan kerja yang serba cepat…
Pasar Segar Sepaku: Transformasi Pusat Perdagangan di Kawasan IKN Pasar Segar Sepaku, yang berada di…
Jose Mourinho Kembali Masuk Radar Real Madrid Jose Mourinho kembali menjadi sorotan di dunia sepak…
Laga Persiraja Banda Aceh vs Garudayaksa FC di Pegadaian Championship 2025/2026 Kick Off pertandingan lanjutan…
Kasus Asusila di Bandar Lampung: Dua Pria Terlibat dalam Perbuatan Tak Senonoh terhadap Remaja Di…
Peningkatan Aktivitas Pedagang Saat Perayaan Paskah di Palangka Raya Di kawasan Pemakaman Kristen Jalan Tjilik…